• HOME
  • ABOUT
  • THOUGHTS
  • TRAVEL STORIES
  • CONTACT
Instagram LinkedIn Facebook Twitter Pinterest Tumblr

Ashila Ramadhani

Sedikit intermezzo, saat ini gue sedang mencoba Blogger for Android. Mungkin udah lama keluar, tapi baru gue coba sekarang. Ternyata simple dan cukup mudah! *norak* hahaha Ya semoga saja aplikasi ini bisa semakin helpful saat gue lagi ngablu dan bingung harus menumpahkan isi kepala gue kemana hahaha tapi sorry2 aja kalau nanti bakal ada typo di mana2 karena gue ngetik pakai hp! Tapi ga ngaruh juga sih, siapa juga yang baca hahaha

Mari mulai....

Mungkin hari ini gue akan membahas lagi perihal self-esteem. Belum habis di kepala gue bahasan mengenai ini.

Gue pernah membaca di salah satu blog teman mengenai hal ini. Mengenai kepercayaan diri wanita akan dirinya yang seringkali luntur perihal kecakapan fisik dan menimbulkan suatu perasaan yang gue sebut dengan low-self-esteem.

Pernah gak lo semua menemukan seseorang yang seringkali mencemooh orang lain perihal penampilan fisiknya? Mungkin maksud hati hanya candaan, namun, hal-hal seperti itu sebenarnya dapat merusak mental seseorang secara tidak langsung dan dalam jangka panjang. Mungkin salah satunya adalah gue yang merasakan hal itu.

Seseorang yang sudah merasakan low-self-esteem tersebut menurut gue butuh waktu yang tidak sebentar untuk mengembalikan rasa percaya dirinya. Selain dorongan dari dirinya sendiri, dorongan dari lingkungan sekitar pun dibutuhkan. Intinya adalah, buat dia menyadari bahwa dia istimewa melalui kelebihan-kelebihan yang dia miliki.

Everyone is unique. Setiap orang tidak mungkin tidak memiliki potensi di dalam dirinya yang bisa dibanggakan dan membuatnya istimewa. Lingkungan sekitar harus bisa menyadarkannya akan hal itu. Selain itu, dorongan untuk mensyukuri apa yang telah dimilikinya itu lah yang terpenting.

Ya, bersyukur.

Menyadari bahwa banyak sekali orang-orang yang sebenarnya memiliki lebih cukup alasan untuk merasa dirinya 'kurang'. Menyadari bahwa Tuhan telah memberikan rizki, baik yang menempel di dalam diri manusia itu sendiri maupun faktor elsternal. Bersyukur adalah kunci kepercayaan diri menurut gue. Namun, untuk menyadari keharusan untuk bersyukur, harus dengan didukung oleh berbagai pihak, terutama keluarga dan sahabat terdekat.

Semoga orang-orang di luar sana, termasuk gue sendiri, bisa mulai menyadari seluruh rizki yang telah Tuhan berikan.

No more low-self-esteem. Lets others see our best-sides.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Cantik? Cantik itu seperti apa?

Mungkin saat ini banyak kalangan yang beranggapan bahwa canti itu seperti yang ditampilkan wanita-wanita di televisi. Tapi, lebih dari itu, sebenarnya definisi dari cantik menurut jiwa idealis gue ga sesempit itu.

Lalu seperti apa?

Jika bertanya kepadakaum pria, mungkin cantik itu adalah seperti yang terlihat di televisi. Rambut hitam tebal tergerai indah, kulit putih dan bersinar, hidung mancung, mata besar, dan postur yang proporsional.

Namun akan berbeda jika kita bertanya kepada kaum wanita. Mayoritas dari mereka pasti akan menjawab dengan jawaban ideal, seperti; cantik itu adalah bagaimana seseorang membawa diri, cantik terlihat dari kecerdasan seseorang, ataupun cantik adalah ketika seorang wanita  memiliki rasa percaya diri serta dapat merawat diri dengan baik.

Tidak percaya? Silakan melakukan percobaan. Gue bisa menyimpulkan hal tersebut, bukan karena gue pernah secara sengaja melakukan riset mengenai hal tersebut. Namun, kesimpulan itu datang berdasarkan referensi yang gue temukan--mungkin setiap hari--sampai saat ini.


Mengapa bisa ada perbedaan pandangan seperti itu?

Mungkin kalian pernah mendengar pendapat yang mengatakan bahwa pria memang diciptakan sebagai makhluk visual, sedangkan wanita diciptakan dengan visual-sense yang lebih lembut, serta lebih merasakan menggunakan hati. Menurut gue, ya, pendapat itu mungkin saja benar karena telah melalui proses penelitian panjang dan melibatkan banyak kalangan ahli. Atau mungkin saja, kaum wanita menjawab seperti itu karena mereka adalah wanita. Hahaha ngerti ga? Ok, now, lemme share my opinion (just my own opinion, no offense).

Perbedaan pendapat dan deskripsi "cantik" dari dua gender yang berbeda, menurut gue, disebabkan oleh banyak faktor. Faktor terbesar yang memengaruhi hal tersebut menurut gue adalah media yang ada di sekeliling kita. Setiap hari tidak ada di antara kita yang unconnected from the media. Setiap hari banyak sekali pesan-pesan, yang secara tidak sadar, masuk dan "melekat" di otak kita. Salah satunya adalah terpaan media mengenai penggambaran atau definisi "wanita cantik" secara umum.

Coba lihat. Hampir semua merek produk kecantikan menggunakan talent yang memiliki karakter fisik seperti yang digambarkan oleh kaum pria; rambut hitam tebal tergerai indah, kulit putih dan bersinar, hidung mancung, mata besar, dan postur yang proporsional. Jarang sekali--atau bahkan tidak ada--produk yang menampilkan talent berkebalikan dengan ciri-ciri tersebut. Kalaupun ada talent berkulit gelap, penggambaran pesannya akan tetap sama, yaitu gelap yang eksotis, punya mata indah, hidung mancung, rambut berkilau, dan bibir yang sempurna. Jika dideskripsikan ke dalam seorang figur, mungkin seperti Titi Rajo Bintang ataupun Beyonce. Namun, menurut gue, hanya sedikit pria yang mengatakan bahwa kedua figur tersebut cantik.

Hal-hal tersebut lah yang menurut gue merupakan penyebab adanya persepsi dan deskripsi "cantik" seperti yang sekarang tertanam di otak kita.

Mengapa demikian?

Seperti yang telah gue katakan sebelumnya, menurut hasil penelitian, pria adalah makhluk visual (terlampir), sedangkan wanita memiliki visual-sense yang lebih halus dibandingkan dengan pria. Based on that studies, didukung dengan terpaan media yang terus menerus mengirimkan pesan ke dalam otak kita, serta media-media yang mayoritas menggunakan media visual, maka terbentuklah persepsi dan definisi "wanita cantik" seperti yang beredar saat ini. Karena pria lebih menekankan pada sisi visual, dengan didukung oleh gambaran visual "wanita cantik" yang diberikan oleh media, maka terciptalah definisi cantik menurut pria. Sedangkan wanita, karena mereka menggunakan visual-sense secara lebih halus, maka terpaan media tersebut tidak terlampau memengaruhi definisi mereka. Namun sekali lagi, mungkin saja mereka memiliki definisi seperti itu, karena mereka adalah wanita hahaha sekali lagi, ngerti ga? Hmmm.

Berpaling dari analisis dan kesimpulan seadanya di atas, tak dapat dipungkiri bahwa satu hal pasti yang berkembang saat ini yaitu, cantik adalah seseorang yang memiliki rambut hitam tebal tergerai indah, kulit putih dan bersinar, hidung mancung, mata besar, dan postur yang proporsional. Persepsi nyata tersebut--yang menurut gue termasuk eksploitasi terhadap wanita--ternyata bisa memberikan dampak negatif, terutama bagi kaum wanita itu sendiri.

Saat ini berapa banyak wanita yang menginginkan dirinya "cantik" seperti yang dideskripsikan secara umum? Berapa banyak wanita yang terobsesi dengan "kecantikan" media dengan melakukan berbagai cara, seperti operasi pelastik, implant, dll? Dan.......berapa banyak wanita yang memiliki low self-esteem akibat dari definisi umum tersebut?

Mungkin salah satunya adalah gue. Entah mengapa, saat ini gue sedang sangat merasakan low self-esteem tersebut. Gue merasa tingkat kepercayaan diri gue luntur, tur, tur. Hahahaha. Mungkin gue terkena dampak dari definisi "cantik" yang sekarang sedang beredar. Atau mungkin ada faktor lain? Ya seperti yang kita ketahui bersama, gue ga memiliki karakter "wanita cantik" secara umum seperti yang "mereka" katakan. Jauh sih hehehe sebenarnya gue oun sedih, kenapa gue bisa sampai merasakan hal seperti ini. 

Menurut yang gue rasakan, dari low self-esteem ini bisa menyebar dan berdampak luas. Salah satu yang paling terlihat adalah "membandingkan". Seseorang dengan low self-esteem mengenai kecantikan--pada awalnya--, mereka akan selalu membandingkan dirinya dengan orang-orang disekitar. Begitu mereka tersadar kalau dirinya "tertinggal", semakin lama akan semakin menyebar luas. Hmm begini, mungkin pada awalnya mereka hanya merasa rendah diri dalam hal rupa fisik dengan lingkungan sekitar, namun, ketika melihat lebih jauh lagi, muncul-lah berbagai statement dan faktor-faktor lain yang semakin memperburuk self-esteem mereka. Bisa dalam hal kemampuan, pengalaman, pencapaian, atau apapun itu. Gue juga bingung sih apa yang harus gue lakukan kalau udah kayak gitu hahahaha

Yaudalah segitu aja. Ntar makin ngelantur!

Bye!


Appendix:
"In men, the dominat perceptual sense is vision, which is typically not the case with women. All of woman's sense are, in some respects, more finely tuned than those of a man."
"....Women are not excited by a picture of male genitalia by itself. Men like female genital close-ups in porn magazines because it is a thing to which they can imagine doing things."
(http://www.netnanny.com/learn_center/article/165/)

The other article says:
"The emotion control center of the brain, the amygdalam shows significantly higher levels of activation in males viewing sexual visual stimuli than females viewing the same images, according to a Center for Behavioral Neuroscience study led by Emory University psychologists Stephan Hamann and Kim Wallen. The finding, which appears in the Aprill edition of "Nature Neuroscience," demonstrates how men and women process visual sexual stimuli differently, and it may explain gender variations in reproductive behavior."
(http://www.sciencedaily.com/releases /2004/03/040316072953.htm)


ps; selain dari ke dua link di atas, gue pernah mendapatkan materi mengenai ini dalam mata kuliah Sosiologi Komunikasi, pada semester 3, dengan dosen bernama Dra. Rosy Tri Pagiwati, MA.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Halo...

Baru gue sadari kalau ternyata udah lamaaaaaaaa banget ga nuangin semua curahan hati ke sini. Maklum, tahun 2014 merupakan tahun yang hectic. Di tahun ini GUE LULUS KULIAH! Yeaaaay! Sekarang nama gue udah ada embel2nya. Yaa, walaupun masih A.Md, tapi semua butuh proses hihihi

Sebenernya banyak banget hal yang ingin gue bagi di sini selama satu tahun terakhir. Dari mulai pengalaman selama TKA, pikiran2 aneh, pertanyaan2 ga penting, pengalaman bahagia, ataupun kerinduan. Tapi bingung juga kalau harus nulis semua satu persatu. Karena kebanyakan, semua cuma bisa sampai di otak aja, ga bisa gue jabarkan ke dalam kata2. Hahaha. Padahal pingin banget. Berbagi. Nulis. Luapin emosi. Tapi ya apa daya, terlalu sibuk sepertinya wkwkwk

Mungkin mulai sekarang akan gue mula coba lagi menulis. Karena sebenarnya, menulis punya banyak manfaat dan gue memang cukup suka menulis. Yaa, semoga aja berikutnya gue ga males hahaha

See u!
Share
Tweet
Pin
Share
2 comments
Mungkin kamuflase.

Antara cinta dan benci.
Mungkin saja kamuflase.
Apa yang kamu rajut di bibir, dengan yang kau guratkan di dalam hati.

Mungkin kamuflase.

Antara tingkah laku, dengan pikiran.
Tapi untuk apa?
Mengapa bertingkah seperti bunglon, bila kadal pun bisa tetap hidup. Kalian satu spesies bukan?
Mengapa harus menjadi sotong, jika cumi-cumi saja bisa berenang bebas dan berkembang biak. Itu artinya ia tak kekurangan makan, kan?

Kamu seperti bunglon saat berlindung dari predator. Dan mungkin seperti sotong saat akan memburu mangsa.

Takdir? Keinginan diri? Atau bahkan hanya sebuah tuntutan keegoisan?

Bencimu. Cintamu.
Mungkin hanya kamuflase.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Sudah beberapa tahun terakhir cahaya itu ada. Tetap bersinar tak pernah redup, apalagi padam. Bukan inginku untuk menjaganya tetap terang benderang. Namun ego hati yang selalu membiarkannya menyala.

Ada kalanya aku pun merasa silau. Namun apa daya, aku butuh cahaya. Aku harus menjaganya tetap bersinar. Bukan keinginan, namun kebutuhan.

Ingin rasanya kuredupkan. Tapi aku belum menemukan satu pun cara yang berhasil! Selalu saja gagal. Wah, ternyata aku belum menemukan tombol yang tepat untuk meredupkan dan mematikan cahaya itu.

Silau.
Cahayanya terlalu terang.
Kadang melihatnya pun enggan.
Kadang pula, tak cukup kuasa ku untuk hanya sekedar memandang.

Ia akan terus terjaga.
Menyala.
Bercahaya.

Sampai pada akhirnya nanti aku menemukan di mana tombolnya.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Dengan perlahan ku ambil selembar kertas putih. Kertas itu kudapat dari sebuah buku yang mungkin sudah lama sekali tak terjamah.
Kertas putih itu sudah tak seputih saat aku pertama kali memilikinya. Banyak ngengat yang menyukainya, ternyata. Namun tak apa. Toh masih bisa digunakan untuk menulis.

Tak berlama-lama. Kutulis sebuah surat. Untuk kertas itu. Di atas kertas itu. Kira-kira begini isinya.
Hai, sudah lama tak jumpa. Sudah lama kamu tersimpan rapat di dalam tempat yang sulit dijangkau. Tak sempatkah kau merawat diri? Tampilanmu begitu usang. Mungkin kenyataan yang membuatmu begini.
 Aku di sini, ingin mengingatmu kembali. Bahwa kau masih ada. Bahwa kau tetap berfungsi seperti kertas lainnya. Untuk menulis, memberi pesan. Aku di sini, ingin menjalankan fungsi itu lagi. Tidakkah kau keberatan?
Bagaimana harimu? Bagaimana rasamu?
Mungkin ini hanya permulaan. Untuk melanjutkan kisahku lembar demi lembar, dan menyusunnya di buku itu.
Mungkin ini hanya permulaan. Setelah sekian lama ku tutup rapat dan kusimpan buku itu.
 Kini kucoba memulainya. Membuka halaman berikutnya. Melihat kertas-kertas yang mulai usang. Dan mencoba merangkai kata demi kata.
Mungkin sekarang baru ini yang bisa kutulis. Karna ini baru permulaan. Aku pikir, ini awal mula yang hebat. Terlalu berani, namun harus begitu. Karna kalau tidak, kapan lagi?
 Mungkin ini hanyalah beberapa bait pendahuluan. Dan mungkin akan terus bermunculan bab demi bab baru. Mungkin. Ya, mungkin. Aku hanya berharap itu bisa terwujud.
Tapi yang pasti, saat ini sudah kuberanikan diri. Mencari buku itu, membukanya, membalik halaman berikutnya, dan menemukanmu. Lalu dengan leluasa aku membuat goresan tinta di sini. Di atas kamu.
Semoga semua selalu berjalan baik-baik saja.
Semoga semua berjalan dengan semestinya.
Dan semoga..... Awal mula ini akan terus berjalan secara kontinyu dan tak semu.
p.s: Jangan merindukanku yang mungkin akan lama tak menjamahmu. Aku sedang dalam tahap mencari padanan kata yang tepat untuk kutuliskan diatas kamu. 
Kira-kira begitu surat yang aku tulis di atas kertas itu.

Semoga :)
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Kukirim berjuta puisi untukmu. Dalam sekejap pun aku telah berubah menjadi pujangga kawakan.
Menertawakan kisah pilu dalam bentuk kata-kata cinta. Mungkin maksudnya hanya untuk menutupi, berbagai nuansa hitam yang selalu menghampiri.

Aku takut.

Dalam kesendirian malam.
Dalam doa yang kupanjatkan.
Dalam sikap yang kulakukan.
Dalam liku yang kutempuh.
Dalam aturan dunia yang tak dapat diubah.

Bagaimana kelak?
Siapa gerangan?
Apa situasinya?
Di mana lokasinya?
Dan..... Kapan itu berlangsung?

Berputar. Selalu terpikir.
Tidakkah aku lelah?

Ketakutan munafik.
Kenaifan diri,
akan hal-hal indah yang sedang menantiku di ujung terowongan.

Ketakutan.....
Satu hal menakutkan yang takut untuk ditakutkan.

Ketakutan.....
Akan hal itu.

Hal itu.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Sering saya terpikir, siapa kamu?
Siapa kamu yang akan mendampingi saya?
Siapa kamu yang akan menemani saya?
Siapa kamu yang kan hidup bersama dengan saya, terus bernaung dan selalu berbagi dengan saya?
Siapa kamu yang akan saya lihat setiap pagi saat saya membuka mata?
Siapa kamu yang kelak akan saya panggil ayah?
Siapa kamu yang kelak akan mencium kening saya dan keningnya--anak kita-- sebelum pergi bekerja?
Siapa kamu yang akan mencintai dan dicintai oleh saya sampai pada saatnya saya harus meninggalkan dunia ini?

Siapa kamu. Di mana kamu.

Belum kuasa saya membayangkan tentang kamu.
Kamu yang kelak akan menjadi sebagian dari jiwa saya. Kamu yang kelak akan mengimami saya.

Belum kuasa saya membayangkan bagaimana bisa saya selalu hidup bersama denganmu.
Berdampingan, beriringan, berjalan bersama-sama.

Siapa kamu. Di mana kamu. Sedang apa dirimu.

Bagaimana sosokmu, perangaimu, sikapmu, kepribadianmu.
Kadang saya merasa takut.
Membayangkan sesuatu yang akan terus ada selama sisa hidup saya.
Kadang saya takut. Baik saya dan kamu, akan gagal membinanya.
Kadang saya takut, kalau pada akhirnya, 'rasa ini' akan tetap, terus, dan selalu ada.
Saya takut mengecewakanmu...

Mungkin saat ini saya masih belum bisa membayangkan, terutama meyakinkan diri saya akan 'tahap' itu.
Bersama sosok pengganti ayah. Bersama sosok pemikul tanggung jawab. Bersama sosok--yang kata orang--belahan jiwa.

Siapa kamu. Di mana kamu.
Saya yakin suatu hari nanti saya akan menantimu.
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Hi, I'm Ashila Ramadhani, and welcome to my blog. Most of my previous posts were filled with my random thoughts, poems, and life-stories, but I'm trying to make this blog more meaningful :p from now on, I will fill it with my other (useful) thougts, my life-changing-experiences, my artworks, and my traveling experiences. Enjoy it!

Get Connected

  • LinkedIn
  • Facebook
  • Pinterest
  • Instagram

Categories

  • thoughts

recent posts

INSTAGRAM

@ashilaramadhani

Blog Archive

  • ▼  2025 (2)
    • ▼  July (2)
      • Tak Jadi Hujan
      • Ruang yang Tak Jadi Apa-Apa
  • ►  2024 (1)
    • ►  December (1)
  • ►  2016 (10)
    • ►  October (2)
    • ►  June (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
  • ►  2015 (21)
    • ►  December (2)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (3)
    • ►  February (2)
  • ►  2014 (3)
    • ►  December (3)
  • ►  2013 (14)
    • ►  November (2)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (2)
    • ►  March (3)
    • ►  February (3)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (5)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  February (1)
  • ►  2011 (6)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (2)

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates