• HOME
  • ABOUT
  • THOUGHTS
  • TRAVEL STORIES
  • CONTACT
Instagram LinkedIn Facebook Twitter Pinterest Tumblr

Ashila Ramadhani

Catatan kecil, 7 Juli 2015.

________________________________

Hidup memang tak pernah lepas dari segala keuinikannya, naik-turun serta berputar, yang membuat hidup itu sendiri menjadi sangat beragam warna.

________________________________

Beberapa bulan terakhir saya seringkali memperhatikan jalanan pulang yang setiap hari saya lalui. Saya menemukan bahwa ada banyak--mungkin lebih dari sepuluh--pemulung, baik seorang diri maupun bersama keluarga, di sepanjang jalan Margonda Raya, Depok. Mereka semua benar-benar terlihat kompak, dengan atribut karung yang saya tidak tahu apa saja isinya, serta tikar beragam jenis dan warna yang sudah tergelar rapih (yang barangkali) untuk menemani mereka tidur. Jarak antara satu pemulung dengan yang lainnya pun tidak berjauhan, kira-kira hanya sekitar 5-10 meter. Depok di malam hari pun berubah menjadi pertunjukan kehidupan yang dramatis.

Dari banyaknya pemulung yang saya temui itu, beragam aktivitas dapat terekam. Ada yang sudah terlelap tidur, ada yang sedang bersenda gurau dengan keluarga, ada yang sedang menyusui anaknya, dan ada pula yang sedang lahap menikmati makan malamnya. Dari yang saya lihat, semua terlihat bahagia, di luar dari keadaan pelik yang setiap hari mereka rasakan.

Masih di lokasi yang sama, perhatian saya tertuju pada dua buah keluarga yang setiap malam selalu mengisi tempat itu, tidak pernah absen. Dua buah keluarga berbeda dengan tempat yang sedikit berjauhan, namun mereka selalu memancarkan keceriaan dan kehangatan yang sama.

Keluarga pertama berada di trotoar setelah perumahan elite Pesona Khayangan. Mereka berjumlah empat orang; satu bapak, satu ibu, dan dua orang anak laki-laki dan perempuan yang masih berusia balita dan anak-anak. Setiap malam ketika saya sedang melewati jalan itu, mereka hampir selalu sedang melakukan aktivitas yang sama, yaitu berbincang hangat dengan senyuman ringan yang selalu menyelimutinya. Mereka terlihat bahagia, seperti tak memimiliki beban yang harus dipikul. Padahal setiap malam mereka harus merasakan ketidaknyamanan tidur di pinggir jalan--Itu pun menurut opini saya yang memang belum pernah merasakannya--.

Tak jauh berbeda dengan keluarga ke dua. Ditemani dengan gerobak mungil dan alas tikar yang seadanya, keluarga itu terlihat santai menikmati malam sambil mengobrol dan bercanda dengan anggota keluarga sambil menyimpulkan senyuman. Terlihat hangat, juga menentramkan hati. Entah apa yang mereka bicarakan. Yang hanya saya tahu, mereka terlihat bahagia dan menikmati setiap detik waktunya :") tak ada kemewahan, apalagi gadget. Sungguh berbeda pemandangannya dengan realitas ibu kota di sudut yang lain.

________________________

Di sepanjang perjalanan saya pulang, memang banyak sekali pemandangan realita kehidupan ibu kota yang dapat ditemui. Rute yang cukup jauh dan menggunakan berbagai moda transportasi, mengharuskan saya untuk memperhatikan itu semua. Sebenarnya bisa banyak sekali pelajaran yang bisa diambil, salah satunya yang ingin saya tekankan di tulisan ini yaitu bersyukur.

Sudahkah saya bersyukur?

Ada yang pernah bercerita kepada saya bahwa sebenarnya hidup yang sedang kita jalani hari ini, adalah hidup yang sedang diidamkan oleh orang lain di dalam do'a-nya. Namun ternyata masih banyak orang yang selalu mengeluh dan merasa kurang dengan apa yang telah mereka dapatkan. Saya memahami memang tingkat kecukupan seseorang bersifat relatif. Akan tetapi, bersediakah kita merenung sejenak untuk mengingat dan mensyukuri setiap detik rizki yang telah Allah berikan kepada kita dan keluarga sampai saat ini?

Let's do self-talk!
Hemm. Saya boleh merasa kurang. Namun ketika orang lain ada di posisi saya saat ini, mungkin mereka bisa jadi merasa sangat-sangat bersyukur, karena memang 'yang begini' cerita hodup yang sedang mereka dambakan. Hem. Jadi sedih sendiri karena masih sering merasa kurang dengan apa yang sudah didapat. Padahal sebenarnya, seharusnya jiwa saya mendorong pikiran dan hati saya untuk selalj merasa cukup dengan apa yang sudah saya miliki saat ini. Masalah hidup yang lebih baik lagi, hanya tinggal perihal usaha yang dilakukan dan do'a yang dipanjatkan. Jika memang bersungguh-sungguh dan Allah mengijabah, hal itu pun akan mengiringinya. Ya, tho?

Yang penting adalah....... "Sudahkan kita  (dan saya) bersyukur?"

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Hidup itu pilihan.
Pilihan itu ada untuk menggiring kita ke arah hidup yang (mungkin) lebih baik.
Dan satu hal yang penting, memilih itu adalah hak asasi setiap manusia.

Jadi,

Apa ada yang salah dari memilih untuk meninggalkan?
Apa ada yang salah dari mencari hal yang lebih baik?

Sudah menjadi hak dan hakikat setiap manusia untuk selalu berusaha menjadikan hidup lebih berkualitas, dengan menemukan hal-hal yang lebih baik di setiap bidang kehidupan.
Jadi, apa ada yang salah dari meninggalkan hal yang baik untuk hal yang lebih baik? Toh manusia adalah makhluk egois, ya tho?

Sepertinya tidak salah. Wong tujuannya baik kan. Hehehe. Memangnya salah ya, meninggalkan pekerjaan lama untuk meniti karier yang lebih baik di pekerjaan yang baru? Kan tidak. Hem. Analoginya mungkin seperti itu.

Entahlah. Terkadang saya merasa amat sangat bingung, mungkin kadang muak, dengan aturan tak tertulis yang diberlakukan di kehidupan manusia.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Lama tidak berkuliah, saya pun rindu dengan tugas-tugas, terutama yang berhubungan dengan analisa. Saya juga merindukan masa-masa UAS, karena memang pada momen itu saya memiliki habit tersendiri.

Satu sampai dua minggu sebelumnya, saya biasanya sudah menyicil untuk belajar, baik merangkum, membaca catatan dari mata kuliah di kelas, atau pun berdiskusi dengan beberapa orang teman. Waktu berdiskusi pun merupakan waktu yang menyenangkan, karena saya memiliki teman diskusi yang asik, fun, kritis, namun paham perkembangan saat ini. Sebut saja mereka Hana, Hani, Nafira, para sahabat saya.

Kesibukan pekerjaan dan perkuliahan nampaknya membuat kami sudah jarang berkumpul dan (secara tidak disengaja akhirnya) berdiskusi. Mengenai apa pun. Paling hanya via grup chat saja, tapi itu pun intensitasnya tidak sering, lebih sering membahas hal-hal tidak penting--seperti jodoh hahaha--

Sejak beberapa minggu terakhir, saya sedang mengamati salah satu fenomena yang sedang menjadi hype saat ini, yaitu Go-Jek. Jika saya masih berkuliah, bisa saya pastikan akan ada banyak mata kuliah yang membahas dan memberikan tugas mengenai topik itu hahaha karena memang, kepopulerannya saat ini tidak terlepas dari keberhasilan program komunikasi dan pemasaran yang mereka lakukan.

Begitu pun jika saya masih sering berkumpul dengan para sahabat saya itu, pasti ada satu momen di mana kami sangat antusias membahas tentang hal itu haha belum lama saya sudah pernah sedikit membahas tentang hal ini sih dengan Nafira, tapi kurang puas hahaha nah, melalui media ini, saya ingin menyalurkan kerinduan saya akan berkuliah dan berdiskusi, juga 'kegatelan' saya untuk berkomentar mengenai salah satu brand yang sedang populer di masyarakat, yaitu Go-Jek.

Mari kita mulai!

Saya tekankan sebelumnya bahwa yang saya jabarkan di bawah ini tidak berdasar penelitian akurat juga teori-teori dari para ahli. Namun hanyalah berdasarkan hasil observasi dan wawancara serta ingatan pengetahuan yang selama ini saya dapat, baik dari perkuliahan, buku, maupun internet. Tau sendiri kan ingatan manusia seperti apa? Hahaha jadi sebenarnya tulisan ini sama sekali tidak bisa dibuktikan kredibilitasnya. Jangan dijadiin sumber info apa pun yaa hahaha :'D


Go-Jek.

Go-Jek adalah perusahaan layanan transportasi ojek sepeda motor yang mulai beroperasi sejak Februari 2011. Pada prinsipnya layanan Go-Jek layaknya ojek pada umumnya yang dengan kelincahannya bisa membawa penumpang menembus kemacetan lalu lintas Jakarta dengan cepat. Namun bedanya, menurut Kusnadi Mansyur, Operating Manager Go-Jek, jasa Go-Jek bisa dipesan melalui telepon, Facebook, ataupun Twitter, asalkan pemesan mencantumkan nomor teleponnya. (http://www.karbonjournal.org/focus/ojek-menyalip-go-jek-menyelip, diakses pada 28 Juli 2015, 12.28) Sedangkan, bila mengutip dari web resminya, Go-Jek adalah perusahaan berjiwa sosial yang memimpin revolusi industri transportasi Ojek. Go-Jek bermitra dengan para pengendara Ojek berpengalaman di Jakarta, Bandung, Bali & Surabaya dan menjadi solusi utama dalam pengiriman barang, pesan antar makanan, berbelanja, dan berpergian di tengah kemacetan.


Sisi Internal.

Dalam merekrut para driver-nya, Go-Jek memiliki beberapa prosedur pendaftaran. Hal ini saya ketahui dari beberapa kali melakukan wawanara informal dengan para driver dalam satu bulan ini.

Prosedur pertama, para driver harus memiliki SIM-C dan STNK resmi motor. Tahun motor pun tidak boleh kurang dari tahun 2010 (seingat saya). Para driver pun harus memiliki kesehatan mata yang baik, dan berusia tak lebih dari 50 tahun. Sebelum mendaftar, mereka diharuskan mengisi form pendaftaran dengan melampirkan fotokopi KTP, KK, SIM, dan STNK serta memberikan jaminan asli BPKB/Ijazah terakhir/KK/Akte Lahir/Buku Nikah untuk kemudian ditahan saat mereka menjadi driver.

Setelah itu, prosedur ke dua yaitu melakukan wawancara. Pertanyaan yang diajukan hanya satu, yaitu "Sedang bekerja atau tidak? Jika ya, apakah full-time atau part-time?" Berdasarkan wawancara, Go-Jek hanya bisa merekrut para driver yang tidak sedang bekerja, atau bekerja namun part-time. Menurut salah satu driver sih alasannya mungkin karena perusahaan juga tidak ingin dirugikan. Jika dia bekerja full-time, maka dia tidak bisa maksimal di dalam Go-Jek. Itu akan berdampak pada pendapatan Go-Jek itu sendiri (seperti yang diketahui, pembagian penghasilannya itu 80:20). Hehehe, analisa yang oke juga, bang! Namun, menurut salah satu berita di Liputan6, pihak perusahaan pun melakukan cek domisili, background check yaitu dengan menelpon istrinya untuk mengetahui kebenaran tempat tinggal, serta ada intervew perilaku. Saat menjadi driver pun, mereka akan terus dimonitor. Jika terdapat keluhan dari pelanggan, pihak perusahaan langsung memanggil driver yang bersangkutan dan mewawancarainya.

Prosedur ke tiga adalah cek kesehatan. Mata menjadi hal utama, karena merupakan indera paling penting untuk menjadi driver hahaha yaiyalah. Jika lulus, mereka harus mengikuti prosedur yang terakhir yaitu training dan workshop.

Proses training dan workshop ini dibagi menjadi beberapa kelas, antara lain pengenalan perusahaan, workshop safety riding, training cara melayani pelanggan dengan baik dan sopan, serta training penggunaan smartphone dan aplikasi mobile Go-Jek. Semua driver sih curhat gini "capek kak trainingnya uuugh ampe jam 9 malem dari jam 7 pagi" hahaha sabar yah bang.

Setelah training selesai, mereka baru diberikan smartphone (bagi yang belum punya), 2 jaket, 2 helm, dan perlengkapan untuk penumpang yaitu masker dan head cap. Mereka pun diberikan modal awal 100ribu untuk membeli bensin dan pulsa serta saldo di rekening CIMB Niaga-rekening ponsel- (lupa berapanya) untuk melayani jasa pick up food nya. Mereka juga bisa langsung mulai terima order saat itu juga. Kata semua driver yang saya wawancara sih prosesnya cepat dan profesional, hanya 2 hari. Dari yang saya dengar (dari curhatan mereka) pun, semuanya menguntungkan. Sang driver langsung semangat dan antusias gitu. Hahaha.


Saat telah resmi menjadi driver, mereka mendapat beberapa benefit, antara lain;
  1. Bonus 1. Jika berhasil mengangkut 10 penumpang dalam satu hari, mereka mendapat bonus dari perusahaan.
  2. Bonus 2. Para driver juga akan mendapat bonus sebesar 150ribu jika berhasil mengajak satu orang untuk menjadi driver baru Go-Jek.
  3. Sistem pembayaran 80:20 yang langsung dikredit ke rekening driver sesaat setelah selesai mengantar penumpang (jika penumpang memilih membayar menggunakan credit/corporate pin). Mereka pun jadi bisa mengambil hasilnya secara harian. Pakai rekening ponsel lagi, jadi mudah gaperlu menyimpan kartu ATM dan ngeluarin dompet pas ambil uang hehe
  4. Award. Menurut salah satu driver terrrr-asik yang pernah saya order, pihak Go-Jek secara rutin memberikan reward untuk driver dengan komentar positif terbanyak dan rating terbaik. Dan dia dapet itu! Wajar sih, asik banget, ramah bgt, baik banget. Mungkin karena masih nuda juga kali, yah haha
  5. Smartphone yang diberikan di awal dan dibayar dengan sistem cicilan selama 100 hari atau satu minggu. Besaran cicilan tergantung lamanya waktu.
  6. Asuransi jiwa jika terjadi kecelakaan.
  7. Training dan tes mengendarai motor dengan aman setiap 6 bulan sekali dari Polda (eh apa mana ya.... Hemm lupa hehehe
Hemm, bersedia untuk daftar Go-Jek, Mas&Mbak? Hehehe


Berdasarkan hal-hal tersebut saya melihat bahwa pihak Go-Jek sangat memperhatikan kepuasan pelanggan serta kesejahteraan karyawannya. Dari sisi kepuasan pelanggan, pemberian workshop dan training yang sedemikian rupa membuat para pelanggan menjadi merasa nyaman, puas, senang, dan ingin menggunakannya lagi dan lagi (termasuk saya hehehe). Sang driver menjadi sangat terbuka, namun tetap ramah dan sopan. Cara mengendarai motornya pun enak, gak ugal-ugalan, gak ngebut. Safe bgt deh! Hahahaha geli.

Kalau dari sisi driver, Go-Jek memberikan benefit sedemikian rupa agar mereka merasa nyaman dalam menjalani pekerjaannya. Karena jika mereka udah merasa nyaman dan in-to-GoJek banget (tsaelah), loyalitas driver pun menguat dan berdampak pada semangat sang driver untuk bekerja. Hal itu akan berbanding lurus dengan keuntungan yang akan didapatkan perusahaan :-) (btw jadi kangen kuliah bangeeetttt huhu)



Sisi Eksternal.

Masalah klise khas perkotaan, yaitu macet. Satu kata yang menjadi keseharian kota-kota di Indonesia, terutama ibukota Jakarta. Kemacetan yang menjadi momok terbesar ketika di perjalanan, sedikit teratasi dengan maraknya jasa ojek. Namun, tarif yang kadang "nembak" tepat ke dompet, sampai hal kecil terkait helm yang bau-nya hinggap sepanjang 'perboncengan', membuat jasa ojek yang bisa menjadi pilihan kerap dilupakan. Belum lagi beberapa 'bang ojek' yang mengendarai motornya dengan ugal-ugalan, semakin membuat orang berpikir dua kali untuk menggunakan jasanya, jika tidak sedang terpepet waktu.

Pada kelompok masyarakat lainnya, keengganan juga muncul karena terkadang mereka diharuskan berjalan cukup jauh terlebih dahulu untuk mencapai pangkalan dan mendapatkan ojek. Akhirnya, tidak sedikit juga yang lebih memilih menggunakan moda transportasi yang bisa menjemput ke rumah seperti taksi. Bertambah macetlah ibukota kita ini :) berdasarkan artikel yang saya baca, masalah kemacetan ibukota itulah yang menjadi salah satu lasan Nadiem Makarim, CEO Go-Jek Indonesia, dalam memulai bisnis ini. Selain itu, beliau juga peduli dengan cara yang para tukang ojek lakukan dalam mendapatkan penumpang yang menurutnya kurang efisien, yaitu dengan menggantungkan nasib pada tempat mangkal atau berkeliaran mencari penumpang di pinggir jalan dari pagi hingga larut malam.

Di sisi lain, kini sedang marak tren "BM" atau bisa disebut dengan 'ngidam' di kalangan masyarakat, khususnya anak muda (pendapat pribadi wkwk). Saya sendiri pun sering merasakannya hahaha tapi kebanyakan akhirnya saya urungkan karena rasa malas yang luar biasa untuk pergi ke tempat makan yang saya inginkan hahahaha kalau ngidamnya HokBen sih bisa delivery yah, tapi kalau ngidamnya Sushi Tei? Haha yang ada ngiler doang di rumah liatin gambar Salmon Hana Ikura yang seger banget hahaha di sini Go-Jek hadir untuk menjawab permasalahan itu, dengan menyediakan layanan untuk "membelikan" makanan yang kita mau dan langsung mengirimkannya ke rumah. Wihiiiii *mata berbinar*

Selain itu, Go-Jek juga bisa menjadi solusi bagi orang-orang pelupa seperti saya, perusahaan yang butuh jasa antar barang dalam waktu yang cepat, dan ibu-ibu yang sayang anak (?) "maksudnya?" iya, contohnya ibu saya ketika ingin mengantar masakan hari itu ke rumah Kakak saya tapi malas untuk pergi ke sana. Kami bisa menggunakan layanan pick up barang yang disediakan oleh Go-Jek hehehe praktis ya, semua menjadi mudah.


Why Go-Jek is becoming more and more and more popular nowadays?

Nah! Hal ini yang membuat saya geregetan ingin berkomentar, khususnya dari sudut komunikasi hehe tapi, analisa piyik saya akan saya jabarkan pada postingan berikutnya. Tunggu yaaa :D see ya! (kayak ada yangg baca aja wkwk)


Share
Tweet
Pin
Share
No comments
"Hidup tuh apa sih?"

Sering gak sih mikirin itu? Gue? Gabisa dihitung berapa kali gue punya pikiran kayak gitu dari SD sampai sekarang. Biasa, anaknya emang suka mikirin hal gak penting kayak, "kenapa sih daun dan pohon mayoritas warnanya hijau dan coklat?" or "kenapa sih manusia bentuknya gini?" wkwk.

Saat ini yang sedang gue pikirkan adalah hidup adalah suatu permainan yang sangaaaaaaattttt besar yang diciptakan oleh Allah. Mungkin game masa kini juga terinspirasi dari kehidupan ini kali yah, terutama The Sims. Hahaha.


Sebenarnya, yang gue pikirkan, hidup itu cuma ada 3 perkara;
Lahir
Hidup
Mati

dan dalam hidup kita akan bisa dipastikan merasakan ini;
Melihat kelahiran
Melihat kematian


Jadi, sebenarnya esensi real-nya seperti apa? Jika di dalam Agama, kita adalah orang-orang terpilih yang harus menjalani dan mengambil esensi kehidupan ini seperti yang telah tercantum di dalam kitab suci Al-Qur'an. Berbuat baik, bersedekah, mengejar pahala, dan ridha Allah. Tapi di luar itu, adakah esensi lain dari "mengapa aku harus menjalani kehidupan yang hanya perkara lahir-melihat kelahiran-hidup-melihat kematian-lalu mati ini?" Ya, mungkin usia gue masih muda jadi masih mempertanyakan hal-hal yang kayak gini hahaha untung dari gue kecil, Ayah dengan sabar dan bijaksana selalu menjawab segala pertanyaan "Kenapa" gue hahaha (walaupun ujungnya gak pernah puas dengan jawabannya wkwk) tapi semoga seiring berjalannya waktu, gue bisa mencari ilmu mengenai pertanyaan dan keingintahuan gue itu. Aamiin.

Hmmm. Mungkin ada satu hal lagi,

"Apakah setelah kiamat akan ada kehidupan baru lagi? Apakah sebelum periode kehidupan gue kali ini, ada periode hidup yang lain? Apakah kiamat hanya terjadi satu kali, atau sudah berkali-kali?"

Hehehe. Wallahu alam.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Hari ini, Rabu, 24 Juni 2014, 21.31, gerbong akhir, Commuter Line tujuan Bogor.

Satu minggu sudah bulan Ramadhan berlalu. Kesan? Sungguh berbeda. Sedih pada awalnya, namun ini termasuk salah satu fase kehidupan--yang mungkin semua orang akan merasakannya--.

Biasanya, sehabis buka puasa, rutinitas keluarga saya selalu membuka Al-Qur'an-nya masing2, melantunkan ayat-ayat Allah sembari menunggu waktu Isya tiba. 5 menit sebelum Adzan Isya dikumandangkan, kami--ayah-mama-saya-dan adik saya--, bergegas pergi ke Masjid untuk menunaikan shalat Isya yang disusul dengan Tarawih. Hampir rutin, jika memang saya tidak memiliki jadwal untuk berbuka puasa di luar. Nikmat rasanya. Sangat terasa sekali esensi dan euphoria bulan Ramadhan-nya. Karena hal itu, saya pun selalu menunggu-nunggu bulan Ramadhan, entah mengapa. Angin pun seperti menghembuskan udara yang berbeda di bulan suci ini.

----------

Hari Kamis lalu, tepat hari pertama Ramadhan.

Saya baru keluar kantor pukul 17.10 karena memang tidak ada kompensasi waktu pulang saat Ramadhan. Bergegas saya pulang karena berniat untuk shalat Tarawih di rumah. Namun sepertinya jalanan tidak mendukung (yah, jalanan Kuningan-Tebet memang tak pernah mendukung). Sehingga pada akhirnya, niat hanya tinggallah niat. Saya baru sampai rumah sekitar pukul 19.40, saat Masjid sedang ramai-ramainya dipenuhi oleh makmum yang ingin menunaikan ibadah Shalat Tarawih, saat sang imam sedang mengumandangkan ayat-ayat indah.

Masuk ke rumah, suasana berbeda. Sepi, terkunci, hening....... Hanya ada hidangan berbuka yang memang sudah disiapkan oleh Mama saya. Entah sedang melankolis atau memang masih adaptasi, seketika saya langsung merasa sedih.........

Sedih karena tidak bisa menyiapkan hidangan berbuka dan buka puasa bersama. Sedih karena tidak bisa Shalat Maghrib berjamaah. Sedih karena tidak bisa bersiap dan menuju Masjid bersama. Sedih karena.......tidak bisa menjalankan Tarawih bersama keluarga, apalagi pada hari itu terdengar jelas Ayah sedang memberikan kultum di sana. Tapi yang paling membuat saya merasa sedih adalah............pikiran-pikiran negatif yang membuat saya takut jika di tahun-tahun berikutnya saya tidak diizinkan lagi untuk menjalankan Ramadhan bersama orang tua. "Lalu, kapan lagi waktunya jika bukan tahun ini?"

Sontak saya pun langsung berkaca-kaca, menyadari bahwa betapa berharganya waktu. Saya harus bersyukur karena masih diizinkan menjalankan Ramadhan bersama di tahun-tahun sebelumnya, dan harus berusaha mengkualitaskan Ramadhan tahun ini bersama mereka.

----------
Entah lah tahun ini terasa sangat berbeda, mungkin karena baru kali pertama, belum terbiasa, dan belum bisa beradaptasi dengan keadaan baru yang sekarang. Cemen juga sih, gitu aja sedih, padahal kan "namanya juga hidup, berputar, ada siklusnya" hehehe untuk hari-hari dan tahun-tahun selanjutnya, Bismillah aja. Saya yakin ini hanya perihal waktu :")

Terima kasih yaAllah karena sudah mengizinkan saya untuk bisa merasakan kembali bulan Ramadhan di tahun ini.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Saya tidak bisa menyimpulkan. Saya pun juga tak mampu untuk memastikan. Namun apa yang saya perhatikan, segalanya seperti tak terelakkan. Ada apa gerangan yang sedang saya rasakan?

Saya dalam masa kebingungan, mungkin pula kegundahan. Segala yang saya inginkan, harus saya tahan sampai saatnya tiba dengan kesiapan. Kapan? Yang pasti sampai segala hal benar-benar sudah dipersiapkan.

Semoga semua dapat berjalan seperti yang selama ini saya dambakan.

Namun bilamana semua hal tak searah dengan yang telah diperjuangkan, yah apa boleh buat. Saya pun harus siap dengan segala kemungkinan dan mulai menyusun perencanaan lagi untuk masa depan yang kian dinantikan.

-Ashila, Sun, June 14th 2015. 02.30 A.M

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Kan belum? Kenapa udah ditulis?


Jadi gue akan mendedikasikan tulisan kali ini untuk kerinduan gue akan bulan Ramadhan. Kalian gitu juga gak sih? Jujur gue lagi kangen banget momen Ramadhan, momen iklan Marjan di TV, momen sinetron Mba Hana Mas Bram dan Hello Kitty, momen masak untuk buka puasa, momen silaturahmi sama semua orang, momen maghrib, momen lebaran, aaaahhh terlalu banyak momen yang bikin kangen saat Ramadhan :")


Rutinitas Ramadhan yang paling gue suka itu adalah masak! Cuma pas Ramadhan gue bisa meng-explore lebih jauh hobi gue dalam hal masak memasak hahaha setiap hari menunya beda dan bebas berkreasi dari menu-menu di majalah, mobile app, juga dari TV. Duuh suka banget deh.

Selain itu, gue juga suka momen belanja bahan masakannya hahaha entah kenapa kalau Ramadhan supermarket rasanya jadi beda haha karena biasanya status gue adalah pelajar, jadi banyak waktu luang buat belanja dan masak. Setiap abis Ashar, dimulai deh kegiatan dapur bareng nyokap gue. Biasanya nyokap gue yang nyiapin menu makan malam dan sahurnya, gue yang bikin menu buka puasanya, dan adek gue minumannya. Tradisi keluarga gue itu gapernah yang namanya buka puasa pakai menu "nasi". Jadi menunya ya seputaran menu "cemilan" gitu, kayak bakso, setup makaroni, spaghetti, makanan-makanan khas Solo, mie, bihun, makaroni schotel, dll. (Hahaha bagi keluarga gue yang namanya "cemilan" itu ya semua makanan selain nasi). Jadi gue sukaaaaaaa karena tiap hari bisa masak yang beda-beda dan banyak menu baru juga.

Nah kalau udah belanja dan masak lalala lilili, hal yang gue suka setelahnya yaitu ngajak temen-temen gue dateng ke rumah buat buka puasa bareng!! Soalnya pasti pada bilang "Shil kok enak sih!!" "Shil ajarinnn" atau "Shil udah buruan nikah aja" HAHAHAHAHAHAHA gatau seneng aja kalau udah masak trus orang-orang pada suka trus abis gak bersisa haha trus suka juga aja kalau pada main ke rumah, ngobrol2, trus tarawih bareng :"

Gue emang sukaaaa banget ketemu orang. Undangan bukber sangat gue nantikan setiap tahun. Malah kadang karena gue adalah "yes-girl", ampe pusing sendiri atur jadwalnya karena banyak yang bentrok wkwk (sok penting :p)

Huffftttt momen-momen kayak gitu yang bikin kangen Ramadhan banget. Momen bukberrr, masak, belanja, ngobrol2, cerita nostalgia sama temen-temen, foto-foto, ketawa2, tarawih bareng, subuh berjamaah, trus tayangan TV dan Radio yang spesifik banget euphorianya, huaaaahh bikin kangen. Gak kerasa sebentar lagi mau Ramadhan. Gue superrrr excited! Tapi sebenarnya ada satu hal yang sedang benar-benar gue pikirkan................

Ramadhan tahun ini, bakal jadi Ramadhan pertama gue sebagai seorang karyawan. Gue jadi kepikiran terus "Duh gimana yah rasanya?" "Duuuhh nanti buka puasa di jalan terus dong" "Duuhh nanti jarang bisa bukber sama temen-temen, gabisa belanja, gabisa masak". Begitulah kira-kira yang menghantui pikiran gue hahaha

Kayaknya tahun ini bakal beda banget deh rasanya T.T sedih.................................. (padahal belum dijalanin, tapi udah menyimpulkan. Kebiasaan haha)

Hmmmmmhhhh. Tapi gimana pun, semoga Ramadhan 2015 nanti gak seburuk yang gue bayangkan :") tapi sesungguhnya, jam pulang kantor gue saat Ramadhan itu gak ada perubahan. Tetep jam 5....... Sedih ga sih? Gue sih sedih banget............. hiks tapi Bismillah aja :")


Well, welcome Ramadhan! :)))

Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Halo!

Kali ini gue mau share pengalaman gue waktu ikut salah satu kompetisi kehumasan tahun lalu. Kayaknya nyaris setahun lalu. It's May 23-24 2014.

Kok kayaknya gaya banget ya ikut kompetisi? Hahaha.

Dari semester awal kuliah, gairah ikut kompetisi/lomba tentang komunikasi memang selalu ada. Namun semangat menggebu itu hanya bertahan sekitar 1-2 bulan saja, dan selebihnya......hanya berakhir menjadi wacana hahaha

Ada beberapa kompetisi komunikasi yang pingin banget gue ikutin, salah satunya event rutin Prodi Komunikasi UI, yaitu Pekan Komunikasi. Di event itu, untuk mahasiswa Humas, selalu ada kompetisi membuat paper tentang perencanaan program humas mengenai case study yang mereka berikan. Macem-macem tiap tahun, dan selalu menarik. Tapi kembali lagi, semua berakhir wacana heu awal-awal dibuka pendaftaran sih semangat berapi-api, ngajak salah satu temen buat ikutan, mulai research, berimajinasi, analisis, tapi gak daftar-daftar dan gak ditulis. Akhirnya batal deh ahaha mungkin salah satu faktornya dulu tugas-tugas yang padat kali yah (excuse :p)


Sampai pada akhirnyaaaaaaaaaa

Gue akhirnya berhasil mengikuti salah satu kompetisi kehumasan! Yeaay! Ada yang beda juga dari kompetisi ini, yaitu diselenggarakan untuk individu, tidak seperti kompetisi-kompetisi lain yang mensyaratkan untuk dikerjakan secara berkelompok.

Awalnya, gue tau informasi mengenai kompetisi ini karena lagi masa-masa pengerjaan Tugas Akhir. Tugas Akhir gue waktu itu tentang Humas Pariwisata Kota Solo (I'll write bout it later), kampung halaman orang tua haha jadiii, selama masa pengerjaan, salah satu aplikasi berita di Hp gue, gue setting pakai kata kunci #Solo #PariwisataSolo #HumasSolo #Humas #PublicRelations. Setiap hari selalu gue cek apakah ada berita terbaru/ngga. Yaa, siapa tau aja bisa dijadikan tambahan data.

Suatu hari pas lagi cek berita, ada salah satu berita dari portal berita lokal di Kota Solo mengenai kompetisi yang bernama PR Idol 2014. Gue pun penasaran dan baca tuh berita. "Kok beda ya kompetisinya." Mungkin itu pikiran gue. Akhirnya seperti biasa, gue pun menggebu-gebu ingin coba peruntungan ikut kompetisi itu, mumpung masih berstatus mahasiswa dan masih punya kesempatan ikut yang kayak gitu hahaha daripada nyesel :p

Kompetisi ini diselenggarakan oleh Universitas Negeri Solo bekerja sama dengan The Sunan Hotel Solo. Gue mikir, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Kompetisi ini diadain di Solo, yaa sekalian aja cari data-data TA yang kurang-kurang. Sekalian juga silaturahmi lagi sama nenek dan saudara-saudara lain di sana. Padahal itu H-7 HARI DEADLINE pengumpulan TA loh ahahaha bodo amat deh...


Tahap penyisihan awal itu gue harus membuat essay mengenai "Branding Solopos TV" yang notabene masih baru didirikan. Ternyata essay gue lolos dan masuk ke dalam 30 besar yang diundang ke The Sunan Hotel Solo untuk mengikuti seleksi tahap ke dua dan ke tiga.

Setelah pengumuman lolos itu, gue baru bilang ke orang tua kalau gue ingin melanjutkan kompetisi ini. Untungnya dikasih izin haha langsung dehhh wusshhhhh sampailah gue di Solo.

Mereka gak menyediakan penginapan, namun mereka suggest beberapa penginapan gitu untuk para peserta. Tapi gue lebih memilih untuk tinggal di rumah nenek gue hahaha


Sampai pada saatnya penyisihan tahap ke dua dimulai.

Pada tahap itu, para peserta diminta membuat mini proposal mengenai "Perencanaan Program Humas untuk Memperkuat Positioning The Sunan Hotel Solo." Semuanya dikasih brief sebanyak 3 lembar, berisi data-data mengenai The Sunan Hotel Solo, serta ketentuan dan peraturan pembuatan paper. Jika data dirasa kurang, kita boleh browsing dengan mencantumkan sumbernya. Waktu yang diberikan hanyalah 2 jam untuk membuat semuanya, yaitu Analisis Internal, Analisis Eksternal, Analisis SWOT, Strategi Program, juga Press Release. Karena mepet, akhirnya rilis pun hanya gue buat seadanya hahaha

Setelah itu, dilaksanakan Focus Group Discussion (FGD). Dari 30 peserta, dibagi menjadi 5 kelompok. Bahasan FGD saat itu adalah tentang political branding. Kelompok gue mendapat kasus mengenai Partai Golkar yang terpecah menjadi dua kubu, dan bagaimana memperbaiki citra-sebut saja Ical-yang notabene adalah ketua umum Partai itu dan sempat terlibat satu kasus yang sampai saat ini pun belum tuntas. Kami diminta untuk berdiskusi dan membuat strategi program untuk kasus yang diberikan. Sampailah pada saat yang lumayan bikin deg2an, yaitu presentasi. Hahaha. Untungnya presentasi itu bisa kami lalui dengan cukup mulusssssssss.

Beberapa saat setelah presentasi selesai, diumumkan 10 peserta yang berhasil lolos tahap ke dua dan berhak melanjutkan ke babak ke tiga. Alhamdulillah gue masukkk 10 besar hahaha agak gak nyangka juga sih, karena gue gak terlalu suka politik sesungguhnya hahaha 10 besar finalis itu diberikan "pekerjaan rumah" untuk dikerjakan dan dikirim via email maksimal pukul 12.00 hari itu juga. Kami semua diberikan brief mengenai crisis management. Topiknya yaitu mengembalikan citra (dan strategi customer relations) maskapai Garuda Indonesia perihal keterlambatan dan pembatalan penerbangan terkait bencana alam, yaitu meletusnya Gunung Kelud. Yang diminta masih sama, yaitu membuat mini proposal mengenai program PR yang tepat berikut press release-nya. Untuk kali ini gue bisa sedikit lebih tenang karena waktu yang disediakan lebih banyak hahaha yang membedakan tahap ini dengan tahap ke dua adalah, esok harinya kita akan melakukan company visit ke kantor Solopos dan diminta untuk melakukan simulasi press conference mengenai kasus tersebut. Jadi sok2an jadi PR nya Garuda beneran hahaha akan ada beberapa wartawan dari Solopos. Hingga akhirnya waktunya tiba...................... Gila! Deg2an banget hahahahhaha wartawannya kritis banget. Mintanya data blabla blibli. Untungnyaaaa sewaktu di kuliah dulu udah pernah juga sih ngelakuin simulasi press con kayak gini. Ditanya-tanya segala macem. Jadi ini bukan pengalaman pertama. Tapi tetep aja, yang tanya itu wartawan beneran hahahaha amsyong sama pertanyaannya haha tapi yaudah, nothing to lose.

Setelah company visit selesai, kita balik lagi ke Sunan Hotel. Ada seminar mengenai digital PR, makan siang, istirahat, dan hiburan. Dari tahap ke tiga itu, akan dipilih 5 orang kandidat yang akan maju ke depan untuk menjawab 2 buah pertanyaan yang diajukan oleh juri. Dan percaya gak percaya, gue lolos ahahahahaha gue pun heran, perasaan pas presscon jawabnya biasa aja, malah kayanya ada data yang salah huhu trus gue liat peserta lain tuh kayanya pada bagus-bagus dan passionate gitu. Tapi yaudah, mungkin gue sedang beruntung :")

Akhirnya gue pun maju dan mengambil undian yang berisi nama Juri yang akan memberikan gue pertanyaan. Jurinya itu ada 4, yaitu Mba Retno, PR Manager The Sunan Hotel Solo; Mba Febrianti Nadira, praktisi PR, dan juga Executive Vice President Corporate Secretary&Communication PT Mandiri Sekuritas; Sapto Adhi dari Rp7 Communications, dan Abdul Khamid dari Garuda Indonesia. Gue pun dapat pertanyaan dari Mba Retno dan Bapak Sapto. Tapi gue lupaaa pertanyaannya apa, pokoknya salah satunya ada mengenai digital PR dan optimalisasi media sosial bagi suatu perusahaan. Gue jawab based on ilmu yang gue dapat di kampus. Lagi-lagi, nothing to lose hahaha

Sampai pada saatnya pengumuman pemenang. Diumumin dari juara ke-tiga, dan.......... nama gue disebut :") gue meraih juara ke tigaaaaaaaaaaaaaaa kyaaaaaaaaaaaaa kok bisaaaaaaaaaaaaaa hahahhahaha beruntung bangetttttt padahal saingan gue dari UI ada 4 dari Unpad, Undip, Unair, UNS, dll dsb hahahaha ya lumayan lah buat bagus-bagusin CV sama buat bahan cerita pas gue interview kerja haha bersyukur banget sih, dan kayaknya emang gue sering banget dikasih keberuntungan sama Allah haha gatau ya, selama gue hidup, gue sering merasa beruntung :") Alhamdulillah yah.... Akhirnya gue pun pulangggg dan kembali berkutat dengan Tugas Akhir yang deadline pengumpulannya adalah 31 Mei 2014 (fyi, pas gue sampe Depok, it's already May 26 2014 :p gatau deh kenapa gue nyantai banget jadi orang...............................................)

Abdul Hadi (dulu dia juga kuliah di UI loh), Anggara (dia anaknya data dan fakta banget hahaha), dan gueeeee! (kalo dia anaknya nyantai tapi detail banget hahaha)

Dan dari kompetisi itu, lumayanlah nama gue ada di 4 berita ini ahahahah

1. http://soloevent.id/keunikan-5-finalis-pr-idol/
2. http://soloevent.id/3-juara-pr-idol-the-sunan-hotel/
3. http://komunikasi.fisip.uns.ac.id/?p=295
4. http://blog.thesunanhotelsolo.com/630/who-wants-to-be-a-public-relations-idol/

Semoga suatu hari nanti kalau ada kesempatan ikut kompetisi lagi, gue bisa ikut lagi dan gak cuma wacana hahaha karena ternyata seru banget!! Nambah temen banyakkkk, nambah pengalaman, nambah tingkat percaya diri, nambah deket sama Allah karena jadi berdoa mulu hahaha dan yang paling pentingggg nambah link2 oke!

Karena kompetisi ini juga, waktu itu gue pernah direkrut sama Mba Retno untuk join di agensi PR buatan dia dan teman-teman perhumas lainnya :") tapi sayang, waktu itu Ayah gue gak mengizinkan gue :") tapiiiiii, gue bersyukur banget aja jadi punya link2 orang2 keren! Hehehe :D Dadaaaaahhhh
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Hi, I'm Ashila Ramadhani, and welcome to my blog. Most of my previous posts were filled with my random thoughts, poems, and life-stories, but I'm trying to make this blog more meaningful :p from now on, I will fill it with my other (useful) thougts, my life-changing-experiences, my artworks, and my traveling experiences. Enjoy it!

Get Connected

  • LinkedIn
  • Facebook
  • Pinterest
  • Instagram

Categories

  • thoughts

recent posts

INSTAGRAM

@ashilaramadhani

Blog Archive

  • ▼  2025 (2)
    • ▼  July (2)
      • Tak Jadi Hujan
      • Ruang yang Tak Jadi Apa-Apa
  • ►  2024 (1)
    • ►  December (1)
  • ►  2016 (10)
    • ►  October (2)
    • ►  June (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
  • ►  2015 (21)
    • ►  December (2)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (3)
    • ►  February (2)
  • ►  2014 (3)
    • ►  December (3)
  • ►  2013 (14)
    • ►  November (2)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (2)
    • ►  March (3)
    • ►  February (3)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (5)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  February (1)
  • ►  2011 (6)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (2)

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates