• HOME
  • ABOUT
  • THOUGHTS
  • TRAVEL STORIES
  • CONTACT
Instagram LinkedIn Facebook Twitter Pinterest Tumblr

Ashila Ramadhani

// 04.07.14 \\

Yang hanya saya tau
Waktu terus berjalan
Meninggalkan
Menemukan
Tanpa menghiraukan

Yang hanya saya tau
Waktu terus berjalan
Meninggalkan kesan
Menyiratkan pesan
Bersamaan

Ada hal yang kita tinggalkan
Namun banyak pula yang didapatkan
Menemukan yang baru
Juga kehilangan
Lumrah....

Mungkin ada hal yang tak dapat dilupakan
Berhenti di satu keadaan, tidak ikut pergi bersama waktu yang berjalan

Kenangan....

Bersama hal-hal tertentu
Bersama orang-orang tersayang

Kenangan ada untuk dirasakan, bukan dilupakan
Begitupun yang saat ini masih tetap diam di sana

Saya ingin selalu melihatmu berdiri di sana
Tetap menjadi kenangan
Tak pudar
Sebagai bukti saya pernah melewati hari-hari itu
Menjalaninya
Bersamamu.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Hey look at this. I will tell you about this game. It's a game you MUST be playing on. It's a biggest game, sophisticated game, named Life. Noted: this game consists of several stages.

Real life is the game that –literally– everyone is playing. But it can be tough, fun, hard, or anything. It depends on how you put your time into the right things.

It starts when you’re assigned a random character and circumstances. And you would find most things (like the best jobs, possessions, and partners) are locked until you get some. This is the time to level up your skills and quality. You will never have so much time. Now you must play it properly. Your top priority is to assign your time as well as possible.

I thought that everyone would  definitely feel this stage of the game;
When every single thing you do would affect your next stage, your fate.
When you start thinking that your next stage is more important than everything you have been through.
It's when you would feel worry about everything that is uncertain. You worry and think a lot 'bout your future. What will it bring?


And I'm on this stage of the game, now.......

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Semua berlangsung cepat. Tumbuh dan tertata rapih bak tanaman di depan teras itu.

Ketika sore ia membuka pintu, tampak bertaburan warna warni indah dari bunga yang baru saja merekah. Cerah, ceria. Hanya memandangnya saja pun ia bahagia. Ternyata, hari itu sedang musim semi. Pantas saja. Semua terlihat indah.

Hari berganti hari. Nampaknya keindahan itu tak berlangsung lama. Perlahan bunga-bunga itu melayu. Seiring waktu. Satu persatu.

Ia memandangnya. Tampak sedikit kecewa. "Mengapa sangat cepat..." pikirnya. Namun bagaimana pun, itu adalah bunga. Di mana tanpa diminta ia akan melayu, namun akan menggantinya dengan yang baru. Tentunya membutuhkan waktu.

Mungkin waktu yang membuat bunga-bunga itu istimewa, karena akan selalu ditunggu oleh sang pemujanya. Ya, ia pemuja bunga-bunga itu.

Mungkin kecewa, tapi ia akan tetap menunggu sampai bunga-bunga itu kembali merekah, memancarkan warna cerah.

Tak ada yang bisa disalahkan memang, mengapa bunga itu dapat layu. Namun itulah siklus. Memang harus begitu adanya. Mungkin agar ia bisa lebih menikmati (juga menghargai?) ketika saatnya bunga itu kembali berwarna.

----------------------
28/03/15
Ketika merasa tersakiti. Namun tak ada apapun yang bisa disalahkan. Murni karena (mungkin) kesalahan pribadi, yang dikalahkan oleh nafsu. Ya, ia tak pandai menjaga hati dan membawa diri.

Namun ia tersadar, bahwa ia berada di dunia. Tempat di mana semua hal tidak kekal. Tempat di mana akan ada satu juta kemungkinan. Tempat di mana semua makhluk berkumpul, tentunya yang memiliki perbedaan di setiap aspek. Ia pun tak bisa menyalahkan siapa pun, apa pun.

Lalu, ia harus pergi ke mana?

Share
Tweet
Pin
Share
2 comments

Gausah pake introduction, langsung aja deh ah hahaha

Passion? Sampai saat ini gue masih bingung dan belum paham mengenai makna passion itu sendiri. Sering menyebut, sering mendengar, padahal sebenarnya kurang paham hahaha makanya kali ini gue ingin berbagi kesoktauan gue dan juga share beberapa hal yang menurut gue....inikah passion?

Tapi sebelumnyaaaa, izinkan gue bercerita singkat terlebih dahulu. Hehehe

-----

Semenjak SMP (mungkin sejak SD), pilihan hidup gue terpaku oleh pilihan Ayah. Tapi gak semua sih, cuma pilihan-pilihan penting yang menurut gue sangat berpengaruh ke masa depan aja. Contohnya pilihan sekolah. Masuk SMP, dipilihin. Masuk SMA, dipilihin. Padahal gue menginginkan sekali untuk bisa masuk ke salah satu SMA idaman gue. Tapi apa daya, Ayah kekeuh banget buat masukin gue ke SMA pilihannya, yaitu SMA 3. Kemudian, pilihan jurusan pun dia yang memilihkan. Orang tua mana yang gak mau anaknya masuk ke jurusan IPA? Mungkin cuma Ayah gue hahaha walhasil, masuklah gue ke IPS.

Berlanjut ke masa-masa pemilihan universitas dan jurusan kuliah. Lagi-lagi......dipilihkan. Mulai dari Universitasnya sampai dengan pilihan jurusan. Walau saat itu kita juga berkompromi sih, tapi tetep aja, kayaknya 70% atas dasar pilihan beliau hahaha gue sih nurut aja.

Sempet satu hari gue tanya, "yah kok aku ga dianjurin masuk IPA? Trs kenapa Ayah rajin banget nyatetin semua jurusan2 di UI dan UGM trs nyoret2in mana yg gak pas buat aku?" Trs dia cuma jawab "Yaa, Ayah kan udah tau gimana karaktermu dari kecil, apa passion-mu. Jadi ayah coba pilihin yg pas. Biar kamu enjoy jalaninnya" Dan yaudah. Setelah itu selesai, ga ada pertanyaan lagi. Gue cuma yakin kalau Ayah gue udah paham banget karakter dan passion (yang gue masih ga ngerti artinya apa) anaknya dan bakal milihin yang terbaik. Gue sih nurut aja sebagai anak yang baik hahahaha

Lalu tibalah saatnya gue diterima di salah satu Universitas, sebut saja UI, di jurusan Humas a.k.a Public Relations, a.k.a PR a.k.a jurusan yang dipilihin Ayah gue. Pada awalnya gue pun masih bingung ini jurusan nanti bakal belajar apa aja, dll dsb. Tapiiiii, yang bikin amaze adalah gue sangat enjoy ngejalaninnya! Gue suka! Trs gue langsung teringat apa yang Ayah gue katakan hahaha emang omongan orang tua harus diturutin :') Tapi emang menurut gue, Ayah gue itu perhatian banget orangnya. Detail gitu, dan bisa membaca karakter anak. Semoga nurun ke gue nantinya hahaha

Intinya, gue suka banget. Gue bahagia. Tugas akhir pun gue tulis dengan rasa senang dan mood yang menurut gue stabil dari awal penulisan sampai sidang. Padahal harus cari data sampai ke Solo. Tapi seneng aja gitu rasanya. Entah mengapa. Hahaha Alhamdulillah yah

Dan sampai saat ini pun, gue bekerja di bidang yang sama, yaitu PR. Gue menjadi salah satu Public Relations di salah satu perusahaan, sebut saja Lock&Lock hahaha gimana rasanya? Entahlah. Gue merasa sangat bahagia, senang, 3 bulan berasa 3 minggu hahaha ya gak bisa dideskripsiin. Padahal capek, tapi enaaaaaaaaaaaaaakkkk aja gitu rasanya. Gue pingin apa yang gue kerjakan itu memiliki hasil yang baik. Yaa mungkin bisa dibilang perfectionist. Gue pun ga ngeluh aja gitu kalau lembur atau harus bekerja di hari Sabtu dan Minggu ketika ada event dll. Ya begitulah.


Sampai suatu hari gue bertanya ke diri sendiri "Apa ini yang namanya passion? Apa ini jawaban atas arahan-arahan Ayah gue waktu itu yang beliau bilang 'sesuai dengan karakter dan passion'?"


Well, mungkin iya, mungkin ngga. Karena gue sendiri pun masih gak paham-paham banget definisi kongkret dari passion itu sendiri.

Baiklah, mari kita telaah bersama! hahaha

Passion.

Menurut urbandictionary,
Passion is when you put more energy into something than is required to do it. It is more than just enthusiasm or excitement, passion is ambition that is materialized into action to put as much heart, mind body and soul into something as is possible.
Sedangkan menurut wiki (walau gue tau kalau kita gak boleh menjadikan wiki sebagai referensi, tapi yaudalah yhaa ini kan blog doang bukan TKA hahaha),

Passion (from the Latin verb patere meaning to suffer) is a very strong feeling about a person or thing. Passion is an intense emotion, compelling enthusiasm or desire for anything.
Passion may be a friendly or eager interest in or admiration for a proposal, cause, discovery, or activity or love – to a feeling of unusual excitement, enthusiasm or compelling emotion, a positive affinity or love, towards a subject. It is particularly used in the context of romance or sexual desire though it generally implies a deeper or more encompassing emotion than that implied by the term lust.
Gimana? Jadi sudah mengerti apa itu passion saudara-saudara? Kalau aku sih belum. *gubrak*

Tapi kalau merujuk ke difinisi passion di atas, mungkin sudah 80% gue menemukan passion gue. Di mana gue sangat enjoy menjalaninya, di mana gue mau aja gitu mencurahkan tenaga, pikiran, dan waktu gue hahaha. Tapi gue juga gamau menyimpulkan juga karena gue sendiri pun masih bingung what passion is. 

Well, kata passion yang gue pahami sampai sekarang (merujuk dari definisi di atas juga, sih), memiliki arti suatu kecintaan yang berasal dari hati, antusiasme, kesenangan, ability, dan kerelaan mengeluarkan energi yang lebih banyak untuk suatu hal, tanpa merasa hal itu menjadi beban untuk kita. Itu untuk satu objek tertentu yah. Sedangkan passion dalam hal "romance or sexual", yah maap gue belum cukup umur sekarang. Gue ga paham :)) wkwk

Jadiiii, kenapa sih kali ini gue mau menulis tentang passion? Itu karena passion ternyata sangat memengaruhi hal-hal yang kita lakukan dan merupakan salah satu kunci meraih goal di kehidupan kita ke depan. Pendapat itu sih pendapat gue pribadi yang berdasarkan pada beberapa artikel yang gue baca, juga beberapa orang yang menyimpulkan hal yang sama. Gak setuju? Silakan close tab aja hahaha



Mengapa passion penting? Seberapa penting passion itu?

Mungkin saat ini gue akan membahas hal-hal yang mungkin udah general dan orang-orang udah tau. Tapi di sini gue hanya ingin mengulang aja dan memberikan pandangan pribadi based on pengalaman yang gue alami.

Let's share!


Seperti definisi pribadi yang telah gue tuliskan di atas, maka hal-hal yang kita lakukan, jika sesuai dengan passion, kita akan dengan senang hati dan all out melakukannya. Gak bakal berasa beban, atau merasa capek. Mungkin capek, tapi capek yang menyenangkan dan memuaskan. Mungkin begitu.


Gimana sih cara nemuinnya? Passion itu muncul dengan sendirinya atau karena paparan lingkungan sehari-hari? Mungkin banyak yg tanya. Tapi menurut pendapat pribadi gue, passion itu muncul berdasarkan karakter yang terbentuk di diri kita sejak kecil. Karakter itu sendiri terbentuk karena lingkungan, dari kita bayi, sampai saat ini. Jadi, lingkungan sangat berpengaruh sih dalam menciptakan passion kita. Tapi, cara menyimpulkan karakter itulah yg sulit. Beruntung gue punya ayah yang bener-bener peka terhadap karakter gue.
Tapi gue pernah mendengar juga, passion itu bisa dibentuk lho. Jadi saat kita sudah menemukan hal yg kita suka, kita fokuskan dengan hal itu. Lama kelamaan, kita akan terbiasa dan dengan rela hati melakukan itu semua tanpa beban. Jadi bisa dibayangkan dong ya, bakal kayak apa hasilnya kalau kita melakukan dengan senang hati dan bergairan (wkwk). Maka dari itu, menurut gue, menemukan pekerjaan yang sesuai dengan karakter, apalagi passion itu penting banget!


Kenapa penting? 
Yaa karena se-pengalaman gue, oramg-orang yang memang bekerja sesuai dengan passion, mereka akan merasa sangat nyaman di sana. Selain itu, mungkin akan lebih tough dan tidak akan mudah terpengaruh hal-hal eksternal yang negatif. 
Bisa juga akan berpengaruh terhaap perkembangan karier yang pesat, karena orang yang bekerja sesuai passion (menurut yg gue baca dan contoh real yang gue liat
) akan terlihat 'aura'nya hahaha passion juga bisa menghindari dari kata bosen dan jenuh yang sebenarnya bisa menghambat karier hahahahah itulah kesoktauan gue berdasarkan pengamatan dan riset pribadi hahahhaha

jadiiiiii, skrg gue sedang berharap banget apa yang sedang gue lakukan dan jalankan saat ini adalah benar2 passion-nya gue hehehe semoga yang gue rasakan bukan hanya euphoria tahun awal masuk kerja hahaha 
Aamiiinn

Maka dari itu, yuk temukan passionmu biar semua hal yang dilakukan terasa menyenangkan!
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Hello! Happy New year!

Gue ingin berbagi nih..

Sedari dulu banyak sumber yang mengatakan bahwa dunia kuliah itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan dunia kerja. Saat itu, gue belum sampai ke pemahaman itu. Gue malah bertanya-tanya, "memang seperti apa sih?"

Sampai pada akhirnya gue merasakan sendiri dan berada di dalam dunia yang mereka bilang 'kejam' hahaha

Tanpa ingin menyudutkan atau mendiskreditkan orang-orang tertentu, gue ingin berbagi cerita.

Suatu hari Ayah gue pernah bilang kalau apa yang kita pelajari di kampus itu nantinya hanya 50-60% saja yang bisa diaplikasikan ketika sudah memasuki dunia kerja. Dan lagi-lagi, saat itu gue hanya bertanya-tanya, "apa iya?"

Jawabannya "iya."

Kebanyakan freshgrad memang masih idealis. Ga sedikit freshgrad yang menangis karena tekanan kerja. Bahkan banyak yang punya niat utk resign pada bulan2 awal bekerja. Gue pun dulu gitu, karna menurut gue , kita masih terbiasa dengan hal2 yang nyaman dan terkendali. Dengan hal2 yang memang 'sudah biasa'. Padahal kenyataannya, dunia kerja itu rumit. Kita ga bakal bisa mengendalikannya secara mulus sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Saat ini gue merasa sisi idealisme gue--yg notabene masih cukup kuat karena freshgrad haha--sangat tertantang. Di sini gue harus menemukan realita bahwa dunia sebenarnya bukanlah seperti dunia ideal yang selama ini bisa kita inginkan dan rencanakan. Di sinilah seseorang seharusnya bisa mulai merubah diri. Merubah diri seperti apa? Yg gue rasakan sih yaitu perubahan dalam hal "acceptance."

Sebenarnya, acceptance lah yang paling dilatih bagi semua orang yang baru memasuki dunia kerja, menurut gue.

Menerima jika dikritik
Menerima lingkungan yang gak selamanya bisa senyaman yang diinginkan
Menerima kenyataan bahwa dunia ini terdiri dari berbagai macam individu dari budaya yang berbeda. Bukan hanya suku, namun budaya lingkungan yang membesarkannya.
Menerima bahwa apa yang pada saat di perkuliahan kita anggap paling tepat, ternyata lain hal jika sudah di dunia kerja.
Menerima kalau ilmu yang bisa terpakai hanyalah 50-60% saja
Menerima untuk didikte dan dilatih untuk menerima.
Menerima bahwa di setiap perusahaan rata-rata setiap atasan adalah 'benar'. Ya seperti di perkuliahan saja. Kadang ada dosen yang punya aturan 'dosen selalu benar'
Menerima kalau marak terjadi kecemburuan sosial yang kata salah satu dosen gue disebut dengan "sikut-sikutan".
Menerima tipikal orang-orang yang kadang tidak sama perilakunya antara di depan dan di belakang.

Mungkin begitulah yang gue rasakan setelah gue masuk di dunia kerja selama 5 bulan (oh yeaaasshh ini baru 5 bulan dan gue sudah harus belajar menerima semua itu. Belum kebayang gimana tahun2 berikutnya) hahaha

Dari penerimaan itu, itulah yang bisa membuat perubahan di dalam diri. Apa saja? Bisa lebih work hard, sabar, bijaksana, dan lebih baik ke depannya. Lebih baik dalam hal bagaimana?
Begini.
Misalnya, lo punya atasan yang kurang friendly, jutek, dan seringkali memaksakan kehendak. Dari situ lo harus bisa belajar menerima, namun, lo harus mengambil sisi positifnya. Bagaimana? Lo sudah merasakan gimana gak enaknya diarahkan tapi sambil dijutekkin. Nah dari situ lo jadi bisa belajar bahwa di masa depan, jika lo udah sampai di posisi itu, lo gak bisa berperilaku seperti itu ke staff2 lo. Mungkin gambarannya seperti itu.

....

Jadi inti dari semuanya, saat ini gue masih dalam rangka memahami seluk beluk 'kehidupan', 'bersosial', dan 'orang dewasa' sebelum kelak gue menjadi orang dewasa yang sesungguhnya. (Sok banget hahaha)

Karena waktu berjalan maju, maka menurut gue, gue gak boleh menyia2kan itu dengan banyak mengeluh dan terlalu merasa2 seluruh keadaan yang gue rasakan. Yg ada malah gabisa struggle hehe anggap aja semua itu latihan. Ibarat naik gunung. Gak semua jalan ke puncak itu mulus, karena akan selalu ada tantangan di dalamnya.

Andddd....good luck, then!

Semoga kita semua bisa meraih mimpi dan cita-cita kita masing2 :)

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Sedikit intermezzo, saat ini gue sedang mencoba Blogger for Android. Mungkin udah lama keluar, tapi baru gue coba sekarang. Ternyata simple dan cukup mudah! *norak* hahaha Ya semoga saja aplikasi ini bisa semakin helpful saat gue lagi ngablu dan bingung harus menumpahkan isi kepala gue kemana hahaha tapi sorry2 aja kalau nanti bakal ada typo di mana2 karena gue ngetik pakai hp! Tapi ga ngaruh juga sih, siapa juga yang baca hahaha

Mari mulai....

Mungkin hari ini gue akan membahas lagi perihal self-esteem. Belum habis di kepala gue bahasan mengenai ini.

Gue pernah membaca di salah satu blog teman mengenai hal ini. Mengenai kepercayaan diri wanita akan dirinya yang seringkali luntur perihal kecakapan fisik dan menimbulkan suatu perasaan yang gue sebut dengan low-self-esteem.

Pernah gak lo semua menemukan seseorang yang seringkali mencemooh orang lain perihal penampilan fisiknya? Mungkin maksud hati hanya candaan, namun, hal-hal seperti itu sebenarnya dapat merusak mental seseorang secara tidak langsung dan dalam jangka panjang. Mungkin salah satunya adalah gue yang merasakan hal itu.

Seseorang yang sudah merasakan low-self-esteem tersebut menurut gue butuh waktu yang tidak sebentar untuk mengembalikan rasa percaya dirinya. Selain dorongan dari dirinya sendiri, dorongan dari lingkungan sekitar pun dibutuhkan. Intinya adalah, buat dia menyadari bahwa dia istimewa melalui kelebihan-kelebihan yang dia miliki.

Everyone is unique. Setiap orang tidak mungkin tidak memiliki potensi di dalam dirinya yang bisa dibanggakan dan membuatnya istimewa. Lingkungan sekitar harus bisa menyadarkannya akan hal itu. Selain itu, dorongan untuk mensyukuri apa yang telah dimilikinya itu lah yang terpenting.

Ya, bersyukur.

Menyadari bahwa banyak sekali orang-orang yang sebenarnya memiliki lebih cukup alasan untuk merasa dirinya 'kurang'. Menyadari bahwa Tuhan telah memberikan rizki, baik yang menempel di dalam diri manusia itu sendiri maupun faktor elsternal. Bersyukur adalah kunci kepercayaan diri menurut gue. Namun, untuk menyadari keharusan untuk bersyukur, harus dengan didukung oleh berbagai pihak, terutama keluarga dan sahabat terdekat.

Semoga orang-orang di luar sana, termasuk gue sendiri, bisa mulai menyadari seluruh rizki yang telah Tuhan berikan.

No more low-self-esteem. Lets others see our best-sides.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Cantik? Cantik itu seperti apa?

Mungkin saat ini banyak kalangan yang beranggapan bahwa canti itu seperti yang ditampilkan wanita-wanita di televisi. Tapi, lebih dari itu, sebenarnya definisi dari cantik menurut jiwa idealis gue ga sesempit itu.

Lalu seperti apa?

Jika bertanya kepadakaum pria, mungkin cantik itu adalah seperti yang terlihat di televisi. Rambut hitam tebal tergerai indah, kulit putih dan bersinar, hidung mancung, mata besar, dan postur yang proporsional.

Namun akan berbeda jika kita bertanya kepada kaum wanita. Mayoritas dari mereka pasti akan menjawab dengan jawaban ideal, seperti; cantik itu adalah bagaimana seseorang membawa diri, cantik terlihat dari kecerdasan seseorang, ataupun cantik adalah ketika seorang wanita  memiliki rasa percaya diri serta dapat merawat diri dengan baik.

Tidak percaya? Silakan melakukan percobaan. Gue bisa menyimpulkan hal tersebut, bukan karena gue pernah secara sengaja melakukan riset mengenai hal tersebut. Namun, kesimpulan itu datang berdasarkan referensi yang gue temukan--mungkin setiap hari--sampai saat ini.


Mengapa bisa ada perbedaan pandangan seperti itu?

Mungkin kalian pernah mendengar pendapat yang mengatakan bahwa pria memang diciptakan sebagai makhluk visual, sedangkan wanita diciptakan dengan visual-sense yang lebih lembut, serta lebih merasakan menggunakan hati. Menurut gue, ya, pendapat itu mungkin saja benar karena telah melalui proses penelitian panjang dan melibatkan banyak kalangan ahli. Atau mungkin saja, kaum wanita menjawab seperti itu karena mereka adalah wanita. Hahaha ngerti ga? Ok, now, lemme share my opinion (just my own opinion, no offense).

Perbedaan pendapat dan deskripsi "cantik" dari dua gender yang berbeda, menurut gue, disebabkan oleh banyak faktor. Faktor terbesar yang memengaruhi hal tersebut menurut gue adalah media yang ada di sekeliling kita. Setiap hari tidak ada di antara kita yang unconnected from the media. Setiap hari banyak sekali pesan-pesan, yang secara tidak sadar, masuk dan "melekat" di otak kita. Salah satunya adalah terpaan media mengenai penggambaran atau definisi "wanita cantik" secara umum.

Coba lihat. Hampir semua merek produk kecantikan menggunakan talent yang memiliki karakter fisik seperti yang digambarkan oleh kaum pria; rambut hitam tebal tergerai indah, kulit putih dan bersinar, hidung mancung, mata besar, dan postur yang proporsional. Jarang sekali--atau bahkan tidak ada--produk yang menampilkan talent berkebalikan dengan ciri-ciri tersebut. Kalaupun ada talent berkulit gelap, penggambaran pesannya akan tetap sama, yaitu gelap yang eksotis, punya mata indah, hidung mancung, rambut berkilau, dan bibir yang sempurna. Jika dideskripsikan ke dalam seorang figur, mungkin seperti Titi Rajo Bintang ataupun Beyonce. Namun, menurut gue, hanya sedikit pria yang mengatakan bahwa kedua figur tersebut cantik.

Hal-hal tersebut lah yang menurut gue merupakan penyebab adanya persepsi dan deskripsi "cantik" seperti yang sekarang tertanam di otak kita.

Mengapa demikian?

Seperti yang telah gue katakan sebelumnya, menurut hasil penelitian, pria adalah makhluk visual (terlampir), sedangkan wanita memiliki visual-sense yang lebih halus dibandingkan dengan pria. Based on that studies, didukung dengan terpaan media yang terus menerus mengirimkan pesan ke dalam otak kita, serta media-media yang mayoritas menggunakan media visual, maka terbentuklah persepsi dan definisi "wanita cantik" seperti yang beredar saat ini. Karena pria lebih menekankan pada sisi visual, dengan didukung oleh gambaran visual "wanita cantik" yang diberikan oleh media, maka terciptalah definisi cantik menurut pria. Sedangkan wanita, karena mereka menggunakan visual-sense secara lebih halus, maka terpaan media tersebut tidak terlampau memengaruhi definisi mereka. Namun sekali lagi, mungkin saja mereka memiliki definisi seperti itu, karena mereka adalah wanita hahaha sekali lagi, ngerti ga? Hmmm.

Berpaling dari analisis dan kesimpulan seadanya di atas, tak dapat dipungkiri bahwa satu hal pasti yang berkembang saat ini yaitu, cantik adalah seseorang yang memiliki rambut hitam tebal tergerai indah, kulit putih dan bersinar, hidung mancung, mata besar, dan postur yang proporsional. Persepsi nyata tersebut--yang menurut gue termasuk eksploitasi terhadap wanita--ternyata bisa memberikan dampak negatif, terutama bagi kaum wanita itu sendiri.

Saat ini berapa banyak wanita yang menginginkan dirinya "cantik" seperti yang dideskripsikan secara umum? Berapa banyak wanita yang terobsesi dengan "kecantikan" media dengan melakukan berbagai cara, seperti operasi pelastik, implant, dll? Dan.......berapa banyak wanita yang memiliki low self-esteem akibat dari definisi umum tersebut?

Mungkin salah satunya adalah gue. Entah mengapa, saat ini gue sedang sangat merasakan low self-esteem tersebut. Gue merasa tingkat kepercayaan diri gue luntur, tur, tur. Hahahaha. Mungkin gue terkena dampak dari definisi "cantik" yang sekarang sedang beredar. Atau mungkin ada faktor lain? Ya seperti yang kita ketahui bersama, gue ga memiliki karakter "wanita cantik" secara umum seperti yang "mereka" katakan. Jauh sih hehehe sebenarnya gue oun sedih, kenapa gue bisa sampai merasakan hal seperti ini. 

Menurut yang gue rasakan, dari low self-esteem ini bisa menyebar dan berdampak luas. Salah satu yang paling terlihat adalah "membandingkan". Seseorang dengan low self-esteem mengenai kecantikan--pada awalnya--, mereka akan selalu membandingkan dirinya dengan orang-orang disekitar. Begitu mereka tersadar kalau dirinya "tertinggal", semakin lama akan semakin menyebar luas. Hmm begini, mungkin pada awalnya mereka hanya merasa rendah diri dalam hal rupa fisik dengan lingkungan sekitar, namun, ketika melihat lebih jauh lagi, muncul-lah berbagai statement dan faktor-faktor lain yang semakin memperburuk self-esteem mereka. Bisa dalam hal kemampuan, pengalaman, pencapaian, atau apapun itu. Gue juga bingung sih apa yang harus gue lakukan kalau udah kayak gitu hahahaha

Yaudalah segitu aja. Ntar makin ngelantur!

Bye!


Appendix:
"In men, the dominat perceptual sense is vision, which is typically not the case with women. All of woman's sense are, in some respects, more finely tuned than those of a man."
"....Women are not excited by a picture of male genitalia by itself. Men like female genital close-ups in porn magazines because it is a thing to which they can imagine doing things."
(http://www.netnanny.com/learn_center/article/165/)

The other article says:
"The emotion control center of the brain, the amygdalam shows significantly higher levels of activation in males viewing sexual visual stimuli than females viewing the same images, according to a Center for Behavioral Neuroscience study led by Emory University psychologists Stephan Hamann and Kim Wallen. The finding, which appears in the Aprill edition of "Nature Neuroscience," demonstrates how men and women process visual sexual stimuli differently, and it may explain gender variations in reproductive behavior."
(http://www.sciencedaily.com/releases /2004/03/040316072953.htm)


ps; selain dari ke dua link di atas, gue pernah mendapatkan materi mengenai ini dalam mata kuliah Sosiologi Komunikasi, pada semester 3, dengan dosen bernama Dra. Rosy Tri Pagiwati, MA.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Halo...

Baru gue sadari kalau ternyata udah lamaaaaaaaa banget ga nuangin semua curahan hati ke sini. Maklum, tahun 2014 merupakan tahun yang hectic. Di tahun ini GUE LULUS KULIAH! Yeaaaay! Sekarang nama gue udah ada embel2nya. Yaa, walaupun masih A.Md, tapi semua butuh proses hihihi

Sebenernya banyak banget hal yang ingin gue bagi di sini selama satu tahun terakhir. Dari mulai pengalaman selama TKA, pikiran2 aneh, pertanyaan2 ga penting, pengalaman bahagia, ataupun kerinduan. Tapi bingung juga kalau harus nulis semua satu persatu. Karena kebanyakan, semua cuma bisa sampai di otak aja, ga bisa gue jabarkan ke dalam kata2. Hahaha. Padahal pingin banget. Berbagi. Nulis. Luapin emosi. Tapi ya apa daya, terlalu sibuk sepertinya wkwkwk

Mungkin mulai sekarang akan gue mula coba lagi menulis. Karena sebenarnya, menulis punya banyak manfaat dan gue memang cukup suka menulis. Yaa, semoga aja berikutnya gue ga males hahaha

See u!
Share
Tweet
Pin
Share
2 comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Hi, I'm Ashila Ramadhani, and welcome to my blog. Most of my previous posts were filled with my random thoughts, poems, and life-stories, but I'm trying to make this blog more meaningful :p from now on, I will fill it with my other (useful) thougts, my life-changing-experiences, my artworks, and my traveling experiences. Enjoy it!

Get Connected

  • LinkedIn
  • Facebook
  • Pinterest
  • Instagram

Categories

  • thoughts

recent posts

INSTAGRAM

@ashilaramadhani

Blog Archive

  • ▼  2025 (2)
    • ▼  July (2)
      • Tak Jadi Hujan
      • Ruang yang Tak Jadi Apa-Apa
  • ►  2024 (1)
    • ►  December (1)
  • ►  2016 (10)
    • ►  October (2)
    • ►  June (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
  • ►  2015 (21)
    • ►  December (2)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (3)
    • ►  February (2)
  • ►  2014 (3)
    • ►  December (3)
  • ►  2013 (14)
    • ►  November (2)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (2)
    • ►  March (3)
    • ►  February (3)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (5)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  February (1)
  • ►  2011 (6)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (2)

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates