• HOME
  • ABOUT
  • THOUGHTS
  • TRAVEL STORIES
  • CONTACT
Instagram LinkedIn Facebook Twitter Pinterest Tumblr

Ashila Ramadhani


Bukan, itu bukan gambar saya. Itu adalah satu dari karya-karya murid Ayah saya. Ya, Ayah saya seorang guru lukis, sejak sebelas tahun lalu.

Naik turunnya roda kehidupan membuat warnanya beragam. Banyak yang telah Ayah saya--keluarga saya--lalui selama berpuluh tahun menjalaninya. Naik-turun, maju-terhenti, lengkap. Sampai pada akhirnya, Ayah merasa nyaman--dan tentunya penuh syukur--dengan aktivitasnya saat ini; menjadi seorang guru :)

Beruntungnya saya, kontras kehidupan pernah saya alami. Hal itu menjadi hal yang sangat berharga, belajar melihat kehidupan dari atas dengan cakupan yang lebih luas. "Jadi manusia itu harus pandai melihat kehidupan dari sudut pandang helikopter. Kita bisa clear melihat dunia, bahkan pada sisi terkecil yang kadang terlewat." Itulah yang Ayah saya selalu terapkan kepada keluarga.

Perubahan keadaan keluarga yang cukup drastis, dulu, nampaknya cukup berpengaruh terhadap situasi internal kami. Namun, Ayah selalu menerapkan ilmu syukur yang wajib dibiasakan sejak kecil terhadap semua hal yang didapat. Apapun, berapapun. Semua datangnya dari Dia, dan semua sudah menjadi kehendak-Nya. Yang pasti, semua memiliki makna untuk menjadi arahan masa depan, dan tentunya modal untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Hidup ini penuh warna, serta lapisan. Untuk menikmatinya, kita harus peka untuk bisa melihat lapis demi lapis keberkahan yang dberikan oleh Allah SWT.

Saya harus jadi lebih baik.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Buaian irama syahdu menyentuh kalbu kembali melantun hangat, lambat. Saya pun menikmati, mengamati. Perlahan sayup suaranya semakin menderu, merdu. Saya tersungkur ke dalam kekhidmatan yang dicipta.

Semakin hari lantunannya terdengar semakin garang. Namun tetap lembut. Bisa kah terpikir? Sepertinya tidak. Tapi saya merasa. Itu terasa.

Lambat-lambat saya mengikuti. Terperangkap sayup merdunya hingga lupa diri, lupa segala yang telah terbangun kuat dalam benak hati....yang sebenarnya bukan ingin saya untuk mengabaikan.

Saya masuk ke dalam buaian, saat ada hal yang sudah runtuh. Saya mencari tempat berteduh. Luluh.

Lantunannya membuat saya candu. Iramanya merdu. Saya pun termangu. Tanpa sadar, perlahan menjadi surau suara yang mengganggu.

Tak nyaman, saya pun ingin keluar. Berkelana kembali, pun mungkin mencari lagi lantunan merdu lain. Tapi.....terkunci!

Di mana kuncinya?
Saya.....terjebak kembali.

Saya pun ragu, sebenarnya mana yang benar dan harus diraba. Berdiam diri, mencoba mencari kenyamanan dan menciptakan melodi sendiri, atau menunggu sampai waktu kembali meruntuhkannya hingga saya bisa bebas mencari sumber surau suara lain?

Saya terbelenggu.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Benteng gagah menjulang setinggi yang tak mampu terjamah

Bagai panah terlontar menancap pada dinding yang basah

Tak sedikit pun terlihat ramah
Pun mungkin terjamah

Ia tak menyerah

Nafasnya terengah engah
Berlaga, tak ada sedikitpun celah

Namun ia resah

Perlahan bunga bunga merekah
Gulma tumbuh menjalar menjemput gundah

Ia pasrah

Bergegas mencari wajah untuk menjadi tempat melepas lelah
sebuah rumah

Ia gelisah

Sulit untuk merubah

Ia gegabah

Benteng sudah goyah

Ia kalah

kemudian pecah

berserak remah

payah.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

selalu ada keraguan
untuk mencapai haluan

selalu ada tanya
membuat tak berdaya

merunduk malu, pilu, kaku
tetapi rindu menggebu menyerbu

selalu ada takut
banyak hal luput

selalu sendiri
tak tau kemana lagi

tergoda, membara, binasa
tetapi hati selembut sutera

selalu ada kamu
membuatku candu

05/03/16

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
photo source: http://indonesia.style.com/

Masih ingat video promosi Line Find Alumni tahun lalu? Dalam video tersebut ditampilkan kisah lanjutan dari film hits sepanjang masa, AADC. I think it's such a greattttt idea for both!

Mungkin sudah banyak sekali web, blog, paper, ataupun thesis yang membahas tentang hal ini. Tapi rasanya dari dulu tangan saya "gatal" ingin menuliskan analisa mengenai strategi komunikasi yang dilakukan oleh Line dan AADC tersebut. Berhubung saya tidak berkuliah lagi, walhasil media yang saya pikir tepat yaitu blog pribadi. Padahal jika saya masih berkuliah, strategi komunikasi itu sudah bisa dipastikan akan menjadi salah satu topik bahasan untuk paper beberapa mata kuliah tertentu hehehe

_____________________________________________

Line Find Alumni


Line Find Alumni adalah salah satu fitur dari aplikasi Line untuk 'bertemu' dan bernostalgia kembali dengan kerabat dan sahabat semasa sekolah, dari SD sampai Universitas. Melalui analisa fungsinya tersebut, dapat dilihat bahwa target utamanya yaitu usia remaja sampai dewasa; orang-orang yang sudah lulus sekolah cukup lama, para pekerja, mungkin berusia di atas 23 tahun. Bisa dibilang mereka adalah masyarakat dekade 80-90an.

Saat pertama kali diluncurkan, sepertinya fitur Line Find Alumni tersebut belum mendapat banyak sambutan. Saat saya pertama kali menggunakannya, hanya sedikit sekali teman-teman SD sampai SMA saya dulu yang sudah tergabung di fitur anyar tersebut. Namun, Line kemudian melakukan salah satu strategi komunikasi, yang menurut saya sangat cemerlang!

Untuk merebut awareness khalayak sasaran dari fitur Line Find Alumni tersebut, Line bekerja sama dengan Miles Films, pemilik hak cipta film AADC, untuk membuat seri lanjutannya dalam bentuk mini drama. Menurut saya, Line sangat jeli dalam melihat apa yang menjadi interest sang target dan bisa menjadi suatu 'gebrakan' untuk mereka. Gebrakan tersebut dihasilkan dari "pengawinan" interest si khalayak sasaran dengan fungsi dari fitur Line Find Alumni itu sendiri, Bagi generasi 80-90an, siapa sih yang tidak tau AADC?

Pada masanya, film AADC termasuk ke dalam film fenomenal dan juga merupakan revolusi perfilman Indonesia. AADC meraih 2,2 juta penonton kala itu. Saya bisa bertaruh, hampir semua orang 90an pasti tau film itu, walaupun belum semua menontonnya.

Kejelian ini rupanya bukan hanya dari pihak Line saja, menurut saya. Pada September 2015 lalu, pasti tau dong, ya, AADC telah resmi merilis trailer untuk film AADC 2 nya yang direncanakan akan tayang pada tahun ini. Wuiiiiih! Jadi, bisa dibayangkan ya bagaimana simbiosis mutualisme dicanangkan dalam kerja sama antara keduanya?

Sampai dengan 2015, pengguna Line di Indonesia mencapai lebih dari 30 juta, dan 74% penggunanya berada pada rentang usia 25-44 tahun (dailysocial.id, 11/14). Usia tersebut menurut saya adalah penonton mayoritas dari film AADC yang ditayangkan pada 2002. Jadi berpikir, kerjasama seperti apa ya yang mereka lakukan? Siapa yang mengajak kerja sama terlebih dahulu? Dan....mungkinkah kerja sama yang dilakukan hanya dalam bentuk barter, mengingat keduanya sama-sama sangat diuntungkan? Hehehe.

Kampanye tersebut bisa dibilang sangat berhasil dan mengagumkan mengingat tingginya respon yang diberikan oleh masyarakat Indonesia. Data pada 14 November 2014 (diambil dari mix.co.id), sepekan setelah kemunculannya, Line mendapatkan >250 pemberitaan online terkait fitur barunya, AADC, Dian Sastro, reuni, dan beberapa kata kunci terkait. Film berdurasi 10 menit itu pun juga meraih penonton sebanyak 3.542.531 pada hari ke tujuh perilisnya. Beberapa kata kunci tetsebut juga menjadi sangat populer di media sosial Twitter, yang mendapat cuitan sebanyak 150.394 tweets, dan 16.000 penyebutan di Instagram pada hari ke lima. (www.jagatreview.co.id, 11/14)

Keberhasilan ini tentunya juga didukung oleh para pemain AADC itu sendiri yang berperan sebagai key opinion leader, yang turut memromosikan mini drama tersebut melalui media sosial. Miles Film, sebagai pemilik film, juga Melly Goeslaw, sebagai penyanyi original soundtrack-nya, pun melakukan hal yang sama. Jadi gak heran yah kenapa sangat berhasil :")

Pendistribusian kampanyenya juga memaksimalkan beragam platform media, mulai dari digital sampai tradisional. Mulai dari Youtube, media sosial, TVC, Radio, hingga media cetak. Semua terintegerasi dengan baik, yang menimbulkan efek viral yang luar biasa.

Sepertinya segitu aja. Niat saya menulis di sini karena kekaguman saya dengan strategi komunikasi pemasaran yang dijalankan oleh keduanya. Pandangan yang tajam mengenai siapa target, kemudian dituangkan menlalui strategi yg tepat dan sangat paham apa yang menjadi interest mereka. Tindak lanjutnya, strategi itu kemudian dieksekusi dengan sangat apik melalui film pendek berkualitas yg bisa membuat semua penonton bernostalgia. Rangganya ganteng, Cintanya cantik bgt! Siapa gitu yang gak suka Dian Sastro? Saya aja naksir berat!!!!

_____________________________________________

Belajar analisa dari kemunculan film Star Wars juga yang telah lama padam, maka saat kemunculannya, karena mereka sudah memiliki para penggemar fanatik, maka akan menimbulkan huge attention, sekalipun tanpa diminta. Atensi yang awalnya hanya ada di benak penggemar, akhirnya menular ke lingkungan sekitar melalui word-of-mouth (WOM) dan berbagai kampanye, baik online maupun offline.

Orang Indonesia itu senang sekali bernostalgia. Lihat, berapa banyak orang di sekitar kita yang galaunya super lama? Yang setiap malam teringat mantan, baca sms, atau sekedar melihat-lihat foto lama? Untuk apa? Nostalgia. Iya, itu salah satu contoh yang bisa dijadikan analogi. (Hahaha kenapa harus itu...)

Contoh lainnya, sejak beberapa tahun lalu, euphoria "Nostalgia Generasi 90an" pun sedang hype! Berapa banyak buku Generasi 90an yang terjual? Berapa banyak akun-akun Instagram yang berjualan makanan lawas ala 90an? Berapa banyak event, baik skala kecil tingkat Universitas sampai skala nasional, yang menggunakan tema 'nostalgia'? Hufffttt, lihai banget yah Line melihat opportunity  yang terbilang sangat besar serta pola customer behavior saat itu. Pasti riset dan brainstorm-nya cukup lama deh, entah idenya muncul dari pihak Linenya sendiri, atau dari agency yang menagani kampanye itu hahaha (tapi sejauh yang saya baca, they did it by themselves, from brainstorming until producing (which also was helped by Line's head quarter in South Korea), and promoting. Amazing!)

_____________________________________________

Setelah kemunculan video minidrama AADC yang membuat heboh itu (iyalah, dulu saya dapat notification-nya pas saya lagi di kantor. Semua langsung heboh, langsung pause kerjanya, demi menonton minidrama itu. Malah, kita semua jadi 'nobar' bersama manager juga hahahaha), jadi banyak sekali yang mengenang cerita masa lalu, kisah pertemanan masa SD, SMP, SMA, ataupun kuliah saat film tersebut sedang booming2nya. Banyak pula yang menanti-nanti kelanjutan film AADC, termasuk saya, karena dulu masih abu-abu apakah itu benar merupakan teaser, atau hanya salah satu strategi tunggal dari pihak Line. Dan, karena menyentuh sisi emosionalnya, akhirnya banyak dari masyarakat Indonesia mulai menggunakan fitur Lind Find Alumni tersebut! Menurut data yang saya dapat, setelah dilakukan strategi kampanye itu, pengguna fitur Line Find Alumni meningkat tajam sebesar 700% sepekan pasca peluncuran kampanyenya! (mix.co.id, Desember 2014) Wuhuuuu such a really great marcomm strategy!

Dasar wong Endonsah! Suka banget yang namanya nostalgia dan berimajinasi. Hahaha. Mungkin harapannya, mereka bisa menemukan nama-nama gebetan (hehehe) mereka saat di sekolah dulu ya melalui fitur itu. Mungkin mereka berharap bisa seperti Rangga yg menemukan kembali Cintanya :p ya seperti lagu Chrisye lah ya, 'Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah. Tiada kisah paling indah, kisah-kasih di sekolah'

Setuju ndaaaaak????? Saya sih setuju sekali. Masa sekolah dulu adalah masa yang paling saya rindukan saat ini (maklum, orang Indonesia juga hahaha). Andai saja bisa memutar dan menyetop waktu... (jadi baper hahaha)

Aaaand anywaaayyyy, geat work!!! I always love LINE's communication campaign!!
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
photo source: http://www.bulgarianproperties.com/

No no no, saya bukan ingin menulis review tentang salah satu buku dari Ika Natassa yang berjudul sama dengan judul postingan saya kali ini. Namun, kali ini saya akan menulis mengenai that critical eleven dalam arti yang sebenarnya.

Critical eleven.

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat--tiga menit setelah take off  dan delapan menit sebelum landing--karena secara statistik, 80% kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger. Begitu kata-kata Ika Natassa pada sinopsis bukunya. Yap! That's right and it's that I will write here.

Actually I won't fully write bout this critical eleven sih, tapi sesungguhnya akan saya kaitkan dengan aspek tourism. Jadi gimana?

Siapa di sini yang suka naik pesawat? Mungkin saya akan angkat tangan paling cepat dan semangat jika ada yang bertanya demikian. Iya, saya suka sekali naik pesawat. And the most awesome moment is that critical eleven!

Mungkin banyak orang yang bahkan membenci momen critical eleven. Namun berbeda dengan saya. Saya amat sangat suka dan excited dengan momen ketika pesawat akan terbang dan mendarat! Sepertinya mata saya tidak akan pernah melepas pandangan dari pemandangan di luar jendela ketika momen 11 menit menyenangkan itu terjadi. It's awesome! (Norak ya? Atau lebay? Alay? You decide.)

Saat ini, jika ditanya alasan saya melakukan traveling salah satunya adalah agar saya naik pesawat. Hahaha sounds weird, uh? Yap, mungkin sebagian dari kalian menganggap saya aneh, atau bahkan norak haha but it's true. Momen naik pesawat, especially that awesome critical eleven, adalah salah satu alasan utama saya untuk melakukan perjalanan :))) apalagi jika saya melakukan perjalanan itu seorang diri. Saya makin suka!

Ada banyak hal yang bisa saya dapatkan dari perjalanan seorang diri itu, salah satunya adalah menambah teman. Salah duanya menambah ilmu melalui berbagai informasi menarik yang ditawarkan oleh inflight magazine. Terdengar sederhana, yah.

Saya bukannya tidak suka naik kereta. Malah suka banget karena bisa lihat pemandangan menyejukkan mata; sawah, sungai, kadang ada petani yang sedang menggembala kerbau. Lebih terasa "perjalanan"nya. Tapi, kereta tidak memiliki momen critical eleven tersebut. Itulah yang membedakan. Saya sendiri pun bingung, kenapa saya bisa sebegitu excited-nya ya? Apa karna saya suka permainan yang memacu adrenalin? Hahaha gak nyambung sih... (fyi, saya sangat suka ke Dufan dengan wahana favorit yaitu kora-kora. Hem, tapi bisa jadi ya)

Suatu hari saya berpikir, apakah ada banyak orang yang memiliki alasan traveling seperti saya, yang salah satu alasannya karena suka naik pesawat (atau moda transportasi lain)? Hahaha.

Sebenarnya, menurut saya sih, momen perjalanan itu adalah salah satu momen terpenting bagi suatu destinasi untuk melengkapi dan memengaruhi tingkat kepuasan maksimal dari suatu perjalanan seorang wisatawan. Karena, Eden (2005) menuturkan, transportasi merupakan bagian tak terpisahkan dari pariwisata. Dalam definisi sederhana, transportasi dapat diartikan sebagai perpindahan penumpang dari tempat yang satu ke tempat lainnya. Ketika dikaitkan dengan bingkai pariwisata, transportasi dapat diartikan sebagai perpindahan wisatawan dari tempat tinggalnya ke wilayah di mana produk-produk wisata ditawarkan.

Mengacu definisi di atas, bagaimana pun, momen perjalanan dan pengalaman pariwisata akan dimulai dan diakhiri dengan transportasi. Itulah sebabnya, menurut saya lagi, karema keduanya berkaitan erat, trasportasi menjadi hal yang harus diperhatikan para pengembang pariwisata untuk meng-improve tingkat kepuasan para wisatawan hahaha (analisa ngasal).

Jika atraksi sudah oke, namun perjalanan terhambat, secara tidak sadar akan memengaruhi kepuasan yang dirasakan seorang wisatawan, ya nggak sih? Tapi sekali lagi, itu hanya menurut pemikiran saya, ya..

Momen perjalanan itu sendiri bisa terdiri dari berbagai aspek, antara lain moda transportasi yang digunakan, keadaan lintasan yang dilewati, sistem dan jadwal (jika merupakan transportasi umum), serta keadaan fisik stasiun, bandara, ataupun terminalnya. Page dan Lumsdon (2004) setuju bahwa sistem transportasi dari destinasi tertentu memiliki pengaruh terhadap pengalaman pariwisata.


"It is impossible to consider tourism without transportation," ada sumber yang mengatakan seperti itu. Saya sih termasuk kelompok yang sangat setuju dengan statement di atas. Apalagi, jika pengembangan dan pembenahan aspek-aspek, seperti vehicles, infrastruktur, serta pelayanan dalam transportasi terus dilakukan. Hal tu dapat mempercepat perkembangan pariwisata di suatu daerah/negara.

Salah satu dosen saya pernah berbagi mengenai keunggulan pariwisata negara Singapura. Bisa dibilang Singapura itu negara yang sangat kecil. Namun, pemerintah di sana sangat cerdas dalam mengembangkan sektor pariwisatanya sehingga dapat menjadi daya tarik wisatawan mancanegara. Dosen saya mengatakan bahwa salah satu faktor yang memengaruhi keberhasilan pariwisatanya adalah Changi Airport yang dimilikinya. Bisa dibilang Changi Airport termasuk salah satu Airport terbaik di dunia, loh. Menurut dosen saya sih, banyak wisatawan yang ingin kembali ke Singapura karena "pintu gerbang utama"nya tersebut, karena kelengkapan fasilitas yang dimiliki oleh bandara megah itu.

Saya juga pernah membaca salah satu artikel yang mengatakan bahwa banyak negara yang berusaha membuat "pintu gerbang utama" nya semegah dan sekompetitif mungkin, terutama bagi negara yang memiliki potensi wisata yang beragam. Kompetitif di sini bisa dideskripsikan dengan kelengkapan teknologi terbarukan which will be able to overcome the burdens of peak times and compete in the industry where tough competition exists. Hemm, seperti itu...

Jadi konklusinyaaa, (sekali lagi ini bersifat subjektif ya karena saya belum melakukan riset secara komprehensif haha), jika "tourism packages" dipersiapkan dengan baik, termasuk di dalamnya masalah transportasi, maka perkembangan wisata di suatu daerah bisa semakin baik, karena kurvanya berbandin lurus. Pendapat saya ini tentunya bisa berbeda dengan pendapat orang-orang yang memang sangat suka jenis wisata "bolang", yang tidak terlalu mementingkan moda transportasi yang dipakai haha

eh tapi.......kalau dia mau ke daerah terpencil, awalnya kan harus pakai moda transportasi dulu ya toh, gak mungkin jalan kaki? hahaha


-AR-



Source:
http://enugustatetourismboard.com/p.php?u=transportation-role-in-tourism-developme&id=48
https://www.academia.edu/2628130/The_Importance_of_Transportation_in_Tourism_Sector
http://www.ukessays.com/essays/tourism/the-impact-of-air-transport-on-tourism-tourism-essay.php


Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Last month there was something happen to me and my cat. Yes, I bet you didn't expect that I would write about cat, because the title is so so scientific, I thought :p

Singkat cerita, bulan lalu Ayah saya memutuskan untuk membuang kucing saya, namanya Mumun, beserta ketiga anaknya ke pemukiman padat penduduk yang cukup jauh dari rumah.

Dua bulan yang lalu, Mumun melahirkan 3 anak kucing yang sebenarnya lucu-lucu. Lumayan lah untuk mainan di rumah, terutama untuk Ayah yang memang penyayang kitten. Tapi, namanya juga kitten, awalnya sih gemes ya, tapi lama kelamaan, banyak masalahnya juga karena memang belum bisa diajarkan "mapan" di usia yang masih sekitar satu bulan. Berbeda dengan induknya yang sudah mapan dalam hal buang air (iya, gak pernah di rumah, entah di mana dan kapan. Gak terdeteksi), ketiga anaknya masih belum bisa mengikuti jejak induknya tersebut.

Waktu Ayah saya WhatsApp dan mengabari bahwa Mumun sudah berhasil dibuang, ya sedih juga sih rasanya. Gimana juga namanya kucing itu lucu, gemes, dan benar-benar bisa menjadi "teman", apalagi kalau sedang sendiri di rumah. Kadang saya juga sering mengajak kucing saya berbicara, bercerita (curhat gitu deh.....), dan bercanda haha orang lain yang gak paham pasti akan berpikir bahwa saya gila hahaha

Tapi yasudah, akhirnya saya ikhlas, karena memang sebelumnya sudah cukup sering Ayah membuang kucing peliharaan bersama dengan anaknya. Namun, keesokan harinya.....tiba-tiba Mumun kembali!!! Hanya dalam waktu kurang dari satu hari dan dengan jarak yang saya rasa cukup jauh!

Sebelumnya, beberapa tahun lalu ketika saya masih SD, kucing saya bernama Ling-Ling juga pernah kembali lagi ke rumah setelah dibuang di tempat yang hampir sama. Namun waktu kembalinya sekitar 3-4 hari setelahnya. Beberapa kucing lainnya bahkan tidak bisa kembali haha lalu saya amaze, "Si Mumun cepet banget pulangnya... :')"

Awalnya saya sering berpikir bahwa Mumun ataupun Ling-Ling menggunakan beberapa alat indera-nya, seperti penciuman dan pendengaran, untuk menunjukkan jalan pulang. Namun sepertinya tidak mungkin yah jika hanya dari penciuman atau pendengaran saja karena jaraknya cukup jauh. Lalu, setelah saya mencoba Googling, waw!! Ternyata ada ilmu ilmiah yang menjelaskan hal ini!

lost cat

Mungkin sebelumnya sudah banyak yang pernah mendengar cerita tentang hewan peliharaan yang kembali lagi ke rumah setelah dibuang atau terpisah. Nah, menurut situs hubpages.com, kemampuan hewan, di sini spesifik kepada seekor kucing, untuk kembali lagi ke "rumah"nya--selain menggunakan ke lima inderanya--, disebut dengan Homing Instinct. Namun ada yang menjelaskan lagi bahwa kemampuan ini disebut dengan Psi-Trailing yang berkaitan dengan kemampuan deteksi geomagnetik yang dimiliki oleh seekor kucing, juga didasarkan pada strong emotional connection antara si kucing dengan majikannya. Namun ada lagi yang menyebutkan bahwa Psi-Trailing itu salah satu bagian dari Homing Instinct. Hahaha pusing yah.


"The ability of a cat to find its way home is called "psi-traveling." Experts think cats either use the angle of the sunlight to find their way or those cats have magnetized cells in their brains that act as compasses."

Saya amat tertarik untuk menjelajah lebih jauh mengenai kemampuan deteksi geomagnetik yang dimiliki oleh seekor kucing, dan beginilah penjelasan yang berhasil saya dapatkan:

Psi Traveling/Psi Trailing

walking red catSalah satu pakar yang menjelaskan tentang ilmu Psi-Trailing ini adalah Profesor Dr. Joseph Rhine, dari Duke University. Ketika Profesor Rhine melakukan studi, ia menemukan 54 kasus hewan yang telah melakukan perjalanan dengan jarak yang luar biasa untuk kembali kepada orang atau keluarga yang telah melekat (mungkin) di dalam hati mereka (walaupun saya tau kucing dan hewan lainnya tidak memiliki perasaan...)

Menurut Profesor Rhine, Psi-Trailing bisa didefinisikan sebagai hubungan emosional yang kuat antara hewan peliharaan dengan pemiliknya, tempat, atau pun hewan peliharaan lain. Mungkin bisa disebut dengan cinta, namun semua itu perihal "satu hubungan" (yang saya sebenarnya masih bingung hahaha) yang kuat yang membuat sang hewan peliharaan mampu menavigasi keberadaan pemiliknya. Namun, sebenanrnya hal itu masih belum sepenuhnya dipahami dan teruji kebenarannya.

Profesor Rhine menggambarkan bagaimana beberapa hewan peliharaan dapat menemukan pemilik mereka kembali ketika mereka "dibuang" ataupun "tertinggal." Terdapat sense, yang sebelumnya telah terbentuk melalui emotional connection dan ritme yang teratur antara hewan peliharaan dengan pemiliknya, yang membantu hewan tersebut menemukan "jalan pulang," melewati tempat dan wilayah yang tak pernah dilalui sebelumnya.

"Because of a special rhythm some pets share with us or another animal, when separated by distance, the pet feels an imbalance. As they get closer to the person, pet or home, the imbalance begins to stabilize." -Linda Cole

Berdasarkan quote di atas (benar atau tidaknya masih bingung sih...), hewan peliharaan, dalam hal ini kucing, memiliki suatu sense di mana jika ia terpisah dari majikannya, ia akan merasa "imbalance" (gak paham juga imbalancenya seperti apa, saya bukan kucing). Dan ketika ia sudah mendekati sang majikan, maka sense "imbalance" tersebut perlahan menjadi stabil. Waw, menarik!

Earth Magnetic's Field

Hewan memiliki kompas internal yang sensitif terhadap medan magnet bumi. Hewan peliharaan yang hilang untuk jarak pendek biasanya dapat menemukan jalan kembali ke rumah. Tapi peluang untuk menemukan rumah menjadi lebih kecil jika jaraknya semakin jauh, yaitu jika lebih dari 7,5 mil. (Wikipedia)

Para peneliti telah menemukan partikel logam magnetik kecil pada pergelangan tangan depan dan cakar belakangnya. Partikel-partikel ini hanya dapat dilihat melalui scanning electronic microscope. Para peneliti dari Natural History Museum di Stockholm juga menemukan "gelang magnet" ini pada kaki kucing dan hewan lainnya yang mampu membuatnya menemukan jalan kembali ke rumah dengan sangat mudah. Magnet mikroskopis ini membentuk gelang pada tulang mereka. MasyaAllah, benar-benar sempurna ya ketika Tuhan sudah menciptakan makhluknya :") hal-hal super detail benar-benar diperhatikan dan diselipkan untuk diberikan manfaat. Manusia mana bisa (ceramah dikit).

Nah tapi, korelasi kemampuan deteksi geomagnetik dengan "arahan pulang", yang situs ini menyebutnya dengan extrasensory perception, itu yang masih gue belum paham. "Kok bisa sih? Gimana caranya? Sensor magnet seperti apa yang ia lihat? Duuuh pingin deh nyoba jadi kucing bentarrr aja kalau gitu hahaha" 

Menurut situs itu, skill yang dimiliki kucing tersebut masih menjadi misteri, dan belum ada ilmu eksak yang benar-benar detail menjabarkan tentang hal ini. Ada pula hewan lainnya, seperti anjing, yang memiliki kemampuan Psi-Trailing ini, entah bagaimana caranya dan penjabaran prosesnya. Intinya ya, MasyaAllah, apa yang dikehendaki oleh Allah, maka itulah yang akan terjadi. Kemampuan apapun bisa diciptakan, yang kita pun masih harus banyak menelitinya lebih dalam lagi. Luar biasa ya ilmu pengetahuan di dunia ini, baik langit dan bumi. Harus benar-benar banyak bersyukur lagi setelah banyak melihat tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Q.S Al-Hasyr: 24

Source:
https://catsnco.wordpress.com
http://hubpages.com/animals/When-Cats-And-Dogs-Travel-Long-Distances-To-Get-Home-Psi-Trailing
http://pictures-of-cats.org/cats-have-psi-trailing.html
http://sonic.net/~pauline/psych.html
http://voices.yahoo.com
http://impactlab.com
http://petcentric.com
http://knowyourcat.info
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Sebagai penyuka film animasi, terutama Disney dan terlebih lagi Pixar, saya pun tidak akan melewatinya. Tapi memang, ada beberapa judul film animasi yang akhir-akhir ini memang tidak saya tonton. Saya sibuk. (sok :P)

Di bulan November lalu, dirilis salah satu film animasi baru, adaptasi dari novel terlaris sepanjang masa yang menjadi best seller selama puluhan tahun. Novel itu awalnya adalah novel karangan penulis legendaris Prancis bernama de Saint-Exupery yang berjudul Le Petit Prince, lalu kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris menjadi The Little Prince. Walaupun dikemas dalam bentuk animasi, sesungguhnya film ini lebih diperuntukkan untuk orang dewasa, melalui pesan-pesan moral yang diselipkan. Beberapa pesan moral yang disajikan di dalamnya menurut saya really touchy di benak para orang dewasa saat ini.

Awalnya, saya tidak terlalu tertarik untuk menonton ketika membaca resensinya di IMDB. Namun, setelah film tersebut secara resmi dirilis di Indonesia, cukup banyak review baik yang diberikan. Lekaslah saya Googling beberapa review dari negara-negara lainnya. Dan benar, film ini mendapat beberapa pujian dan banyak pula yg berpendapat bahwa film ini “rasa Pixar”. Yap! That's right! It's really Pixar-alike.

Mendengarnya, tertariklah saya untuk menonton, daaaaann.... sangat sangat tidak menyesal! Rasanya, setelah saya terpana dengan Toy Story 3 dan Tangled, sepertinya The Little Prince menjadi satu film animasi teranyar yang bisa merebut hati saya, baik dari jalan cerita, karakter, maupun soundtrack yang benar-benar (saya menyebutnya dengan) eargasm, Huhuhu beberapa kali sedih banget sewaktu dengar soundtracknya (lebay fix).

Sewaktu saya menonton film ini sendiri (curhat), percaya gak percaya sih, I cried for 3 times hahahaha lebay sih, tapi serius, sedih, dan dikemasnya juga sangat baik dengan soundtrack yang mendukung. Jadilah mewek 3x haha

For you who hasn't listened yet, here is the soundtrack:



Ada satu lagi, judulnya Salvation by Gabrielle Aplin, tapi gak tersedia di Playlist di atas. Ini linknya:



How is it? Ya kaaaaaann sedih nget bagus nget? Semacam orkestra gitu, menurut saya. Gimana gak nangis hemm Which I like the most is Equation by Camille :") sooo touchy huhu other one is Suis Moi, such a cheerful song.

Back to the story,

This movie could teach us so many lessons; how to become a good parents. not-so-busy parents. No matter how busy our work is, we should give so much care for our children.

Di dalam cerita itu, ada seorang Ibu yang sangat sangat disiplin terhadap anaknya agar ia bisa masuk akademi terbaik dan terfavorit di sana. Sang Ibu membuat jadwal aktivitas sehari-hari anaknya dengan sangat ketat, namun sebenarnya sang Ibu melupakan suatu hal yang penting, yaitu leisure time untuk sekedar beristirahat dan bermain seperti umumnya anak-anak. Akhirnya sang anak bertemu teman barunya, kakek tua tetangga sebelah rumah yang memiliki dongeng tentang The Little Prince (hemm, sepertinya saya tidak pandai untuk menceritakan kembali). Nah, lebih lengkapnya, bisa nonton by DVD atau download filmnya aja biar paham hehe

Intinya, bagi saya, pesan mengenai parenting yang disajikan oleh film ini sangat baik dan bisa membuat sadar juga bahwa sebagai Ibu (soon to be :P), harus bisa memperlakukan anak sesuai dengan usianya. Ambisius boleh, menginginkan anak menjadi jenius pun tidak dilarang. Namun, semuanya harus tetap pada kadarnya dan disesuaikan dengan usia serta perkembangan mentalnya. Intinya, jangan sampai sang anak malah jadi stress atau malah gila.

Saya pernah membaca sebuah cerita juga, ada seorang anak yang menjadi gila karena keambisiusan orang tuanya untuk menjadikannya seorang yang cerdas. Huhu sedih dan miris yah... Lalu saya menjadi berpikir dan teringat, pada suaktu waktu saya pernah berkeinginan untuk menjadi Ibu yang disiplin dan menjadikan anak saya anak yang pintar, detail, dan aktif. Saya berniat untuk memberikan les yang beraneka rupa untuk anak saya kelak, seperti piano dan renang (karena saya tidak bisa bermain piano dan berenang haha), mengaji, bahasa asing, lukis, kumon, dsb (Ibu-Ibu egois dan ambisius yah, Astaghfirullah hahaha). Tapi ternyata, gak bagus juga ya. Alhamdulillah saya menonton film ini sebelum saya menikah dan memiliki anak. Kalau tidak, bisa gila anak saya hahaha

Sebenarnya ada banyak pelajaran lain (lebih ke pemerintahan sih menurut saya) yang disiratkan oleh sang Little Prince di dalam film tersebut. Tapi sepertinya, pesan dari sang Little Prince itu sudah banyak yang menjabarkannya. Jadi sesungguhnya, pengemasan dongeng Little Prince-nya itu ada di dalam sebuah cerita Ibu dan anak yang saya ceritakan di atas. Jadi film Little Prince adaptasi ini sebenarnya adalah "cerita di dalam cerita." Ngerti gak? Hahaha. Ya begitulah. Yang penting pesannya sangat baik dan Alhamdulillah bermanfaat.

Saya harus jadi lebih baik.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Hi, I'm Ashila Ramadhani, and welcome to my blog. Most of my previous posts were filled with my random thoughts, poems, and life-stories, but I'm trying to make this blog more meaningful :p from now on, I will fill it with my other (useful) thougts, my life-changing-experiences, my artworks, and my traveling experiences. Enjoy it!

Get Connected

  • LinkedIn
  • Facebook
  • Pinterest
  • Instagram

Categories

  • thoughts

recent posts

INSTAGRAM

@ashilaramadhani

Blog Archive

  • ▼  2025 (2)
    • ▼  July (2)
      • Tak Jadi Hujan
      • Ruang yang Tak Jadi Apa-Apa
  • ►  2024 (1)
    • ►  December (1)
  • ►  2016 (10)
    • ►  October (2)
    • ►  June (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
  • ►  2015 (21)
    • ►  December (2)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (3)
    • ►  February (2)
  • ►  2014 (3)
    • ►  December (3)
  • ►  2013 (14)
    • ►  November (2)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (2)
    • ►  March (3)
    • ►  February (3)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (5)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  February (1)
  • ►  2011 (6)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (2)

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates