• HOME
  • ABOUT
  • THOUGHTS
  • TRAVEL STORIES
  • CONTACT
Instagram LinkedIn Facebook Twitter Pinterest Tumblr

Ashila Ramadhani

photo source: http://indonesia.style.com/

Masih ingat video promosi Line Find Alumni tahun lalu? Dalam video tersebut ditampilkan kisah lanjutan dari film hits sepanjang masa, AADC. I think it's such a greattttt idea for both!

Mungkin sudah banyak sekali web, blog, paper, ataupun thesis yang membahas tentang hal ini. Tapi rasanya dari dulu tangan saya "gatal" ingin menuliskan analisa mengenai strategi komunikasi yang dilakukan oleh Line dan AADC tersebut. Berhubung saya tidak berkuliah lagi, walhasil media yang saya pikir tepat yaitu blog pribadi. Padahal jika saya masih berkuliah, strategi komunikasi itu sudah bisa dipastikan akan menjadi salah satu topik bahasan untuk paper beberapa mata kuliah tertentu hehehe

_____________________________________________

Line Find Alumni


Line Find Alumni adalah salah satu fitur dari aplikasi Line untuk 'bertemu' dan bernostalgia kembali dengan kerabat dan sahabat semasa sekolah, dari SD sampai Universitas. Melalui analisa fungsinya tersebut, dapat dilihat bahwa target utamanya yaitu usia remaja sampai dewasa; orang-orang yang sudah lulus sekolah cukup lama, para pekerja, mungkin berusia di atas 23 tahun. Bisa dibilang mereka adalah masyarakat dekade 80-90an.

Saat pertama kali diluncurkan, sepertinya fitur Line Find Alumni tersebut belum mendapat banyak sambutan. Saat saya pertama kali menggunakannya, hanya sedikit sekali teman-teman SD sampai SMA saya dulu yang sudah tergabung di fitur anyar tersebut. Namun, Line kemudian melakukan salah satu strategi komunikasi, yang menurut saya sangat cemerlang!

Untuk merebut awareness khalayak sasaran dari fitur Line Find Alumni tersebut, Line bekerja sama dengan Miles Films, pemilik hak cipta film AADC, untuk membuat seri lanjutannya dalam bentuk mini drama. Menurut saya, Line sangat jeli dalam melihat apa yang menjadi interest sang target dan bisa menjadi suatu 'gebrakan' untuk mereka. Gebrakan tersebut dihasilkan dari "pengawinan" interest si khalayak sasaran dengan fungsi dari fitur Line Find Alumni itu sendiri, Bagi generasi 80-90an, siapa sih yang tidak tau AADC?

Pada masanya, film AADC termasuk ke dalam film fenomenal dan juga merupakan revolusi perfilman Indonesia. AADC meraih 2,2 juta penonton kala itu. Saya bisa bertaruh, hampir semua orang 90an pasti tau film itu, walaupun belum semua menontonnya.

Kejelian ini rupanya bukan hanya dari pihak Line saja, menurut saya. Pada September 2015 lalu, pasti tau dong, ya, AADC telah resmi merilis trailer untuk film AADC 2 nya yang direncanakan akan tayang pada tahun ini. Wuiiiiih! Jadi, bisa dibayangkan ya bagaimana simbiosis mutualisme dicanangkan dalam kerja sama antara keduanya?

Sampai dengan 2015, pengguna Line di Indonesia mencapai lebih dari 30 juta, dan 74% penggunanya berada pada rentang usia 25-44 tahun (dailysocial.id, 11/14). Usia tersebut menurut saya adalah penonton mayoritas dari film AADC yang ditayangkan pada 2002. Jadi berpikir, kerjasama seperti apa ya yang mereka lakukan? Siapa yang mengajak kerja sama terlebih dahulu? Dan....mungkinkah kerja sama yang dilakukan hanya dalam bentuk barter, mengingat keduanya sama-sama sangat diuntungkan? Hehehe.

Kampanye tersebut bisa dibilang sangat berhasil dan mengagumkan mengingat tingginya respon yang diberikan oleh masyarakat Indonesia. Data pada 14 November 2014 (diambil dari mix.co.id), sepekan setelah kemunculannya, Line mendapatkan >250 pemberitaan online terkait fitur barunya, AADC, Dian Sastro, reuni, dan beberapa kata kunci terkait. Film berdurasi 10 menit itu pun juga meraih penonton sebanyak 3.542.531 pada hari ke tujuh perilisnya. Beberapa kata kunci tetsebut juga menjadi sangat populer di media sosial Twitter, yang mendapat cuitan sebanyak 150.394 tweets, dan 16.000 penyebutan di Instagram pada hari ke lima. (www.jagatreview.co.id, 11/14)

Keberhasilan ini tentunya juga didukung oleh para pemain AADC itu sendiri yang berperan sebagai key opinion leader, yang turut memromosikan mini drama tersebut melalui media sosial. Miles Film, sebagai pemilik film, juga Melly Goeslaw, sebagai penyanyi original soundtrack-nya, pun melakukan hal yang sama. Jadi gak heran yah kenapa sangat berhasil :")

Pendistribusian kampanyenya juga memaksimalkan beragam platform media, mulai dari digital sampai tradisional. Mulai dari Youtube, media sosial, TVC, Radio, hingga media cetak. Semua terintegerasi dengan baik, yang menimbulkan efek viral yang luar biasa.

Sepertinya segitu aja. Niat saya menulis di sini karena kekaguman saya dengan strategi komunikasi pemasaran yang dijalankan oleh keduanya. Pandangan yang tajam mengenai siapa target, kemudian dituangkan menlalui strategi yg tepat dan sangat paham apa yang menjadi interest mereka. Tindak lanjutnya, strategi itu kemudian dieksekusi dengan sangat apik melalui film pendek berkualitas yg bisa membuat semua penonton bernostalgia. Rangganya ganteng, Cintanya cantik bgt! Siapa gitu yang gak suka Dian Sastro? Saya aja naksir berat!!!!

_____________________________________________

Belajar analisa dari kemunculan film Star Wars juga yang telah lama padam, maka saat kemunculannya, karena mereka sudah memiliki para penggemar fanatik, maka akan menimbulkan huge attention, sekalipun tanpa diminta. Atensi yang awalnya hanya ada di benak penggemar, akhirnya menular ke lingkungan sekitar melalui word-of-mouth (WOM) dan berbagai kampanye, baik online maupun offline.

Orang Indonesia itu senang sekali bernostalgia. Lihat, berapa banyak orang di sekitar kita yang galaunya super lama? Yang setiap malam teringat mantan, baca sms, atau sekedar melihat-lihat foto lama? Untuk apa? Nostalgia. Iya, itu salah satu contoh yang bisa dijadikan analogi. (Hahaha kenapa harus itu...)

Contoh lainnya, sejak beberapa tahun lalu, euphoria "Nostalgia Generasi 90an" pun sedang hype! Berapa banyak buku Generasi 90an yang terjual? Berapa banyak akun-akun Instagram yang berjualan makanan lawas ala 90an? Berapa banyak event, baik skala kecil tingkat Universitas sampai skala nasional, yang menggunakan tema 'nostalgia'? Hufffttt, lihai banget yah Line melihat opportunity  yang terbilang sangat besar serta pola customer behavior saat itu. Pasti riset dan brainstorm-nya cukup lama deh, entah idenya muncul dari pihak Linenya sendiri, atau dari agency yang menagani kampanye itu hahaha (tapi sejauh yang saya baca, they did it by themselves, from brainstorming until producing (which also was helped by Line's head quarter in South Korea), and promoting. Amazing!)

_____________________________________________

Setelah kemunculan video minidrama AADC yang membuat heboh itu (iyalah, dulu saya dapat notification-nya pas saya lagi di kantor. Semua langsung heboh, langsung pause kerjanya, demi menonton minidrama itu. Malah, kita semua jadi 'nobar' bersama manager juga hahahaha), jadi banyak sekali yang mengenang cerita masa lalu, kisah pertemanan masa SD, SMP, SMA, ataupun kuliah saat film tersebut sedang booming2nya. Banyak pula yang menanti-nanti kelanjutan film AADC, termasuk saya, karena dulu masih abu-abu apakah itu benar merupakan teaser, atau hanya salah satu strategi tunggal dari pihak Line. Dan, karena menyentuh sisi emosionalnya, akhirnya banyak dari masyarakat Indonesia mulai menggunakan fitur Lind Find Alumni tersebut! Menurut data yang saya dapat, setelah dilakukan strategi kampanye itu, pengguna fitur Line Find Alumni meningkat tajam sebesar 700% sepekan pasca peluncuran kampanyenya! (mix.co.id, Desember 2014) Wuhuuuu such a really great marcomm strategy!

Dasar wong Endonsah! Suka banget yang namanya nostalgia dan berimajinasi. Hahaha. Mungkin harapannya, mereka bisa menemukan nama-nama gebetan (hehehe) mereka saat di sekolah dulu ya melalui fitur itu. Mungkin mereka berharap bisa seperti Rangga yg menemukan kembali Cintanya :p ya seperti lagu Chrisye lah ya, 'Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah. Tiada kisah paling indah, kisah-kasih di sekolah'

Setuju ndaaaaak????? Saya sih setuju sekali. Masa sekolah dulu adalah masa yang paling saya rindukan saat ini (maklum, orang Indonesia juga hahaha). Andai saja bisa memutar dan menyetop waktu... (jadi baper hahaha)

Aaaand anywaaayyyy, geat work!!! I always love LINE's communication campaign!!
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
photo source: http://www.bulgarianproperties.com/

No no no, saya bukan ingin menulis review tentang salah satu buku dari Ika Natassa yang berjudul sama dengan judul postingan saya kali ini. Namun, kali ini saya akan menulis mengenai that critical eleven dalam arti yang sebenarnya.

Critical eleven.

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat--tiga menit setelah take off  dan delapan menit sebelum landing--karena secara statistik, 80% kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger. Begitu kata-kata Ika Natassa pada sinopsis bukunya. Yap! That's right and it's that I will write here.

Actually I won't fully write bout this critical eleven sih, tapi sesungguhnya akan saya kaitkan dengan aspek tourism. Jadi gimana?

Siapa di sini yang suka naik pesawat? Mungkin saya akan angkat tangan paling cepat dan semangat jika ada yang bertanya demikian. Iya, saya suka sekali naik pesawat. And the most awesome moment is that critical eleven!

Mungkin banyak orang yang bahkan membenci momen critical eleven. Namun berbeda dengan saya. Saya amat sangat suka dan excited dengan momen ketika pesawat akan terbang dan mendarat! Sepertinya mata saya tidak akan pernah melepas pandangan dari pemandangan di luar jendela ketika momen 11 menit menyenangkan itu terjadi. It's awesome! (Norak ya? Atau lebay? Alay? You decide.)

Saat ini, jika ditanya alasan saya melakukan traveling salah satunya adalah agar saya naik pesawat. Hahaha sounds weird, uh? Yap, mungkin sebagian dari kalian menganggap saya aneh, atau bahkan norak haha but it's true. Momen naik pesawat, especially that awesome critical eleven, adalah salah satu alasan utama saya untuk melakukan perjalanan :))) apalagi jika saya melakukan perjalanan itu seorang diri. Saya makin suka!

Ada banyak hal yang bisa saya dapatkan dari perjalanan seorang diri itu, salah satunya adalah menambah teman. Salah duanya menambah ilmu melalui berbagai informasi menarik yang ditawarkan oleh inflight magazine. Terdengar sederhana, yah.

Saya bukannya tidak suka naik kereta. Malah suka banget karena bisa lihat pemandangan menyejukkan mata; sawah, sungai, kadang ada petani yang sedang menggembala kerbau. Lebih terasa "perjalanan"nya. Tapi, kereta tidak memiliki momen critical eleven tersebut. Itulah yang membedakan. Saya sendiri pun bingung, kenapa saya bisa sebegitu excited-nya ya? Apa karna saya suka permainan yang memacu adrenalin? Hahaha gak nyambung sih... (fyi, saya sangat suka ke Dufan dengan wahana favorit yaitu kora-kora. Hem, tapi bisa jadi ya)

Suatu hari saya berpikir, apakah ada banyak orang yang memiliki alasan traveling seperti saya, yang salah satu alasannya karena suka naik pesawat (atau moda transportasi lain)? Hahaha.

Sebenarnya, menurut saya sih, momen perjalanan itu adalah salah satu momen terpenting bagi suatu destinasi untuk melengkapi dan memengaruhi tingkat kepuasan maksimal dari suatu perjalanan seorang wisatawan. Karena, Eden (2005) menuturkan, transportasi merupakan bagian tak terpisahkan dari pariwisata. Dalam definisi sederhana, transportasi dapat diartikan sebagai perpindahan penumpang dari tempat yang satu ke tempat lainnya. Ketika dikaitkan dengan bingkai pariwisata, transportasi dapat diartikan sebagai perpindahan wisatawan dari tempat tinggalnya ke wilayah di mana produk-produk wisata ditawarkan.

Mengacu definisi di atas, bagaimana pun, momen perjalanan dan pengalaman pariwisata akan dimulai dan diakhiri dengan transportasi. Itulah sebabnya, menurut saya lagi, karema keduanya berkaitan erat, trasportasi menjadi hal yang harus diperhatikan para pengembang pariwisata untuk meng-improve tingkat kepuasan para wisatawan hahaha (analisa ngasal).

Jika atraksi sudah oke, namun perjalanan terhambat, secara tidak sadar akan memengaruhi kepuasan yang dirasakan seorang wisatawan, ya nggak sih? Tapi sekali lagi, itu hanya menurut pemikiran saya, ya..

Momen perjalanan itu sendiri bisa terdiri dari berbagai aspek, antara lain moda transportasi yang digunakan, keadaan lintasan yang dilewati, sistem dan jadwal (jika merupakan transportasi umum), serta keadaan fisik stasiun, bandara, ataupun terminalnya. Page dan Lumsdon (2004) setuju bahwa sistem transportasi dari destinasi tertentu memiliki pengaruh terhadap pengalaman pariwisata.


"It is impossible to consider tourism without transportation," ada sumber yang mengatakan seperti itu. Saya sih termasuk kelompok yang sangat setuju dengan statement di atas. Apalagi, jika pengembangan dan pembenahan aspek-aspek, seperti vehicles, infrastruktur, serta pelayanan dalam transportasi terus dilakukan. Hal tu dapat mempercepat perkembangan pariwisata di suatu daerah/negara.

Salah satu dosen saya pernah berbagi mengenai keunggulan pariwisata negara Singapura. Bisa dibilang Singapura itu negara yang sangat kecil. Namun, pemerintah di sana sangat cerdas dalam mengembangkan sektor pariwisatanya sehingga dapat menjadi daya tarik wisatawan mancanegara. Dosen saya mengatakan bahwa salah satu faktor yang memengaruhi keberhasilan pariwisatanya adalah Changi Airport yang dimilikinya. Bisa dibilang Changi Airport termasuk salah satu Airport terbaik di dunia, loh. Menurut dosen saya sih, banyak wisatawan yang ingin kembali ke Singapura karena "pintu gerbang utama"nya tersebut, karena kelengkapan fasilitas yang dimiliki oleh bandara megah itu.

Saya juga pernah membaca salah satu artikel yang mengatakan bahwa banyak negara yang berusaha membuat "pintu gerbang utama" nya semegah dan sekompetitif mungkin, terutama bagi negara yang memiliki potensi wisata yang beragam. Kompetitif di sini bisa dideskripsikan dengan kelengkapan teknologi terbarukan which will be able to overcome the burdens of peak times and compete in the industry where tough competition exists. Hemm, seperti itu...

Jadi konklusinyaaa, (sekali lagi ini bersifat subjektif ya karena saya belum melakukan riset secara komprehensif haha), jika "tourism packages" dipersiapkan dengan baik, termasuk di dalamnya masalah transportasi, maka perkembangan wisata di suatu daerah bisa semakin baik, karena kurvanya berbandin lurus. Pendapat saya ini tentunya bisa berbeda dengan pendapat orang-orang yang memang sangat suka jenis wisata "bolang", yang tidak terlalu mementingkan moda transportasi yang dipakai haha

eh tapi.......kalau dia mau ke daerah terpencil, awalnya kan harus pakai moda transportasi dulu ya toh, gak mungkin jalan kaki? hahaha


-AR-



Source:
http://enugustatetourismboard.com/p.php?u=transportation-role-in-tourism-developme&id=48
https://www.academia.edu/2628130/The_Importance_of_Transportation_in_Tourism_Sector
http://www.ukessays.com/essays/tourism/the-impact-of-air-transport-on-tourism-tourism-essay.php


Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Last month there was something happen to me and my cat. Yes, I bet you didn't expect that I would write about cat, because the title is so so scientific, I thought :p

Singkat cerita, bulan lalu Ayah saya memutuskan untuk membuang kucing saya, namanya Mumun, beserta ketiga anaknya ke pemukiman padat penduduk yang cukup jauh dari rumah.

Dua bulan yang lalu, Mumun melahirkan 3 anak kucing yang sebenarnya lucu-lucu. Lumayan lah untuk mainan di rumah, terutama untuk Ayah yang memang penyayang kitten. Tapi, namanya juga kitten, awalnya sih gemes ya, tapi lama kelamaan, banyak masalahnya juga karena memang belum bisa diajarkan "mapan" di usia yang masih sekitar satu bulan. Berbeda dengan induknya yang sudah mapan dalam hal buang air (iya, gak pernah di rumah, entah di mana dan kapan. Gak terdeteksi), ketiga anaknya masih belum bisa mengikuti jejak induknya tersebut.

Waktu Ayah saya WhatsApp dan mengabari bahwa Mumun sudah berhasil dibuang, ya sedih juga sih rasanya. Gimana juga namanya kucing itu lucu, gemes, dan benar-benar bisa menjadi "teman", apalagi kalau sedang sendiri di rumah. Kadang saya juga sering mengajak kucing saya berbicara, bercerita (curhat gitu deh.....), dan bercanda haha orang lain yang gak paham pasti akan berpikir bahwa saya gila hahaha

Tapi yasudah, akhirnya saya ikhlas, karena memang sebelumnya sudah cukup sering Ayah membuang kucing peliharaan bersama dengan anaknya. Namun, keesokan harinya.....tiba-tiba Mumun kembali!!! Hanya dalam waktu kurang dari satu hari dan dengan jarak yang saya rasa cukup jauh!

Sebelumnya, beberapa tahun lalu ketika saya masih SD, kucing saya bernama Ling-Ling juga pernah kembali lagi ke rumah setelah dibuang di tempat yang hampir sama. Namun waktu kembalinya sekitar 3-4 hari setelahnya. Beberapa kucing lainnya bahkan tidak bisa kembali haha lalu saya amaze, "Si Mumun cepet banget pulangnya... :')"

Awalnya saya sering berpikir bahwa Mumun ataupun Ling-Ling menggunakan beberapa alat indera-nya, seperti penciuman dan pendengaran, untuk menunjukkan jalan pulang. Namun sepertinya tidak mungkin yah jika hanya dari penciuman atau pendengaran saja karena jaraknya cukup jauh. Lalu, setelah saya mencoba Googling, waw!! Ternyata ada ilmu ilmiah yang menjelaskan hal ini!

lost cat

Mungkin sebelumnya sudah banyak yang pernah mendengar cerita tentang hewan peliharaan yang kembali lagi ke rumah setelah dibuang atau terpisah. Nah, menurut situs hubpages.com, kemampuan hewan, di sini spesifik kepada seekor kucing, untuk kembali lagi ke "rumah"nya--selain menggunakan ke lima inderanya--, disebut dengan Homing Instinct. Namun ada yang menjelaskan lagi bahwa kemampuan ini disebut dengan Psi-Trailing yang berkaitan dengan kemampuan deteksi geomagnetik yang dimiliki oleh seekor kucing, juga didasarkan pada strong emotional connection antara si kucing dengan majikannya. Namun ada lagi yang menyebutkan bahwa Psi-Trailing itu salah satu bagian dari Homing Instinct. Hahaha pusing yah.


"The ability of a cat to find its way home is called "psi-traveling." Experts think cats either use the angle of the sunlight to find their way or those cats have magnetized cells in their brains that act as compasses."

Saya amat tertarik untuk menjelajah lebih jauh mengenai kemampuan deteksi geomagnetik yang dimiliki oleh seekor kucing, dan beginilah penjelasan yang berhasil saya dapatkan:

Psi Traveling/Psi Trailing

walking red catSalah satu pakar yang menjelaskan tentang ilmu Psi-Trailing ini adalah Profesor Dr. Joseph Rhine, dari Duke University. Ketika Profesor Rhine melakukan studi, ia menemukan 54 kasus hewan yang telah melakukan perjalanan dengan jarak yang luar biasa untuk kembali kepada orang atau keluarga yang telah melekat (mungkin) di dalam hati mereka (walaupun saya tau kucing dan hewan lainnya tidak memiliki perasaan...)

Menurut Profesor Rhine, Psi-Trailing bisa didefinisikan sebagai hubungan emosional yang kuat antara hewan peliharaan dengan pemiliknya, tempat, atau pun hewan peliharaan lain. Mungkin bisa disebut dengan cinta, namun semua itu perihal "satu hubungan" (yang saya sebenarnya masih bingung hahaha) yang kuat yang membuat sang hewan peliharaan mampu menavigasi keberadaan pemiliknya. Namun, sebenanrnya hal itu masih belum sepenuhnya dipahami dan teruji kebenarannya.

Profesor Rhine menggambarkan bagaimana beberapa hewan peliharaan dapat menemukan pemilik mereka kembali ketika mereka "dibuang" ataupun "tertinggal." Terdapat sense, yang sebelumnya telah terbentuk melalui emotional connection dan ritme yang teratur antara hewan peliharaan dengan pemiliknya, yang membantu hewan tersebut menemukan "jalan pulang," melewati tempat dan wilayah yang tak pernah dilalui sebelumnya.

"Because of a special rhythm some pets share with us or another animal, when separated by distance, the pet feels an imbalance. As they get closer to the person, pet or home, the imbalance begins to stabilize." -Linda Cole

Berdasarkan quote di atas (benar atau tidaknya masih bingung sih...), hewan peliharaan, dalam hal ini kucing, memiliki suatu sense di mana jika ia terpisah dari majikannya, ia akan merasa "imbalance" (gak paham juga imbalancenya seperti apa, saya bukan kucing). Dan ketika ia sudah mendekati sang majikan, maka sense "imbalance" tersebut perlahan menjadi stabil. Waw, menarik!

Earth Magnetic's Field

Hewan memiliki kompas internal yang sensitif terhadap medan magnet bumi. Hewan peliharaan yang hilang untuk jarak pendek biasanya dapat menemukan jalan kembali ke rumah. Tapi peluang untuk menemukan rumah menjadi lebih kecil jika jaraknya semakin jauh, yaitu jika lebih dari 7,5 mil. (Wikipedia)

Para peneliti telah menemukan partikel logam magnetik kecil pada pergelangan tangan depan dan cakar belakangnya. Partikel-partikel ini hanya dapat dilihat melalui scanning electronic microscope. Para peneliti dari Natural History Museum di Stockholm juga menemukan "gelang magnet" ini pada kaki kucing dan hewan lainnya yang mampu membuatnya menemukan jalan kembali ke rumah dengan sangat mudah. Magnet mikroskopis ini membentuk gelang pada tulang mereka. MasyaAllah, benar-benar sempurna ya ketika Tuhan sudah menciptakan makhluknya :") hal-hal super detail benar-benar diperhatikan dan diselipkan untuk diberikan manfaat. Manusia mana bisa (ceramah dikit).

Nah tapi, korelasi kemampuan deteksi geomagnetik dengan "arahan pulang", yang situs ini menyebutnya dengan extrasensory perception, itu yang masih gue belum paham. "Kok bisa sih? Gimana caranya? Sensor magnet seperti apa yang ia lihat? Duuuh pingin deh nyoba jadi kucing bentarrr aja kalau gitu hahaha" 

Menurut situs itu, skill yang dimiliki kucing tersebut masih menjadi misteri, dan belum ada ilmu eksak yang benar-benar detail menjabarkan tentang hal ini. Ada pula hewan lainnya, seperti anjing, yang memiliki kemampuan Psi-Trailing ini, entah bagaimana caranya dan penjabaran prosesnya. Intinya ya, MasyaAllah, apa yang dikehendaki oleh Allah, maka itulah yang akan terjadi. Kemampuan apapun bisa diciptakan, yang kita pun masih harus banyak menelitinya lebih dalam lagi. Luar biasa ya ilmu pengetahuan di dunia ini, baik langit dan bumi. Harus benar-benar banyak bersyukur lagi setelah banyak melihat tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Q.S Al-Hasyr: 24

Source:
https://catsnco.wordpress.com
http://hubpages.com/animals/When-Cats-And-Dogs-Travel-Long-Distances-To-Get-Home-Psi-Trailing
http://pictures-of-cats.org/cats-have-psi-trailing.html
http://sonic.net/~pauline/psych.html
http://voices.yahoo.com
http://impactlab.com
http://petcentric.com
http://knowyourcat.info
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Sebagai penyuka film animasi, terutama Disney dan terlebih lagi Pixar, saya pun tidak akan melewatinya. Tapi memang, ada beberapa judul film animasi yang akhir-akhir ini memang tidak saya tonton. Saya sibuk. (sok :P)

Di bulan November lalu, dirilis salah satu film animasi baru, adaptasi dari novel terlaris sepanjang masa yang menjadi best seller selama puluhan tahun. Novel itu awalnya adalah novel karangan penulis legendaris Prancis bernama de Saint-Exupery yang berjudul Le Petit Prince, lalu kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris menjadi The Little Prince. Walaupun dikemas dalam bentuk animasi, sesungguhnya film ini lebih diperuntukkan untuk orang dewasa, melalui pesan-pesan moral yang diselipkan. Beberapa pesan moral yang disajikan di dalamnya menurut saya really touchy di benak para orang dewasa saat ini.

Awalnya, saya tidak terlalu tertarik untuk menonton ketika membaca resensinya di IMDB. Namun, setelah film tersebut secara resmi dirilis di Indonesia, cukup banyak review baik yang diberikan. Lekaslah saya Googling beberapa review dari negara-negara lainnya. Dan benar, film ini mendapat beberapa pujian dan banyak pula yg berpendapat bahwa film ini “rasa Pixar”. Yap! That's right! It's really Pixar-alike.

Mendengarnya, tertariklah saya untuk menonton, daaaaann.... sangat sangat tidak menyesal! Rasanya, setelah saya terpana dengan Toy Story 3 dan Tangled, sepertinya The Little Prince menjadi satu film animasi teranyar yang bisa merebut hati saya, baik dari jalan cerita, karakter, maupun soundtrack yang benar-benar (saya menyebutnya dengan) eargasm, Huhuhu beberapa kali sedih banget sewaktu dengar soundtracknya (lebay fix).

Sewaktu saya menonton film ini sendiri (curhat), percaya gak percaya sih, I cried for 3 times hahahaha lebay sih, tapi serius, sedih, dan dikemasnya juga sangat baik dengan soundtrack yang mendukung. Jadilah mewek 3x haha

For you who hasn't listened yet, here is the soundtrack:



Ada satu lagi, judulnya Salvation by Gabrielle Aplin, tapi gak tersedia di Playlist di atas. Ini linknya:



How is it? Ya kaaaaaann sedih nget bagus nget? Semacam orkestra gitu, menurut saya. Gimana gak nangis hemm Which I like the most is Equation by Camille :") sooo touchy huhu other one is Suis Moi, such a cheerful song.

Back to the story,

This movie could teach us so many lessons; how to become a good parents. not-so-busy parents. No matter how busy our work is, we should give so much care for our children.

Di dalam cerita itu, ada seorang Ibu yang sangat sangat disiplin terhadap anaknya agar ia bisa masuk akademi terbaik dan terfavorit di sana. Sang Ibu membuat jadwal aktivitas sehari-hari anaknya dengan sangat ketat, namun sebenarnya sang Ibu melupakan suatu hal yang penting, yaitu leisure time untuk sekedar beristirahat dan bermain seperti umumnya anak-anak. Akhirnya sang anak bertemu teman barunya, kakek tua tetangga sebelah rumah yang memiliki dongeng tentang The Little Prince (hemm, sepertinya saya tidak pandai untuk menceritakan kembali). Nah, lebih lengkapnya, bisa nonton by DVD atau download filmnya aja biar paham hehe

Intinya, bagi saya, pesan mengenai parenting yang disajikan oleh film ini sangat baik dan bisa membuat sadar juga bahwa sebagai Ibu (soon to be :P), harus bisa memperlakukan anak sesuai dengan usianya. Ambisius boleh, menginginkan anak menjadi jenius pun tidak dilarang. Namun, semuanya harus tetap pada kadarnya dan disesuaikan dengan usia serta perkembangan mentalnya. Intinya, jangan sampai sang anak malah jadi stress atau malah gila.

Saya pernah membaca sebuah cerita juga, ada seorang anak yang menjadi gila karena keambisiusan orang tuanya untuk menjadikannya seorang yang cerdas. Huhu sedih dan miris yah... Lalu saya menjadi berpikir dan teringat, pada suaktu waktu saya pernah berkeinginan untuk menjadi Ibu yang disiplin dan menjadikan anak saya anak yang pintar, detail, dan aktif. Saya berniat untuk memberikan les yang beraneka rupa untuk anak saya kelak, seperti piano dan renang (karena saya tidak bisa bermain piano dan berenang haha), mengaji, bahasa asing, lukis, kumon, dsb (Ibu-Ibu egois dan ambisius yah, Astaghfirullah hahaha). Tapi ternyata, gak bagus juga ya. Alhamdulillah saya menonton film ini sebelum saya menikah dan memiliki anak. Kalau tidak, bisa gila anak saya hahaha

Sebenarnya ada banyak pelajaran lain (lebih ke pemerintahan sih menurut saya) yang disiratkan oleh sang Little Prince di dalam film tersebut. Tapi sepertinya, pesan dari sang Little Prince itu sudah banyak yang menjabarkannya. Jadi sesungguhnya, pengemasan dongeng Little Prince-nya itu ada di dalam sebuah cerita Ibu dan anak yang saya ceritakan di atas. Jadi film Little Prince adaptasi ini sebenarnya adalah "cerita di dalam cerita." Ngerti gak? Hahaha. Ya begitulah. Yang penting pesannya sangat baik dan Alhamdulillah bermanfaat.

Saya harus jadi lebih baik.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Kesempatan tidak datang dua kali, katanya. Sering gak sih kalian merasa menyesal karena tidak mengambil kesempatan besar di depan mata, padahal, menurut kalian, kalian berpeluang dan berpotensi untuk mendapatkannya? Pasti pernah, saya rasa. Begitu pun saya.

Seringkali saya melewatkan banyak hal, yang padahal sudah “dadah-dadah” dengan sangat manis di depan pelupuk mata saya. Namun entah setan apa yang memengaruhi, akhirnya saya pun melewati berbagai kesempatan tersebut. Padahal saya yakin saya memiliki ability dan availability untuk turut serta maupun berkompetisi, walau saya juga tidak bisa memastikan hasil akhirnya. Setidaknya optimis dan berani mencoba.

Mencoba lebih baik daripada tidak sama sekali. Dan, gagal ketika sudah mencoba akan jauh lebih baik daripada gagal tanpa pernah memulainya. Rasa menyesalnya pun, percayalah, akan sangat sangat sangaaattt lebih besar ketika kita gagal karena tidak mencoba! Setidaknya, ketika kita sudah mencoba, akan banyak input baru yang bisa didapat. Bisa introspeksi, bisa perbaikan diri, menambah pengalaman, dan sebagainya.


Melalui tulisan ini, saya berjanji kepada diri  sendiri, saya tidak akan lagi overthinking. Jika ada kesempatan, harus saya coba entah apa pun hasilnya dan bagaimana pun keadaannya nanti. Harus, harus, harus! Hemm. Juga, mencoba berpikir simple dan tidak memikirkan terlalu jauh hal-hal yang sebenarnya belum waktunya dipikirkan. Dari evaluasi yang saya jalani, keengganan mengambil kesempatan itu biasanya karena saya terlalu memperrumit keadaan juga pikiran. Jadilah terlalu banyak pertimbangan dan akhirnya berakhir penyesalan haha dan itu guilty banget sih rasanya, saya sudah merasakannya beberapa kali.

Tapi, Bismillah, semoga masih banyak kesempatan-kesempatan baik lainnya di depan sana. Saya harus jadi lebih baik.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Dia tidak pernah memintamu untuk hadir membawa diri, menjadi teman di keheningan hari

Dia tidak pernah memintamu untuk selalu di sisi, menerjang sepi yang seringkali menghampiri

Dia tidak pernah memintamu untuk menanti, perjalanan panjang yang akan dilalui

Dan...... tak pernah pula dia memintamu pergi, mengibas rindu yang seolah telah mati

Dunia memang tak hentinya menghadirkan pentas-pentas yang tak pernah hakiki.

Dalam sepi.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Akhir-akhir ini, saya sepertinya memiliki kegemaran baru, yaitu membaca.
Agak aneh, karena sebelumnya saya tidak terlalu gemar membaca. Mungkin ada satu alasan yang mendasarinya. Tapi saya juga tidak bisa menyimpulkan hal itu menjadi satu-satunya alasan :P

Sedari kecil, saya terbiasa 'dicekoki' dengan buku bacaan penuh gambar sedikit tulisan. Mungkin karena Ayah saya seorang pelukis, jadi lah kami, anak-anaknya, secara tidak sengaja digiring ke hal-hal yang berbau visual.

Hingga saya SMP, saya masih berkutat dengan buku bacaan senada. Namun beranjak SMA dan berkuliah, sepertinya buku bacaan dengan jenis seperti itu sudah tidak cocok lagi. Amat jarang pula buku bacaan untuk remaja yang didesain dengan penuh gambar dan warna. Mentok-mentok paling komik seperti Benny&Mice, atau pun buku resep memasak hahaha kebanyakan yang ditawarkan adalah novel yang ditulis di atas kertas polos dengan penuh kalimat dan kata, serta berlembar2 tebalnya. Bagi anak visual seperti saya, itu membosankan. Jadilah saya tumbuh dewasa menjadi seseorang yang kurang minat membaca bacaan panjang dan lebih suka diceritakan hehehe

Kurangnya minat membaca bukan berarti saya tidak pernah membaca. Bukan novel, saya lebih tertarik untuk membaca artikel berita online, koran, ataupun majalah. Apalagi jika topiknya saya suka; pariwisata, tata surya, komunikasi&brand; aviation, kuliner, lifestyle, inovasi, film, kehiduan sosial, atau biografi tokoh yang bisa menginspirasi karir dan kehidupan haha pasti saya baca :P

Akan tetapiiiii, dalam beberapa bulan ini (saya sebenarnya juga bingung apa yang sebenarnya mendasari), saya jadi suka membaca novel dan buku sejenis! Malah, satu novel pernah saya habiskan hanya dalam beberapa jam saja. Itu termasuk satu pencapaian bagi saya, karena biasanya saya menghabiskan satu buah novel dalam waktu 1 bulan hahahaha

Setelah satu novel yang sukses saya baca dalam beberapa jam itu, saya pun memulai untuk membaca buku-buku lainnya. Saat ini saya sedang membaca buku ke tiga dalam bulan ini; Jalan Cinta Para Pejuang karya Ustadz muda Salim A. Fillah. Mengapa saya baca? Menurut resensi dan referensi orang lain yang saya temukan sih, beliau termasuk salah satu penulis muda yang berbakat. Nah, pas saya coba baca, memang gaya tulisan dan bertuturnya sepertinya pas dengan diri saya. Ayah saya pun ternyata juga menyukai gaya tulisan beliau. Telat yah saya baru tau :P

Kegemaran baru ini juga tiba-tiba mengingatkan saya pada salah satu dosen yang pernah berkata bahwa "bacalah buku sebanyak-banyaknya, buku itu gudangnya ilmu, baca buku apa pun, karena gak ada yang sia-sia." Jadilah saya semakin terdorong untuk mulai terus membaca, membaca, dan membaca. Ditambah lagi, salah satu kutipan dari Gurutta, dalam Novel Rindu, Tere Liye, kira-kira seperti ini:

"Jika kau ingin menulis satu paragraf yang baik kau harus membaca satu buku. Maka jika di dalam tulisan itu ada beratus-ratus paragraf, sebanyak itulah buku yang harus kau baca."

Naaah, karena saya memang bisa dibilang suka menulis, setelah membaca kata-kata itu, saya semakin semangat untuk membaca untuk memperbaiki tulisan-tulisan saya hahaha

Doa dan harapan saya sih satu, semoga saya istiqamah dan bukan hanya kegemaran sesaat hahaha mari berucap Aamiin

Saya tau mungkin saya memang terlambat. Ketika di luar sana banyak orang seusia saya sudah berkutat dengan bacaan yang super-berat dan sudah memiliki ilmu yang luas karena membaca, namun, saya yakin tidak ada kata terlambat untuk merubah diri menjadi lebih baik. Semoga yang saya niatkan ini bisa membuat saya menjadi wanita yang lebih baik. Pinginnya sih wanita cool dan cerdas hahaha Aamiin

-AR-

Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
photo source: theverge.com

The movie is great!

This space sci-fi movie "The Martian," is based on Andy Weir's book of the same name, and tells the story of an astronaut, Mark Watney, who is accidentally left behind on Mars and must struggle to survive. After two weeks from the released date, The Martian topped the box office in the U.S. and Canada as LA Times reported on Oct 11th, 2015. In other side, BBC News also reported the same thing; it flies high in the U.K film chart and became the top film at U.K box office for a second week. 

Besides Watney as the lead character, The Martian also highlights two women of "the female lead." The first is Jessica Chastain as Commander Lewis. She's a hard ass, respected leader of the crew with some big decisions to make and facts to face. And the second is Kristen Wiig as Annie Montrose, Head of Public Relations for NASA, who becomes spokeswoman for NASA to convey any news to media, esp. for this case. Well, they have a big role because their decision can influence other and make a great effect of the storyline itself.

However, I won't write any review here. And now coming to the point I am trying to share my little thoughts and opinion about one thing I could catch; a basic PR knowledge which PR person can learn from. (Maybe it's just me who can realize it, or is there anyone outside who can realize it too? Idk.)

So, here we go!

As a PR student and been being a PR Officer (although I'm just a beginner), whether I realize it or not, my sense of PR is increasing strongly and it makes such an incisive-sight for things related to PR. (Yeah I hope so :P)

At first I watched this movie, I was just excited because this movie tells about space sci-fi which is my interest since I was kid. So, just in a short time, this movie successfully got my attention after Gravity in 2013 and Interstellar in 2014. After minutes enjoying this movie, I just thought that it reveals viewer (who realize it) about PR work, especially its role in a big, influential, and well-reputed organization like NASA.

NASA encounters a crisis when it gets news about Mark Watney who is presumed dead on Mars and is then abandoned by his crew following a violent storm there. The public and media become so critical and curious. Many questions asked, and the news-flow couldn't be well-monitored. It's when a PR person takes their role to be a "vanguard" of the organization, NASA.

In this case, Annie Montrose, NASA's PR representative, plays her roles well, as I thought. She knows how to communicate with media effectively. She knows how to put herself right with confidence character. She also assists with the overwhelming amount of international PR crisis they are facing. Annie is charged to rallying public support for the rescue mission of Watney while everyone's refusing-because it's only for one man-. And yes, shaping public opinion and support is kinda hard, but she succeeded.

Here I can sum up some of her roles and what we can learn from as a PR person, especially in a part of crisis management:

1. Create a proper key-message

Public support takes big part to the rescue mission of Watney, and we can build it with a proper key-message through media, as media is influential channel to create public opinion. It's important to create a proper message when it comes to crisis management. A key message which fitted and met mutual-interest and mutual-benefit between public, media, and organization could control the news flow. NASA should've gotten a bad image after that incident, but, with an openness filled by proper key-message, then they could manage it effectively.

The message delivered also should be in-line at all aspects; press release, press conference, and even BoD's speech like what I will explain in number 3. Maybe this's why Annie always prepared and guided NASA's Director's speech right before they hold press conference.

What we can learn: a key message can control a biased news and build support, so before addressing the media, think about key points we want to convey.

2. Being open to the media

What was happening in NASA is a big news and got a huge public attention. Maybe we can mention it as a crisis. Well, crisis are by definition newsworthy, and members of the media will attempt to generate as much information as possible about the story (Stoldt, 2012). So, I think it can be a big disaster and impair company's image, or it can be a benefit for the company. What we will get after it, both positive or negative impact, is determined from how we manage the crisis itself.

Thing we can catch from Annie Montrose in this film is, being open to media is one of PR's fortes that we should apply. In this film, NASA, together with Annie, holds "hourly press conference" to show up the progress; from the first time Witney was left behind and then they know that Witney is still alive, later a time they can start communicating with Witney, and finally about the rescue until it is successful. NASA, which has already had credibility in the public's eyes, tries not to hide all updated news deserve to be published. And my lecturer ever said, being open is one of things which public wants, especially when crisis comes.

What we can learn: do not hide any updated news about progress in a crisis if we don't want miscommunication happens between company and its public. Because at that time, public tends to be more active and curious.

3. Keep calm when it goes to press conference

Press reporters in this movie still don't get the concept of asking question one by one. They all jump up in mass hysteria and shout. I think it's because NASA is one of an influential enterprise there. So, if we are holding a press conference things can get crazy. But we can handle it with a composure and answer it clearly.

In this case, Annie Montrose had already prepared Teddy Sanders (played by Jeff Daniels), as NASA's Chief Director, to deal with the press reporters. She asked Sanders to maintain his answers and be able to clearly and concisely get across the company's key message without sounding forced or artificial.

What we can learn: be prepared; think about all questions we could be asked and develop an answer for them before the interview. Keep a kindness, straight to the message we've planned, have an understanding of a journalist's role, and know how communicate with them effectively.

4. Create a good PR Writing (good photojournalism)

In one scene, I can see that Annie's taking a concern about press release will be delivered to media and public. NASA asked Witney to take photo in Mars to be published in media. Witney then took a photo of himself with a "funny" style, and Annie complained it right after she got that picture. From that scene above we can learn that a good photojournalism is one of important things in the making of PR news. It can build a news-value itself.

"As PR, we should have ability to capture a moment which can tell public a 'story'," as my lecturer said. Darmastuti (2012) also said, PR function essentially is as a journalist and report objectively any news from organization to the public. So, in this case, we should have ability, not only to create a truthful news, but also choose a proper photo to be published, and still, it should be aligned with a key-message and also journalism ethics applied about photography.

"Because a picture worth a thousand words."

5. Keep your calm and composure

And the last but not least, a cool thing that I can catch from is, keep yourself calm and cool! Well, as I learned before, in a difficult situation, a PR person has to keep their composure and not lose focus. Because the company will painted with a bad reputation if a PR, as spokesperson, responds negatively to any disruption or question. There's a saying:

"Many times crisis results when composure is missing"

(Quoted from Forbes)

And don't forget to keep a good demeanor!

***

And finally, what I can conclude here is, the film is great (Esp. Annie's acting in this movie) and PR person is cool *so proud* :P What happen in NASA can teach us how to put ourselves right. But beyond that, I don't think that this may be takes away from the great work of scientist like Rich Purnell (played by Donald Glover-one of character I like in this movie-) and Mindy Park (played by Mackenzie Davis). I just think that PR person, Annie, deserves her fair share of praise. Her roles is critical. We can see that PR is also influential in supporting the rescue mission of Witney.

And last, welcome back Witney!
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Hi, I'm Ashila Ramadhani, and welcome to my blog. Most of my previous posts were filled with my random thoughts, poems, and life-stories, but I'm trying to make this blog more meaningful :p from now on, I will fill it with my other (useful) thougts, my life-changing-experiences, my artworks, and my traveling experiences. Enjoy it!

Get Connected

  • LinkedIn
  • Facebook
  • Pinterest
  • Instagram

Categories

  • thoughts

recent posts

INSTAGRAM

@ashilaramadhani

Blog Archive

  • ▼  2025 (2)
    • ▼  July (2)
      • Tak Jadi Hujan
      • Ruang yang Tak Jadi Apa-Apa
  • ►  2024 (1)
    • ►  December (1)
  • ►  2016 (10)
    • ►  October (2)
    • ►  June (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
  • ►  2015 (21)
    • ►  December (2)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (3)
    • ►  February (2)
  • ►  2014 (3)
    • ►  December (3)
  • ►  2013 (14)
    • ►  November (2)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (2)
    • ►  March (3)
    • ►  February (3)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (5)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  February (1)
  • ►  2011 (6)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (2)

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates