• HOME
  • ABOUT
  • THOUGHTS
  • TRAVEL STORIES
  • CONTACT
Instagram LinkedIn Facebook Twitter Pinterest Tumblr

Ashila Ramadhani

Kesempatan tidak datang dua kali, katanya. Sering gak sih kalian merasa menyesal karena tidak mengambil kesempatan besar di depan mata, padahal, menurut kalian, kalian berpeluang dan berpotensi untuk mendapatkannya? Pasti pernah, saya rasa. Begitu pun saya.

Seringkali saya melewatkan banyak hal, yang padahal sudah “dadah-dadah” dengan sangat manis di depan pelupuk mata saya. Namun entah setan apa yang memengaruhi, akhirnya saya pun melewati berbagai kesempatan tersebut. Padahal saya yakin saya memiliki ability dan availability untuk turut serta maupun berkompetisi, walau saya juga tidak bisa memastikan hasil akhirnya. Setidaknya optimis dan berani mencoba.

Mencoba lebih baik daripada tidak sama sekali. Dan, gagal ketika sudah mencoba akan jauh lebih baik daripada gagal tanpa pernah memulainya. Rasa menyesalnya pun, percayalah, akan sangat sangat sangaaattt lebih besar ketika kita gagal karena tidak mencoba! Setidaknya, ketika kita sudah mencoba, akan banyak input baru yang bisa didapat. Bisa introspeksi, bisa perbaikan diri, menambah pengalaman, dan sebagainya.


Melalui tulisan ini, saya berjanji kepada diri  sendiri, saya tidak akan lagi overthinking. Jika ada kesempatan, harus saya coba entah apa pun hasilnya dan bagaimana pun keadaannya nanti. Harus, harus, harus! Hemm. Juga, mencoba berpikir simple dan tidak memikirkan terlalu jauh hal-hal yang sebenarnya belum waktunya dipikirkan. Dari evaluasi yang saya jalani, keengganan mengambil kesempatan itu biasanya karena saya terlalu memperrumit keadaan juga pikiran. Jadilah terlalu banyak pertimbangan dan akhirnya berakhir penyesalan haha dan itu guilty banget sih rasanya, saya sudah merasakannya beberapa kali.

Tapi, Bismillah, semoga masih banyak kesempatan-kesempatan baik lainnya di depan sana. Saya harus jadi lebih baik.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Dia tidak pernah memintamu untuk hadir membawa diri, menjadi teman di keheningan hari

Dia tidak pernah memintamu untuk selalu di sisi, menerjang sepi yang seringkali menghampiri

Dia tidak pernah memintamu untuk menanti, perjalanan panjang yang akan dilalui

Dan...... tak pernah pula dia memintamu pergi, mengibas rindu yang seolah telah mati

Dunia memang tak hentinya menghadirkan pentas-pentas yang tak pernah hakiki.

Dalam sepi.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Akhir-akhir ini, saya sepertinya memiliki kegemaran baru, yaitu membaca.
Agak aneh, karena sebelumnya saya tidak terlalu gemar membaca. Mungkin ada satu alasan yang mendasarinya. Tapi saya juga tidak bisa menyimpulkan hal itu menjadi satu-satunya alasan :P

Sedari kecil, saya terbiasa 'dicekoki' dengan buku bacaan penuh gambar sedikit tulisan. Mungkin karena Ayah saya seorang pelukis, jadi lah kami, anak-anaknya, secara tidak sengaja digiring ke hal-hal yang berbau visual.

Hingga saya SMP, saya masih berkutat dengan buku bacaan senada. Namun beranjak SMA dan berkuliah, sepertinya buku bacaan dengan jenis seperti itu sudah tidak cocok lagi. Amat jarang pula buku bacaan untuk remaja yang didesain dengan penuh gambar dan warna. Mentok-mentok paling komik seperti Benny&Mice, atau pun buku resep memasak hahaha kebanyakan yang ditawarkan adalah novel yang ditulis di atas kertas polos dengan penuh kalimat dan kata, serta berlembar2 tebalnya. Bagi anak visual seperti saya, itu membosankan. Jadilah saya tumbuh dewasa menjadi seseorang yang kurang minat membaca bacaan panjang dan lebih suka diceritakan hehehe

Kurangnya minat membaca bukan berarti saya tidak pernah membaca. Bukan novel, saya lebih tertarik untuk membaca artikel berita online, koran, ataupun majalah. Apalagi jika topiknya saya suka; pariwisata, tata surya, komunikasi&brand; aviation, kuliner, lifestyle, inovasi, film, kehiduan sosial, atau biografi tokoh yang bisa menginspirasi karir dan kehidupan haha pasti saya baca :P

Akan tetapiiiii, dalam beberapa bulan ini (saya sebenarnya juga bingung apa yang sebenarnya mendasari), saya jadi suka membaca novel dan buku sejenis! Malah, satu novel pernah saya habiskan hanya dalam beberapa jam saja. Itu termasuk satu pencapaian bagi saya, karena biasanya saya menghabiskan satu buah novel dalam waktu 1 bulan hahahaha

Setelah satu novel yang sukses saya baca dalam beberapa jam itu, saya pun memulai untuk membaca buku-buku lainnya. Saat ini saya sedang membaca buku ke tiga dalam bulan ini; Jalan Cinta Para Pejuang karya Ustadz muda Salim A. Fillah. Mengapa saya baca? Menurut resensi dan referensi orang lain yang saya temukan sih, beliau termasuk salah satu penulis muda yang berbakat. Nah, pas saya coba baca, memang gaya tulisan dan bertuturnya sepertinya pas dengan diri saya. Ayah saya pun ternyata juga menyukai gaya tulisan beliau. Telat yah saya baru tau :P

Kegemaran baru ini juga tiba-tiba mengingatkan saya pada salah satu dosen yang pernah berkata bahwa "bacalah buku sebanyak-banyaknya, buku itu gudangnya ilmu, baca buku apa pun, karena gak ada yang sia-sia." Jadilah saya semakin terdorong untuk mulai terus membaca, membaca, dan membaca. Ditambah lagi, salah satu kutipan dari Gurutta, dalam Novel Rindu, Tere Liye, kira-kira seperti ini:

"Jika kau ingin menulis satu paragraf yang baik kau harus membaca satu buku. Maka jika di dalam tulisan itu ada beratus-ratus paragraf, sebanyak itulah buku yang harus kau baca."

Naaah, karena saya memang bisa dibilang suka menulis, setelah membaca kata-kata itu, saya semakin semangat untuk membaca untuk memperbaiki tulisan-tulisan saya hahaha

Doa dan harapan saya sih satu, semoga saya istiqamah dan bukan hanya kegemaran sesaat hahaha mari berucap Aamiin

Saya tau mungkin saya memang terlambat. Ketika di luar sana banyak orang seusia saya sudah berkutat dengan bacaan yang super-berat dan sudah memiliki ilmu yang luas karena membaca, namun, saya yakin tidak ada kata terlambat untuk merubah diri menjadi lebih baik. Semoga yang saya niatkan ini bisa membuat saya menjadi wanita yang lebih baik. Pinginnya sih wanita cool dan cerdas hahaha Aamiin

-AR-

Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
photo source: theverge.com

The movie is great!

This space sci-fi movie "The Martian," is based on Andy Weir's book of the same name, and tells the story of an astronaut, Mark Watney, who is accidentally left behind on Mars and must struggle to survive. After two weeks from the released date, The Martian topped the box office in the U.S. and Canada as LA Times reported on Oct 11th, 2015. In other side, BBC News also reported the same thing; it flies high in the U.K film chart and became the top film at U.K box office for a second week. 

Besides Watney as the lead character, The Martian also highlights two women of "the female lead." The first is Jessica Chastain as Commander Lewis. She's a hard ass, respected leader of the crew with some big decisions to make and facts to face. And the second is Kristen Wiig as Annie Montrose, Head of Public Relations for NASA, who becomes spokeswoman for NASA to convey any news to media, esp. for this case. Well, they have a big role because their decision can influence other and make a great effect of the storyline itself.

However, I won't write any review here. And now coming to the point I am trying to share my little thoughts and opinion about one thing I could catch; a basic PR knowledge which PR person can learn from. (Maybe it's just me who can realize it, or is there anyone outside who can realize it too? Idk.)

So, here we go!

As a PR student and been being a PR Officer (although I'm just a beginner), whether I realize it or not, my sense of PR is increasing strongly and it makes such an incisive-sight for things related to PR. (Yeah I hope so :P)

At first I watched this movie, I was just excited because this movie tells about space sci-fi which is my interest since I was kid. So, just in a short time, this movie successfully got my attention after Gravity in 2013 and Interstellar in 2014. After minutes enjoying this movie, I just thought that it reveals viewer (who realize it) about PR work, especially its role in a big, influential, and well-reputed organization like NASA.

NASA encounters a crisis when it gets news about Mark Watney who is presumed dead on Mars and is then abandoned by his crew following a violent storm there. The public and media become so critical and curious. Many questions asked, and the news-flow couldn't be well-monitored. It's when a PR person takes their role to be a "vanguard" of the organization, NASA.

In this case, Annie Montrose, NASA's PR representative, plays her roles well, as I thought. She knows how to communicate with media effectively. She knows how to put herself right with confidence character. She also assists with the overwhelming amount of international PR crisis they are facing. Annie is charged to rallying public support for the rescue mission of Watney while everyone's refusing-because it's only for one man-. And yes, shaping public opinion and support is kinda hard, but she succeeded.

Here I can sum up some of her roles and what we can learn from as a PR person, especially in a part of crisis management:

1. Create a proper key-message

Public support takes big part to the rescue mission of Watney, and we can build it with a proper key-message through media, as media is influential channel to create public opinion. It's important to create a proper message when it comes to crisis management. A key message which fitted and met mutual-interest and mutual-benefit between public, media, and organization could control the news flow. NASA should've gotten a bad image after that incident, but, with an openness filled by proper key-message, then they could manage it effectively.

The message delivered also should be in-line at all aspects; press release, press conference, and even BoD's speech like what I will explain in number 3. Maybe this's why Annie always prepared and guided NASA's Director's speech right before they hold press conference.

What we can learn: a key message can control a biased news and build support, so before addressing the media, think about key points we want to convey.

2. Being open to the media

What was happening in NASA is a big news and got a huge public attention. Maybe we can mention it as a crisis. Well, crisis are by definition newsworthy, and members of the media will attempt to generate as much information as possible about the story (Stoldt, 2012). So, I think it can be a big disaster and impair company's image, or it can be a benefit for the company. What we will get after it, both positive or negative impact, is determined from how we manage the crisis itself.

Thing we can catch from Annie Montrose in this film is, being open to media is one of PR's fortes that we should apply. In this film, NASA, together with Annie, holds "hourly press conference" to show up the progress; from the first time Witney was left behind and then they know that Witney is still alive, later a time they can start communicating with Witney, and finally about the rescue until it is successful. NASA, which has already had credibility in the public's eyes, tries not to hide all updated news deserve to be published. And my lecturer ever said, being open is one of things which public wants, especially when crisis comes.

What we can learn: do not hide any updated news about progress in a crisis if we don't want miscommunication happens between company and its public. Because at that time, public tends to be more active and curious.

3. Keep calm when it goes to press conference

Press reporters in this movie still don't get the concept of asking question one by one. They all jump up in mass hysteria and shout. I think it's because NASA is one of an influential enterprise there. So, if we are holding a press conference things can get crazy. But we can handle it with a composure and answer it clearly.

In this case, Annie Montrose had already prepared Teddy Sanders (played by Jeff Daniels), as NASA's Chief Director, to deal with the press reporters. She asked Sanders to maintain his answers and be able to clearly and concisely get across the company's key message without sounding forced or artificial.

What we can learn: be prepared; think about all questions we could be asked and develop an answer for them before the interview. Keep a kindness, straight to the message we've planned, have an understanding of a journalist's role, and know how communicate with them effectively.

4. Create a good PR Writing (good photojournalism)

In one scene, I can see that Annie's taking a concern about press release will be delivered to media and public. NASA asked Witney to take photo in Mars to be published in media. Witney then took a photo of himself with a "funny" style, and Annie complained it right after she got that picture. From that scene above we can learn that a good photojournalism is one of important things in the making of PR news. It can build a news-value itself.

"As PR, we should have ability to capture a moment which can tell public a 'story'," as my lecturer said. Darmastuti (2012) also said, PR function essentially is as a journalist and report objectively any news from organization to the public. So, in this case, we should have ability, not only to create a truthful news, but also choose a proper photo to be published, and still, it should be aligned with a key-message and also journalism ethics applied about photography.

"Because a picture worth a thousand words."

5. Keep your calm and composure

And the last but not least, a cool thing that I can catch from is, keep yourself calm and cool! Well, as I learned before, in a difficult situation, a PR person has to keep their composure and not lose focus. Because the company will painted with a bad reputation if a PR, as spokesperson, responds negatively to any disruption or question. There's a saying:

"Many times crisis results when composure is missing"

(Quoted from Forbes)

And don't forget to keep a good demeanor!

***

And finally, what I can conclude here is, the film is great (Esp. Annie's acting in this movie) and PR person is cool *so proud* :P What happen in NASA can teach us how to put ourselves right. But beyond that, I don't think that this may be takes away from the great work of scientist like Rich Purnell (played by Donald Glover-one of character I like in this movie-) and Mindy Park (played by Mackenzie Davis). I just think that PR person, Annie, deserves her fair share of praise. Her roles is critical. We can see that PR is also influential in supporting the rescue mission of Witney.

And last, welcome back Witney!
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Catatan kecil, 7 Juli 2015.

________________________________

Hidup memang tak pernah lepas dari segala keuinikannya, naik-turun serta berputar, yang membuat hidup itu sendiri menjadi sangat beragam warna.

________________________________

Beberapa bulan terakhir saya seringkali memperhatikan jalanan pulang yang setiap hari saya lalui. Saya menemukan bahwa ada banyak--mungkin lebih dari sepuluh--pemulung, baik seorang diri maupun bersama keluarga, di sepanjang jalan Margonda Raya, Depok. Mereka semua benar-benar terlihat kompak, dengan atribut karung yang saya tidak tahu apa saja isinya, serta tikar beragam jenis dan warna yang sudah tergelar rapih (yang barangkali) untuk menemani mereka tidur. Jarak antara satu pemulung dengan yang lainnya pun tidak berjauhan, kira-kira hanya sekitar 5-10 meter. Depok di malam hari pun berubah menjadi pertunjukan kehidupan yang dramatis.

Dari banyaknya pemulung yang saya temui itu, beragam aktivitas dapat terekam. Ada yang sudah terlelap tidur, ada yang sedang bersenda gurau dengan keluarga, ada yang sedang menyusui anaknya, dan ada pula yang sedang lahap menikmati makan malamnya. Dari yang saya lihat, semua terlihat bahagia, di luar dari keadaan pelik yang setiap hari mereka rasakan.

Masih di lokasi yang sama, perhatian saya tertuju pada dua buah keluarga yang setiap malam selalu mengisi tempat itu, tidak pernah absen. Dua buah keluarga berbeda dengan tempat yang sedikit berjauhan, namun mereka selalu memancarkan keceriaan dan kehangatan yang sama.

Keluarga pertama berada di trotoar setelah perumahan elite Pesona Khayangan. Mereka berjumlah empat orang; satu bapak, satu ibu, dan dua orang anak laki-laki dan perempuan yang masih berusia balita dan anak-anak. Setiap malam ketika saya sedang melewati jalan itu, mereka hampir selalu sedang melakukan aktivitas yang sama, yaitu berbincang hangat dengan senyuman ringan yang selalu menyelimutinya. Mereka terlihat bahagia, seperti tak memimiliki beban yang harus dipikul. Padahal setiap malam mereka harus merasakan ketidaknyamanan tidur di pinggir jalan--Itu pun menurut opini saya yang memang belum pernah merasakannya--.

Tak jauh berbeda dengan keluarga ke dua. Ditemani dengan gerobak mungil dan alas tikar yang seadanya, keluarga itu terlihat santai menikmati malam sambil mengobrol dan bercanda dengan anggota keluarga sambil menyimpulkan senyuman. Terlihat hangat, juga menentramkan hati. Entah apa yang mereka bicarakan. Yang hanya saya tahu, mereka terlihat bahagia dan menikmati setiap detik waktunya :") tak ada kemewahan, apalagi gadget. Sungguh berbeda pemandangannya dengan realitas ibu kota di sudut yang lain.

________________________

Di sepanjang perjalanan saya pulang, memang banyak sekali pemandangan realita kehidupan ibu kota yang dapat ditemui. Rute yang cukup jauh dan menggunakan berbagai moda transportasi, mengharuskan saya untuk memperhatikan itu semua. Sebenarnya bisa banyak sekali pelajaran yang bisa diambil, salah satunya yang ingin saya tekankan di tulisan ini yaitu bersyukur.

Sudahkah saya bersyukur?

Ada yang pernah bercerita kepada saya bahwa sebenarnya hidup yang sedang kita jalani hari ini, adalah hidup yang sedang diidamkan oleh orang lain di dalam do'a-nya. Namun ternyata masih banyak orang yang selalu mengeluh dan merasa kurang dengan apa yang telah mereka dapatkan. Saya memahami memang tingkat kecukupan seseorang bersifat relatif. Akan tetapi, bersediakah kita merenung sejenak untuk mengingat dan mensyukuri setiap detik rizki yang telah Allah berikan kepada kita dan keluarga sampai saat ini?

Let's do self-talk!
Hemm. Saya boleh merasa kurang. Namun ketika orang lain ada di posisi saya saat ini, mungkin mereka bisa jadi merasa sangat-sangat bersyukur, karena memang 'yang begini' cerita hodup yang sedang mereka dambakan. Hem. Jadi sedih sendiri karena masih sering merasa kurang dengan apa yang sudah didapat. Padahal sebenarnya, seharusnya jiwa saya mendorong pikiran dan hati saya untuk selalj merasa cukup dengan apa yang sudah saya miliki saat ini. Masalah hidup yang lebih baik lagi, hanya tinggal perihal usaha yang dilakukan dan do'a yang dipanjatkan. Jika memang bersungguh-sungguh dan Allah mengijabah, hal itu pun akan mengiringinya. Ya, tho?

Yang penting adalah....... "Sudahkan kita  (dan saya) bersyukur?"

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Hidup itu pilihan.
Pilihan itu ada untuk menggiring kita ke arah hidup yang (mungkin) lebih baik.
Dan satu hal yang penting, memilih itu adalah hak asasi setiap manusia.

Jadi,

Apa ada yang salah dari memilih untuk meninggalkan?
Apa ada yang salah dari mencari hal yang lebih baik?

Sudah menjadi hak dan hakikat setiap manusia untuk selalu berusaha menjadikan hidup lebih berkualitas, dengan menemukan hal-hal yang lebih baik di setiap bidang kehidupan.
Jadi, apa ada yang salah dari meninggalkan hal yang baik untuk hal yang lebih baik? Toh manusia adalah makhluk egois, ya tho?

Sepertinya tidak salah. Wong tujuannya baik kan. Hehehe. Memangnya salah ya, meninggalkan pekerjaan lama untuk meniti karier yang lebih baik di pekerjaan yang baru? Kan tidak. Hem. Analoginya mungkin seperti itu.

Entahlah. Terkadang saya merasa amat sangat bingung, mungkin kadang muak, dengan aturan tak tertulis yang diberlakukan di kehidupan manusia.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Lama tidak berkuliah, saya pun rindu dengan tugas-tugas, terutama yang berhubungan dengan analisa. Saya juga merindukan masa-masa UAS, karena memang pada momen itu saya memiliki habit tersendiri.

Satu sampai dua minggu sebelumnya, saya biasanya sudah menyicil untuk belajar, baik merangkum, membaca catatan dari mata kuliah di kelas, atau pun berdiskusi dengan beberapa orang teman. Waktu berdiskusi pun merupakan waktu yang menyenangkan, karena saya memiliki teman diskusi yang asik, fun, kritis, namun paham perkembangan saat ini. Sebut saja mereka Hana, Hani, Nafira, para sahabat saya.

Kesibukan pekerjaan dan perkuliahan nampaknya membuat kami sudah jarang berkumpul dan (secara tidak disengaja akhirnya) berdiskusi. Mengenai apa pun. Paling hanya via grup chat saja, tapi itu pun intensitasnya tidak sering, lebih sering membahas hal-hal tidak penting--seperti jodoh hahaha--

Sejak beberapa minggu terakhir, saya sedang mengamati salah satu fenomena yang sedang menjadi hype saat ini, yaitu Go-Jek. Jika saya masih berkuliah, bisa saya pastikan akan ada banyak mata kuliah yang membahas dan memberikan tugas mengenai topik itu hahaha karena memang, kepopulerannya saat ini tidak terlepas dari keberhasilan program komunikasi dan pemasaran yang mereka lakukan.

Begitu pun jika saya masih sering berkumpul dengan para sahabat saya itu, pasti ada satu momen di mana kami sangat antusias membahas tentang hal itu haha belum lama saya sudah pernah sedikit membahas tentang hal ini sih dengan Nafira, tapi kurang puas hahaha nah, melalui media ini, saya ingin menyalurkan kerinduan saya akan berkuliah dan berdiskusi, juga 'kegatelan' saya untuk berkomentar mengenai salah satu brand yang sedang populer di masyarakat, yaitu Go-Jek.

Mari kita mulai!

Saya tekankan sebelumnya bahwa yang saya jabarkan di bawah ini tidak berdasar penelitian akurat juga teori-teori dari para ahli. Namun hanyalah berdasarkan hasil observasi dan wawancara serta ingatan pengetahuan yang selama ini saya dapat, baik dari perkuliahan, buku, maupun internet. Tau sendiri kan ingatan manusia seperti apa? Hahaha jadi sebenarnya tulisan ini sama sekali tidak bisa dibuktikan kredibilitasnya. Jangan dijadiin sumber info apa pun yaa hahaha :'D


Go-Jek.

Go-Jek adalah perusahaan layanan transportasi ojek sepeda motor yang mulai beroperasi sejak Februari 2011. Pada prinsipnya layanan Go-Jek layaknya ojek pada umumnya yang dengan kelincahannya bisa membawa penumpang menembus kemacetan lalu lintas Jakarta dengan cepat. Namun bedanya, menurut Kusnadi Mansyur, Operating Manager Go-Jek, jasa Go-Jek bisa dipesan melalui telepon, Facebook, ataupun Twitter, asalkan pemesan mencantumkan nomor teleponnya. (http://www.karbonjournal.org/focus/ojek-menyalip-go-jek-menyelip, diakses pada 28 Juli 2015, 12.28) Sedangkan, bila mengutip dari web resminya, Go-Jek adalah perusahaan berjiwa sosial yang memimpin revolusi industri transportasi Ojek. Go-Jek bermitra dengan para pengendara Ojek berpengalaman di Jakarta, Bandung, Bali & Surabaya dan menjadi solusi utama dalam pengiriman barang, pesan antar makanan, berbelanja, dan berpergian di tengah kemacetan.


Sisi Internal.

Dalam merekrut para driver-nya, Go-Jek memiliki beberapa prosedur pendaftaran. Hal ini saya ketahui dari beberapa kali melakukan wawanara informal dengan para driver dalam satu bulan ini.

Prosedur pertama, para driver harus memiliki SIM-C dan STNK resmi motor. Tahun motor pun tidak boleh kurang dari tahun 2010 (seingat saya). Para driver pun harus memiliki kesehatan mata yang baik, dan berusia tak lebih dari 50 tahun. Sebelum mendaftar, mereka diharuskan mengisi form pendaftaran dengan melampirkan fotokopi KTP, KK, SIM, dan STNK serta memberikan jaminan asli BPKB/Ijazah terakhir/KK/Akte Lahir/Buku Nikah untuk kemudian ditahan saat mereka menjadi driver.

Setelah itu, prosedur ke dua yaitu melakukan wawancara. Pertanyaan yang diajukan hanya satu, yaitu "Sedang bekerja atau tidak? Jika ya, apakah full-time atau part-time?" Berdasarkan wawancara, Go-Jek hanya bisa merekrut para driver yang tidak sedang bekerja, atau bekerja namun part-time. Menurut salah satu driver sih alasannya mungkin karena perusahaan juga tidak ingin dirugikan. Jika dia bekerja full-time, maka dia tidak bisa maksimal di dalam Go-Jek. Itu akan berdampak pada pendapatan Go-Jek itu sendiri (seperti yang diketahui, pembagian penghasilannya itu 80:20). Hehehe, analisa yang oke juga, bang! Namun, menurut salah satu berita di Liputan6, pihak perusahaan pun melakukan cek domisili, background check yaitu dengan menelpon istrinya untuk mengetahui kebenaran tempat tinggal, serta ada intervew perilaku. Saat menjadi driver pun, mereka akan terus dimonitor. Jika terdapat keluhan dari pelanggan, pihak perusahaan langsung memanggil driver yang bersangkutan dan mewawancarainya.

Prosedur ke tiga adalah cek kesehatan. Mata menjadi hal utama, karena merupakan indera paling penting untuk menjadi driver hahaha yaiyalah. Jika lulus, mereka harus mengikuti prosedur yang terakhir yaitu training dan workshop.

Proses training dan workshop ini dibagi menjadi beberapa kelas, antara lain pengenalan perusahaan, workshop safety riding, training cara melayani pelanggan dengan baik dan sopan, serta training penggunaan smartphone dan aplikasi mobile Go-Jek. Semua driver sih curhat gini "capek kak trainingnya uuugh ampe jam 9 malem dari jam 7 pagi" hahaha sabar yah bang.

Setelah training selesai, mereka baru diberikan smartphone (bagi yang belum punya), 2 jaket, 2 helm, dan perlengkapan untuk penumpang yaitu masker dan head cap. Mereka pun diberikan modal awal 100ribu untuk membeli bensin dan pulsa serta saldo di rekening CIMB Niaga-rekening ponsel- (lupa berapanya) untuk melayani jasa pick up food nya. Mereka juga bisa langsung mulai terima order saat itu juga. Kata semua driver yang saya wawancara sih prosesnya cepat dan profesional, hanya 2 hari. Dari yang saya dengar (dari curhatan mereka) pun, semuanya menguntungkan. Sang driver langsung semangat dan antusias gitu. Hahaha.


Saat telah resmi menjadi driver, mereka mendapat beberapa benefit, antara lain;
  1. Bonus 1. Jika berhasil mengangkut 10 penumpang dalam satu hari, mereka mendapat bonus dari perusahaan.
  2. Bonus 2. Para driver juga akan mendapat bonus sebesar 150ribu jika berhasil mengajak satu orang untuk menjadi driver baru Go-Jek.
  3. Sistem pembayaran 80:20 yang langsung dikredit ke rekening driver sesaat setelah selesai mengantar penumpang (jika penumpang memilih membayar menggunakan credit/corporate pin). Mereka pun jadi bisa mengambil hasilnya secara harian. Pakai rekening ponsel lagi, jadi mudah gaperlu menyimpan kartu ATM dan ngeluarin dompet pas ambil uang hehe
  4. Award. Menurut salah satu driver terrrr-asik yang pernah saya order, pihak Go-Jek secara rutin memberikan reward untuk driver dengan komentar positif terbanyak dan rating terbaik. Dan dia dapet itu! Wajar sih, asik banget, ramah bgt, baik banget. Mungkin karena masih nuda juga kali, yah haha
  5. Smartphone yang diberikan di awal dan dibayar dengan sistem cicilan selama 100 hari atau satu minggu. Besaran cicilan tergantung lamanya waktu.
  6. Asuransi jiwa jika terjadi kecelakaan.
  7. Training dan tes mengendarai motor dengan aman setiap 6 bulan sekali dari Polda (eh apa mana ya.... Hemm lupa hehehe
Hemm, bersedia untuk daftar Go-Jek, Mas&Mbak? Hehehe


Berdasarkan hal-hal tersebut saya melihat bahwa pihak Go-Jek sangat memperhatikan kepuasan pelanggan serta kesejahteraan karyawannya. Dari sisi kepuasan pelanggan, pemberian workshop dan training yang sedemikian rupa membuat para pelanggan menjadi merasa nyaman, puas, senang, dan ingin menggunakannya lagi dan lagi (termasuk saya hehehe). Sang driver menjadi sangat terbuka, namun tetap ramah dan sopan. Cara mengendarai motornya pun enak, gak ugal-ugalan, gak ngebut. Safe bgt deh! Hahahaha geli.

Kalau dari sisi driver, Go-Jek memberikan benefit sedemikian rupa agar mereka merasa nyaman dalam menjalani pekerjaannya. Karena jika mereka udah merasa nyaman dan in-to-GoJek banget (tsaelah), loyalitas driver pun menguat dan berdampak pada semangat sang driver untuk bekerja. Hal itu akan berbanding lurus dengan keuntungan yang akan didapatkan perusahaan :-) (btw jadi kangen kuliah bangeeetttt huhu)



Sisi Eksternal.

Masalah klise khas perkotaan, yaitu macet. Satu kata yang menjadi keseharian kota-kota di Indonesia, terutama ibukota Jakarta. Kemacetan yang menjadi momok terbesar ketika di perjalanan, sedikit teratasi dengan maraknya jasa ojek. Namun, tarif yang kadang "nembak" tepat ke dompet, sampai hal kecil terkait helm yang bau-nya hinggap sepanjang 'perboncengan', membuat jasa ojek yang bisa menjadi pilihan kerap dilupakan. Belum lagi beberapa 'bang ojek' yang mengendarai motornya dengan ugal-ugalan, semakin membuat orang berpikir dua kali untuk menggunakan jasanya, jika tidak sedang terpepet waktu.

Pada kelompok masyarakat lainnya, keengganan juga muncul karena terkadang mereka diharuskan berjalan cukup jauh terlebih dahulu untuk mencapai pangkalan dan mendapatkan ojek. Akhirnya, tidak sedikit juga yang lebih memilih menggunakan moda transportasi yang bisa menjemput ke rumah seperti taksi. Bertambah macetlah ibukota kita ini :) berdasarkan artikel yang saya baca, masalah kemacetan ibukota itulah yang menjadi salah satu lasan Nadiem Makarim, CEO Go-Jek Indonesia, dalam memulai bisnis ini. Selain itu, beliau juga peduli dengan cara yang para tukang ojek lakukan dalam mendapatkan penumpang yang menurutnya kurang efisien, yaitu dengan menggantungkan nasib pada tempat mangkal atau berkeliaran mencari penumpang di pinggir jalan dari pagi hingga larut malam.

Di sisi lain, kini sedang marak tren "BM" atau bisa disebut dengan 'ngidam' di kalangan masyarakat, khususnya anak muda (pendapat pribadi wkwk). Saya sendiri pun sering merasakannya hahaha tapi kebanyakan akhirnya saya urungkan karena rasa malas yang luar biasa untuk pergi ke tempat makan yang saya inginkan hahahaha kalau ngidamnya HokBen sih bisa delivery yah, tapi kalau ngidamnya Sushi Tei? Haha yang ada ngiler doang di rumah liatin gambar Salmon Hana Ikura yang seger banget hahaha di sini Go-Jek hadir untuk menjawab permasalahan itu, dengan menyediakan layanan untuk "membelikan" makanan yang kita mau dan langsung mengirimkannya ke rumah. Wihiiiii *mata berbinar*

Selain itu, Go-Jek juga bisa menjadi solusi bagi orang-orang pelupa seperti saya, perusahaan yang butuh jasa antar barang dalam waktu yang cepat, dan ibu-ibu yang sayang anak (?) "maksudnya?" iya, contohnya ibu saya ketika ingin mengantar masakan hari itu ke rumah Kakak saya tapi malas untuk pergi ke sana. Kami bisa menggunakan layanan pick up barang yang disediakan oleh Go-Jek hehehe praktis ya, semua menjadi mudah.


Why Go-Jek is becoming more and more and more popular nowadays?

Nah! Hal ini yang membuat saya geregetan ingin berkomentar, khususnya dari sudut komunikasi hehe tapi, analisa piyik saya akan saya jabarkan pada postingan berikutnya. Tunggu yaaa :D see ya! (kayak ada yangg baca aja wkwk)


Share
Tweet
Pin
Share
No comments
"Hidup tuh apa sih?"

Sering gak sih mikirin itu? Gue? Gabisa dihitung berapa kali gue punya pikiran kayak gitu dari SD sampai sekarang. Biasa, anaknya emang suka mikirin hal gak penting kayak, "kenapa sih daun dan pohon mayoritas warnanya hijau dan coklat?" or "kenapa sih manusia bentuknya gini?" wkwk.

Saat ini yang sedang gue pikirkan adalah hidup adalah suatu permainan yang sangaaaaaaattttt besar yang diciptakan oleh Allah. Mungkin game masa kini juga terinspirasi dari kehidupan ini kali yah, terutama The Sims. Hahaha.


Sebenarnya, yang gue pikirkan, hidup itu cuma ada 3 perkara;
Lahir
Hidup
Mati

dan dalam hidup kita akan bisa dipastikan merasakan ini;
Melihat kelahiran
Melihat kematian


Jadi, sebenarnya esensi real-nya seperti apa? Jika di dalam Agama, kita adalah orang-orang terpilih yang harus menjalani dan mengambil esensi kehidupan ini seperti yang telah tercantum di dalam kitab suci Al-Qur'an. Berbuat baik, bersedekah, mengejar pahala, dan ridha Allah. Tapi di luar itu, adakah esensi lain dari "mengapa aku harus menjalani kehidupan yang hanya perkara lahir-melihat kelahiran-hidup-melihat kematian-lalu mati ini?" Ya, mungkin usia gue masih muda jadi masih mempertanyakan hal-hal yang kayak gini hahaha untung dari gue kecil, Ayah dengan sabar dan bijaksana selalu menjawab segala pertanyaan "Kenapa" gue hahaha (walaupun ujungnya gak pernah puas dengan jawabannya wkwk) tapi semoga seiring berjalannya waktu, gue bisa mencari ilmu mengenai pertanyaan dan keingintahuan gue itu. Aamiin.

Hmmm. Mungkin ada satu hal lagi,

"Apakah setelah kiamat akan ada kehidupan baru lagi? Apakah sebelum periode kehidupan gue kali ini, ada periode hidup yang lain? Apakah kiamat hanya terjadi satu kali, atau sudah berkali-kali?"

Hehehe. Wallahu alam.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Hi, I'm Ashila Ramadhani, and welcome to my blog. Most of my previous posts were filled with my random thoughts, poems, and life-stories, but I'm trying to make this blog more meaningful :p from now on, I will fill it with my other (useful) thougts, my life-changing-experiences, my artworks, and my traveling experiences. Enjoy it!

Get Connected

  • LinkedIn
  • Facebook
  • Pinterest
  • Instagram

Categories

  • thoughts

recent posts

INSTAGRAM

@ashilaramadhani

Blog Archive

  • ▼  2025 (2)
    • ▼  July (2)
      • Tak Jadi Hujan
      • Ruang yang Tak Jadi Apa-Apa
  • ►  2024 (1)
    • ►  December (1)
  • ►  2016 (10)
    • ►  October (2)
    • ►  June (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
  • ►  2015 (21)
    • ►  December (2)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (3)
    • ►  February (2)
  • ►  2014 (3)
    • ►  December (3)
  • ►  2013 (14)
    • ►  November (2)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (2)
    • ►  March (3)
    • ►  February (3)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (5)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  February (1)
  • ►  2011 (6)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (2)

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates