• HOME
  • ABOUT
  • THOUGHTS
  • TRAVEL STORIES
  • CONTACT
Instagram LinkedIn Facebook Twitter Pinterest Tumblr

Ashila Ramadhani

Mungkin kamuflase.

Antara cinta dan benci.
Mungkin saja kamuflase.
Apa yang kamu rajut di bibir, dengan yang kau guratkan di dalam hati.

Mungkin kamuflase.

Antara tingkah laku, dengan pikiran.
Tapi untuk apa?
Mengapa bertingkah seperti bunglon, bila kadal pun bisa tetap hidup. Kalian satu spesies bukan?
Mengapa harus menjadi sotong, jika cumi-cumi saja bisa berenang bebas dan berkembang biak. Itu artinya ia tak kekurangan makan, kan?

Kamu seperti bunglon saat berlindung dari predator. Dan mungkin seperti sotong saat akan memburu mangsa.

Takdir? Keinginan diri? Atau bahkan hanya sebuah tuntutan keegoisan?

Bencimu. Cintamu.
Mungkin hanya kamuflase.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Sudah beberapa tahun terakhir cahaya itu ada. Tetap bersinar tak pernah redup, apalagi padam. Bukan inginku untuk menjaganya tetap terang benderang. Namun ego hati yang selalu membiarkannya menyala.

Ada kalanya aku pun merasa silau. Namun apa daya, aku butuh cahaya. Aku harus menjaganya tetap bersinar. Bukan keinginan, namun kebutuhan.

Ingin rasanya kuredupkan. Tapi aku belum menemukan satu pun cara yang berhasil! Selalu saja gagal. Wah, ternyata aku belum menemukan tombol yang tepat untuk meredupkan dan mematikan cahaya itu.

Silau.
Cahayanya terlalu terang.
Kadang melihatnya pun enggan.
Kadang pula, tak cukup kuasa ku untuk hanya sekedar memandang.

Ia akan terus terjaga.
Menyala.
Bercahaya.

Sampai pada akhirnya nanti aku menemukan di mana tombolnya.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Dengan perlahan ku ambil selembar kertas putih. Kertas itu kudapat dari sebuah buku yang mungkin sudah lama sekali tak terjamah.
Kertas putih itu sudah tak seputih saat aku pertama kali memilikinya. Banyak ngengat yang menyukainya, ternyata. Namun tak apa. Toh masih bisa digunakan untuk menulis.

Tak berlama-lama. Kutulis sebuah surat. Untuk kertas itu. Di atas kertas itu. Kira-kira begini isinya.
Hai, sudah lama tak jumpa. Sudah lama kamu tersimpan rapat di dalam tempat yang sulit dijangkau. Tak sempatkah kau merawat diri? Tampilanmu begitu usang. Mungkin kenyataan yang membuatmu begini.
 Aku di sini, ingin mengingatmu kembali. Bahwa kau masih ada. Bahwa kau tetap berfungsi seperti kertas lainnya. Untuk menulis, memberi pesan. Aku di sini, ingin menjalankan fungsi itu lagi. Tidakkah kau keberatan?
Bagaimana harimu? Bagaimana rasamu?
Mungkin ini hanya permulaan. Untuk melanjutkan kisahku lembar demi lembar, dan menyusunnya di buku itu.
Mungkin ini hanya permulaan. Setelah sekian lama ku tutup rapat dan kusimpan buku itu.
 Kini kucoba memulainya. Membuka halaman berikutnya. Melihat kertas-kertas yang mulai usang. Dan mencoba merangkai kata demi kata.
Mungkin sekarang baru ini yang bisa kutulis. Karna ini baru permulaan. Aku pikir, ini awal mula yang hebat. Terlalu berani, namun harus begitu. Karna kalau tidak, kapan lagi?
 Mungkin ini hanyalah beberapa bait pendahuluan. Dan mungkin akan terus bermunculan bab demi bab baru. Mungkin. Ya, mungkin. Aku hanya berharap itu bisa terwujud.
Tapi yang pasti, saat ini sudah kuberanikan diri. Mencari buku itu, membukanya, membalik halaman berikutnya, dan menemukanmu. Lalu dengan leluasa aku membuat goresan tinta di sini. Di atas kamu.
Semoga semua selalu berjalan baik-baik saja.
Semoga semua berjalan dengan semestinya.
Dan semoga..... Awal mula ini akan terus berjalan secara kontinyu dan tak semu.
p.s: Jangan merindukanku yang mungkin akan lama tak menjamahmu. Aku sedang dalam tahap mencari padanan kata yang tepat untuk kutuliskan diatas kamu. 
Kira-kira begitu surat yang aku tulis di atas kertas itu.

Semoga :)
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Kukirim berjuta puisi untukmu. Dalam sekejap pun aku telah berubah menjadi pujangga kawakan.
Menertawakan kisah pilu dalam bentuk kata-kata cinta. Mungkin maksudnya hanya untuk menutupi, berbagai nuansa hitam yang selalu menghampiri.

Aku takut.

Dalam kesendirian malam.
Dalam doa yang kupanjatkan.
Dalam sikap yang kulakukan.
Dalam liku yang kutempuh.
Dalam aturan dunia yang tak dapat diubah.

Bagaimana kelak?
Siapa gerangan?
Apa situasinya?
Di mana lokasinya?
Dan..... Kapan itu berlangsung?

Berputar. Selalu terpikir.
Tidakkah aku lelah?

Ketakutan munafik.
Kenaifan diri,
akan hal-hal indah yang sedang menantiku di ujung terowongan.

Ketakutan.....
Satu hal menakutkan yang takut untuk ditakutkan.

Ketakutan.....
Akan hal itu.

Hal itu.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Sering saya terpikir, siapa kamu?
Siapa kamu yang akan mendampingi saya?
Siapa kamu yang akan menemani saya?
Siapa kamu yang kan hidup bersama dengan saya, terus bernaung dan selalu berbagi dengan saya?
Siapa kamu yang akan saya lihat setiap pagi saat saya membuka mata?
Siapa kamu yang kelak akan saya panggil ayah?
Siapa kamu yang kelak akan mencium kening saya dan keningnya--anak kita-- sebelum pergi bekerja?
Siapa kamu yang akan mencintai dan dicintai oleh saya sampai pada saatnya saya harus meninggalkan dunia ini?

Siapa kamu. Di mana kamu.

Belum kuasa saya membayangkan tentang kamu.
Kamu yang kelak akan menjadi sebagian dari jiwa saya. Kamu yang kelak akan mengimami saya.

Belum kuasa saya membayangkan bagaimana bisa saya selalu hidup bersama denganmu.
Berdampingan, beriringan, berjalan bersama-sama.

Siapa kamu. Di mana kamu. Sedang apa dirimu.

Bagaimana sosokmu, perangaimu, sikapmu, kepribadianmu.
Kadang saya merasa takut.
Membayangkan sesuatu yang akan terus ada selama sisa hidup saya.
Kadang saya takut. Baik saya dan kamu, akan gagal membinanya.
Kadang saya takut, kalau pada akhirnya, 'rasa ini' akan tetap, terus, dan selalu ada.
Saya takut mengecewakanmu...

Mungkin saat ini saya masih belum bisa membayangkan, terutama meyakinkan diri saya akan 'tahap' itu.
Bersama sosok pengganti ayah. Bersama sosok pemikul tanggung jawab. Bersama sosok--yang kata orang--belahan jiwa.

Siapa kamu. Di mana kamu.
Saya yakin suatu hari nanti saya akan menantimu.
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Ada kala dimana tidak ada yang bisa mengerti
Ada masa dimana tidak ada apapun yang bisa memahami

Terbelenggu pikiran pribadi yang tak kunjung menemukan kebenaran atau kesalahan yang sebenarnya sedang terjadi.
Aku, kamu, dia, nyata.
Namun raga seolah tak berperasa.
Semua semu. Hilang begitu saja.

Mungkin memang benar, saya yang salah.
Mungkin memang benar, saya yang sedang hilang kesadaran.

Mungkin hanya karena benci. Benci yang meredupkan tawa. Benci yang menghapus canda.

Kebencian atas pikiran pribadi. Kebencian atas ketakutan akan rasa kehilangan.

Tak ada yang harus dipersalahkan.
Mungkin hanya sedang bergeser sedikit dari garis normal.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Sometimes, it's better to left it unsaid....
Ada kalanya sesuatu itu tak harus diungkapkan. Mungkin yang terbaik hanya diam, membiarkan semua berjalan baik-baik saja.

Lebih baik diam daripada menghancurkan
Lebih baik dipendam daripada membuatnya tak lagi sempurna.

Sebenarnya saya juga bingung, tak mengerti. Apa yang saya rasakan? Ini apa? Mengapa begini?
Saya pun tak menginginkan hal ini. Hati hanya menerka, sebenarnya apa alasannya?
Gejolak kenyataan, perasaan, dan logika tak bersatu padu. Berpencar. Memilih jalannya masing-masing.

Saya tak mengerti. Antara egoisme dan afeksi yang berlebih. Antara tak dewasa, dan tak ingin berjauhan. Mana yang paling kuat? Sulit untuk menekan semua rasa. Saya merasa jahat.

Saya tak ingin merasa sepi.
Saya tak ingin merasa sendiri.
Saya ingin............. ditemani.
Tanpa ada yang menjadi juara. Tanpa ada yang menempati posisi yang lebih tinggi.

Entah apa yang di rasa. Terlalu peduli atau kah sangat berempati? Mungkin seperti menemukan hunian baru. Dapat menjadi tempat kedua. Atau sekedar berlindung dari hunian pertama yang kadang kala.....tak bersua?


Saya menemukannya.
Tambatan hati. Tempat mencurahkan segala emosi. Namun mungkin terlalu berlebih. Ya, sesuatu yang berlebih tak akan berakhir baik. Begitu kata orang.


Sometimes, it's better to left it unsaid....

Membiarkan diri berpikir murni. Menemukan rangkaian solusi.
Biarkan ku menyendiri. Meredam segala rasa dan asa yang tak terdefinisi.


Semua akan baik-baik saja...... 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Pernahkah kamu merasa sendiri di tengah kerumunan orang? Mungkin terlihat klise dan terlalu dramatis. Awalnya saya juga tak pernah terpikir akan merasa seperti itu. Namun sekarang sepertinya saya sedang merasakan tanda-tandanya.

Entah ini hanya pikiran subjektif saya, atau memang kenyataannya seperti ini. Entah ini hanya perasaan-yang-terlalu-perasa saya, atau memang benar-benar sedang terjadi.


Saya merasa semua berjalan berbalik arah. Saya melihat semuanya membelakangi saya. Saya melihat banyak tawa, namun maya. Saya melihat banyak canda, namun tak terdengar. Saya merasakan banyak kata, but it's not around me. Seolah terdapat di luar "pembatas" yang tak terlihat.


Entah ini imaji atau fakta. Entah rasa atau logika.


Semua berkeliaran. Terpikir, dan kemudian.....semua hening. Saya bingung.

Keluarga? Ada. Sahabat? Tentu ada. Teman? Banyak. Tampak, namun tak terjamah. Hanya seperti foto yang menghias dinding. Hanya seperti mimpi yang tiap malam menghampiri.

Mereka dimana?

Saya mencari. Ah, ketemu! Namun kemudian pergi.
Saya menelusuri. Wah, ada! Namun kemudian hilang.
Saya tak merasa semua ada.
Maya.

Lalu, harus bagaimana?
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Hi, I'm Ashila Ramadhani, and welcome to my blog. Most of my previous posts were filled with my random thoughts, poems, and life-stories, but I'm trying to make this blog more meaningful :p from now on, I will fill it with my other (useful) thougts, my life-changing-experiences, my artworks, and my traveling experiences. Enjoy it!

Get Connected

  • LinkedIn
  • Facebook
  • Pinterest
  • Instagram

Categories

  • thoughts

recent posts

INSTAGRAM

@ashilaramadhani

Blog Archive

  • ▼  2025 (2)
    • ▼  July (2)
      • Tak Jadi Hujan
      • Ruang yang Tak Jadi Apa-Apa
  • ►  2024 (1)
    • ►  December (1)
  • ►  2016 (10)
    • ►  October (2)
    • ►  June (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
  • ►  2015 (21)
    • ►  December (2)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (3)
    • ►  February (2)
  • ►  2014 (3)
    • ►  December (3)
  • ►  2013 (14)
    • ►  November (2)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (2)
    • ►  March (3)
    • ►  February (3)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (5)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  February (1)
  • ►  2011 (6)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (2)

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates