• HOME
  • ABOUT
  • THOUGHTS
  • TRAVEL STORIES
  • CONTACT
Instagram LinkedIn Facebook Twitter Pinterest Tumblr

Ashila Ramadhani


Last month there was something happen to me and my cat. Yes, I bet you didn't expect that I would write about cat, because the title is so so scientific, I thought :p

Singkat cerita, bulan lalu Ayah saya memutuskan untuk membuang kucing saya, namanya Mumun, beserta ketiga anaknya ke pemukiman padat penduduk yang cukup jauh dari rumah.

Dua bulan yang lalu, Mumun melahirkan 3 anak kucing yang sebenarnya lucu-lucu. Lumayan lah untuk mainan di rumah, terutama untuk Ayah yang memang penyayang kitten. Tapi, namanya juga kitten, awalnya sih gemes ya, tapi lama kelamaan, banyak masalahnya juga karena memang belum bisa diajarkan "mapan" di usia yang masih sekitar satu bulan. Berbeda dengan induknya yang sudah mapan dalam hal buang air (iya, gak pernah di rumah, entah di mana dan kapan. Gak terdeteksi), ketiga anaknya masih belum bisa mengikuti jejak induknya tersebut.

Waktu Ayah saya WhatsApp dan mengabari bahwa Mumun sudah berhasil dibuang, ya sedih juga sih rasanya. Gimana juga namanya kucing itu lucu, gemes, dan benar-benar bisa menjadi "teman", apalagi kalau sedang sendiri di rumah. Kadang saya juga sering mengajak kucing saya berbicara, bercerita (curhat gitu deh.....), dan bercanda haha orang lain yang gak paham pasti akan berpikir bahwa saya gila hahaha

Tapi yasudah, akhirnya saya ikhlas, karena memang sebelumnya sudah cukup sering Ayah membuang kucing peliharaan bersama dengan anaknya. Namun, keesokan harinya.....tiba-tiba Mumun kembali!!! Hanya dalam waktu kurang dari satu hari dan dengan jarak yang saya rasa cukup jauh!

Sebelumnya, beberapa tahun lalu ketika saya masih SD, kucing saya bernama Ling-Ling juga pernah kembali lagi ke rumah setelah dibuang di tempat yang hampir sama. Namun waktu kembalinya sekitar 3-4 hari setelahnya. Beberapa kucing lainnya bahkan tidak bisa kembali haha lalu saya amaze, "Si Mumun cepet banget pulangnya... :')"

Awalnya saya sering berpikir bahwa Mumun ataupun Ling-Ling menggunakan beberapa alat indera-nya, seperti penciuman dan pendengaran, untuk menunjukkan jalan pulang. Namun sepertinya tidak mungkin yah jika hanya dari penciuman atau pendengaran saja karena jaraknya cukup jauh. Lalu, setelah saya mencoba Googling, waw!! Ternyata ada ilmu ilmiah yang menjelaskan hal ini!

lost cat

Mungkin sebelumnya sudah banyak yang pernah mendengar cerita tentang hewan peliharaan yang kembali lagi ke rumah setelah dibuang atau terpisah. Nah, menurut situs hubpages.com, kemampuan hewan, di sini spesifik kepada seekor kucing, untuk kembali lagi ke "rumah"nya--selain menggunakan ke lima inderanya--, disebut dengan Homing Instinct. Namun ada yang menjelaskan lagi bahwa kemampuan ini disebut dengan Psi-Trailing yang berkaitan dengan kemampuan deteksi geomagnetik yang dimiliki oleh seekor kucing, juga didasarkan pada strong emotional connection antara si kucing dengan majikannya. Namun ada lagi yang menyebutkan bahwa Psi-Trailing itu salah satu bagian dari Homing Instinct. Hahaha pusing yah.


"The ability of a cat to find its way home is called "psi-traveling." Experts think cats either use the angle of the sunlight to find their way or those cats have magnetized cells in their brains that act as compasses."

Saya amat tertarik untuk menjelajah lebih jauh mengenai kemampuan deteksi geomagnetik yang dimiliki oleh seekor kucing, dan beginilah penjelasan yang berhasil saya dapatkan:

Psi Traveling/Psi Trailing

walking red catSalah satu pakar yang menjelaskan tentang ilmu Psi-Trailing ini adalah Profesor Dr. Joseph Rhine, dari Duke University. Ketika Profesor Rhine melakukan studi, ia menemukan 54 kasus hewan yang telah melakukan perjalanan dengan jarak yang luar biasa untuk kembali kepada orang atau keluarga yang telah melekat (mungkin) di dalam hati mereka (walaupun saya tau kucing dan hewan lainnya tidak memiliki perasaan...)

Menurut Profesor Rhine, Psi-Trailing bisa didefinisikan sebagai hubungan emosional yang kuat antara hewan peliharaan dengan pemiliknya, tempat, atau pun hewan peliharaan lain. Mungkin bisa disebut dengan cinta, namun semua itu perihal "satu hubungan" (yang saya sebenarnya masih bingung hahaha) yang kuat yang membuat sang hewan peliharaan mampu menavigasi keberadaan pemiliknya. Namun, sebenanrnya hal itu masih belum sepenuhnya dipahami dan teruji kebenarannya.

Profesor Rhine menggambarkan bagaimana beberapa hewan peliharaan dapat menemukan pemilik mereka kembali ketika mereka "dibuang" ataupun "tertinggal." Terdapat sense, yang sebelumnya telah terbentuk melalui emotional connection dan ritme yang teratur antara hewan peliharaan dengan pemiliknya, yang membantu hewan tersebut menemukan "jalan pulang," melewati tempat dan wilayah yang tak pernah dilalui sebelumnya.

"Because of a special rhythm some pets share with us or another animal, when separated by distance, the pet feels an imbalance. As they get closer to the person, pet or home, the imbalance begins to stabilize." -Linda Cole

Berdasarkan quote di atas (benar atau tidaknya masih bingung sih...), hewan peliharaan, dalam hal ini kucing, memiliki suatu sense di mana jika ia terpisah dari majikannya, ia akan merasa "imbalance" (gak paham juga imbalancenya seperti apa, saya bukan kucing). Dan ketika ia sudah mendekati sang majikan, maka sense "imbalance" tersebut perlahan menjadi stabil. Waw, menarik!

Earth Magnetic's Field

Hewan memiliki kompas internal yang sensitif terhadap medan magnet bumi. Hewan peliharaan yang hilang untuk jarak pendek biasanya dapat menemukan jalan kembali ke rumah. Tapi peluang untuk menemukan rumah menjadi lebih kecil jika jaraknya semakin jauh, yaitu jika lebih dari 7,5 mil. (Wikipedia)

Para peneliti telah menemukan partikel logam magnetik kecil pada pergelangan tangan depan dan cakar belakangnya. Partikel-partikel ini hanya dapat dilihat melalui scanning electronic microscope. Para peneliti dari Natural History Museum di Stockholm juga menemukan "gelang magnet" ini pada kaki kucing dan hewan lainnya yang mampu membuatnya menemukan jalan kembali ke rumah dengan sangat mudah. Magnet mikroskopis ini membentuk gelang pada tulang mereka. MasyaAllah, benar-benar sempurna ya ketika Tuhan sudah menciptakan makhluknya :") hal-hal super detail benar-benar diperhatikan dan diselipkan untuk diberikan manfaat. Manusia mana bisa (ceramah dikit).

Nah tapi, korelasi kemampuan deteksi geomagnetik dengan "arahan pulang", yang situs ini menyebutnya dengan extrasensory perception, itu yang masih gue belum paham. "Kok bisa sih? Gimana caranya? Sensor magnet seperti apa yang ia lihat? Duuuh pingin deh nyoba jadi kucing bentarrr aja kalau gitu hahaha" 

Menurut situs itu, skill yang dimiliki kucing tersebut masih menjadi misteri, dan belum ada ilmu eksak yang benar-benar detail menjabarkan tentang hal ini. Ada pula hewan lainnya, seperti anjing, yang memiliki kemampuan Psi-Trailing ini, entah bagaimana caranya dan penjabaran prosesnya. Intinya ya, MasyaAllah, apa yang dikehendaki oleh Allah, maka itulah yang akan terjadi. Kemampuan apapun bisa diciptakan, yang kita pun masih harus banyak menelitinya lebih dalam lagi. Luar biasa ya ilmu pengetahuan di dunia ini, baik langit dan bumi. Harus benar-benar banyak bersyukur lagi setelah banyak melihat tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Q.S Al-Hasyr: 24

Source:
https://catsnco.wordpress.com
http://hubpages.com/animals/When-Cats-And-Dogs-Travel-Long-Distances-To-Get-Home-Psi-Trailing
http://pictures-of-cats.org/cats-have-psi-trailing.html
http://sonic.net/~pauline/psych.html
http://voices.yahoo.com
http://impactlab.com
http://petcentric.com
http://knowyourcat.info
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Sebagai penyuka film animasi, terutama Disney dan terlebih lagi Pixar, saya pun tidak akan melewatinya. Tapi memang, ada beberapa judul film animasi yang akhir-akhir ini memang tidak saya tonton. Saya sibuk. (sok :P)

Di bulan November lalu, dirilis salah satu film animasi baru, adaptasi dari novel terlaris sepanjang masa yang menjadi best seller selama puluhan tahun. Novel itu awalnya adalah novel karangan penulis legendaris Prancis bernama de Saint-Exupery yang berjudul Le Petit Prince, lalu kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris menjadi The Little Prince. Walaupun dikemas dalam bentuk animasi, sesungguhnya film ini lebih diperuntukkan untuk orang dewasa, melalui pesan-pesan moral yang diselipkan. Beberapa pesan moral yang disajikan di dalamnya menurut saya really touchy di benak para orang dewasa saat ini.

Awalnya, saya tidak terlalu tertarik untuk menonton ketika membaca resensinya di IMDB. Namun, setelah film tersebut secara resmi dirilis di Indonesia, cukup banyak review baik yang diberikan. Lekaslah saya Googling beberapa review dari negara-negara lainnya. Dan benar, film ini mendapat beberapa pujian dan banyak pula yg berpendapat bahwa film ini “rasa Pixar”. Yap! That's right! It's really Pixar-alike.

Mendengarnya, tertariklah saya untuk menonton, daaaaann.... sangat sangat tidak menyesal! Rasanya, setelah saya terpana dengan Toy Story 3 dan Tangled, sepertinya The Little Prince menjadi satu film animasi teranyar yang bisa merebut hati saya, baik dari jalan cerita, karakter, maupun soundtrack yang benar-benar (saya menyebutnya dengan) eargasm, Huhuhu beberapa kali sedih banget sewaktu dengar soundtracknya (lebay fix).

Sewaktu saya menonton film ini sendiri (curhat), percaya gak percaya sih, I cried for 3 times hahahaha lebay sih, tapi serius, sedih, dan dikemasnya juga sangat baik dengan soundtrack yang mendukung. Jadilah mewek 3x haha

For you who hasn't listened yet, here is the soundtrack:



Ada satu lagi, judulnya Salvation by Gabrielle Aplin, tapi gak tersedia di Playlist di atas. Ini linknya:



How is it? Ya kaaaaaann sedih nget bagus nget? Semacam orkestra gitu, menurut saya. Gimana gak nangis hemm Which I like the most is Equation by Camille :") sooo touchy huhu other one is Suis Moi, such a cheerful song.

Back to the story,

This movie could teach us so many lessons; how to become a good parents. not-so-busy parents. No matter how busy our work is, we should give so much care for our children.

Di dalam cerita itu, ada seorang Ibu yang sangat sangat disiplin terhadap anaknya agar ia bisa masuk akademi terbaik dan terfavorit di sana. Sang Ibu membuat jadwal aktivitas sehari-hari anaknya dengan sangat ketat, namun sebenarnya sang Ibu melupakan suatu hal yang penting, yaitu leisure time untuk sekedar beristirahat dan bermain seperti umumnya anak-anak. Akhirnya sang anak bertemu teman barunya, kakek tua tetangga sebelah rumah yang memiliki dongeng tentang The Little Prince (hemm, sepertinya saya tidak pandai untuk menceritakan kembali). Nah, lebih lengkapnya, bisa nonton by DVD atau download filmnya aja biar paham hehe

Intinya, bagi saya, pesan mengenai parenting yang disajikan oleh film ini sangat baik dan bisa membuat sadar juga bahwa sebagai Ibu (soon to be :P), harus bisa memperlakukan anak sesuai dengan usianya. Ambisius boleh, menginginkan anak menjadi jenius pun tidak dilarang. Namun, semuanya harus tetap pada kadarnya dan disesuaikan dengan usia serta perkembangan mentalnya. Intinya, jangan sampai sang anak malah jadi stress atau malah gila.

Saya pernah membaca sebuah cerita juga, ada seorang anak yang menjadi gila karena keambisiusan orang tuanya untuk menjadikannya seorang yang cerdas. Huhu sedih dan miris yah... Lalu saya menjadi berpikir dan teringat, pada suaktu waktu saya pernah berkeinginan untuk menjadi Ibu yang disiplin dan menjadikan anak saya anak yang pintar, detail, dan aktif. Saya berniat untuk memberikan les yang beraneka rupa untuk anak saya kelak, seperti piano dan renang (karena saya tidak bisa bermain piano dan berenang haha), mengaji, bahasa asing, lukis, kumon, dsb (Ibu-Ibu egois dan ambisius yah, Astaghfirullah hahaha). Tapi ternyata, gak bagus juga ya. Alhamdulillah saya menonton film ini sebelum saya menikah dan memiliki anak. Kalau tidak, bisa gila anak saya hahaha

Sebenarnya ada banyak pelajaran lain (lebih ke pemerintahan sih menurut saya) yang disiratkan oleh sang Little Prince di dalam film tersebut. Tapi sepertinya, pesan dari sang Little Prince itu sudah banyak yang menjabarkannya. Jadi sesungguhnya, pengemasan dongeng Little Prince-nya itu ada di dalam sebuah cerita Ibu dan anak yang saya ceritakan di atas. Jadi film Little Prince adaptasi ini sebenarnya adalah "cerita di dalam cerita." Ngerti gak? Hahaha. Ya begitulah. Yang penting pesannya sangat baik dan Alhamdulillah bermanfaat.

Saya harus jadi lebih baik.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Kesempatan tidak datang dua kali, katanya. Sering gak sih kalian merasa menyesal karena tidak mengambil kesempatan besar di depan mata, padahal, menurut kalian, kalian berpeluang dan berpotensi untuk mendapatkannya? Pasti pernah, saya rasa. Begitu pun saya.

Seringkali saya melewatkan banyak hal, yang padahal sudah “dadah-dadah” dengan sangat manis di depan pelupuk mata saya. Namun entah setan apa yang memengaruhi, akhirnya saya pun melewati berbagai kesempatan tersebut. Padahal saya yakin saya memiliki ability dan availability untuk turut serta maupun berkompetisi, walau saya juga tidak bisa memastikan hasil akhirnya. Setidaknya optimis dan berani mencoba.

Mencoba lebih baik daripada tidak sama sekali. Dan, gagal ketika sudah mencoba akan jauh lebih baik daripada gagal tanpa pernah memulainya. Rasa menyesalnya pun, percayalah, akan sangat sangat sangaaattt lebih besar ketika kita gagal karena tidak mencoba! Setidaknya, ketika kita sudah mencoba, akan banyak input baru yang bisa didapat. Bisa introspeksi, bisa perbaikan diri, menambah pengalaman, dan sebagainya.


Melalui tulisan ini, saya berjanji kepada diri  sendiri, saya tidak akan lagi overthinking. Jika ada kesempatan, harus saya coba entah apa pun hasilnya dan bagaimana pun keadaannya nanti. Harus, harus, harus! Hemm. Juga, mencoba berpikir simple dan tidak memikirkan terlalu jauh hal-hal yang sebenarnya belum waktunya dipikirkan. Dari evaluasi yang saya jalani, keengganan mengambil kesempatan itu biasanya karena saya terlalu memperrumit keadaan juga pikiran. Jadilah terlalu banyak pertimbangan dan akhirnya berakhir penyesalan haha dan itu guilty banget sih rasanya, saya sudah merasakannya beberapa kali.

Tapi, Bismillah, semoga masih banyak kesempatan-kesempatan baik lainnya di depan sana. Saya harus jadi lebih baik.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Dia tidak pernah memintamu untuk hadir membawa diri, menjadi teman di keheningan hari

Dia tidak pernah memintamu untuk selalu di sisi, menerjang sepi yang seringkali menghampiri

Dia tidak pernah memintamu untuk menanti, perjalanan panjang yang akan dilalui

Dan...... tak pernah pula dia memintamu pergi, mengibas rindu yang seolah telah mati

Dunia memang tak hentinya menghadirkan pentas-pentas yang tak pernah hakiki.

Dalam sepi.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Akhir-akhir ini, saya sepertinya memiliki kegemaran baru, yaitu membaca.
Agak aneh, karena sebelumnya saya tidak terlalu gemar membaca. Mungkin ada satu alasan yang mendasarinya. Tapi saya juga tidak bisa menyimpulkan hal itu menjadi satu-satunya alasan :P

Sedari kecil, saya terbiasa 'dicekoki' dengan buku bacaan penuh gambar sedikit tulisan. Mungkin karena Ayah saya seorang pelukis, jadi lah kami, anak-anaknya, secara tidak sengaja digiring ke hal-hal yang berbau visual.

Hingga saya SMP, saya masih berkutat dengan buku bacaan senada. Namun beranjak SMA dan berkuliah, sepertinya buku bacaan dengan jenis seperti itu sudah tidak cocok lagi. Amat jarang pula buku bacaan untuk remaja yang didesain dengan penuh gambar dan warna. Mentok-mentok paling komik seperti Benny&Mice, atau pun buku resep memasak hahaha kebanyakan yang ditawarkan adalah novel yang ditulis di atas kertas polos dengan penuh kalimat dan kata, serta berlembar2 tebalnya. Bagi anak visual seperti saya, itu membosankan. Jadilah saya tumbuh dewasa menjadi seseorang yang kurang minat membaca bacaan panjang dan lebih suka diceritakan hehehe

Kurangnya minat membaca bukan berarti saya tidak pernah membaca. Bukan novel, saya lebih tertarik untuk membaca artikel berita online, koran, ataupun majalah. Apalagi jika topiknya saya suka; pariwisata, tata surya, komunikasi&brand; aviation, kuliner, lifestyle, inovasi, film, kehiduan sosial, atau biografi tokoh yang bisa menginspirasi karir dan kehidupan haha pasti saya baca :P

Akan tetapiiiii, dalam beberapa bulan ini (saya sebenarnya juga bingung apa yang sebenarnya mendasari), saya jadi suka membaca novel dan buku sejenis! Malah, satu novel pernah saya habiskan hanya dalam beberapa jam saja. Itu termasuk satu pencapaian bagi saya, karena biasanya saya menghabiskan satu buah novel dalam waktu 1 bulan hahahaha

Setelah satu novel yang sukses saya baca dalam beberapa jam itu, saya pun memulai untuk membaca buku-buku lainnya. Saat ini saya sedang membaca buku ke tiga dalam bulan ini; Jalan Cinta Para Pejuang karya Ustadz muda Salim A. Fillah. Mengapa saya baca? Menurut resensi dan referensi orang lain yang saya temukan sih, beliau termasuk salah satu penulis muda yang berbakat. Nah, pas saya coba baca, memang gaya tulisan dan bertuturnya sepertinya pas dengan diri saya. Ayah saya pun ternyata juga menyukai gaya tulisan beliau. Telat yah saya baru tau :P

Kegemaran baru ini juga tiba-tiba mengingatkan saya pada salah satu dosen yang pernah berkata bahwa "bacalah buku sebanyak-banyaknya, buku itu gudangnya ilmu, baca buku apa pun, karena gak ada yang sia-sia." Jadilah saya semakin terdorong untuk mulai terus membaca, membaca, dan membaca. Ditambah lagi, salah satu kutipan dari Gurutta, dalam Novel Rindu, Tere Liye, kira-kira seperti ini:

"Jika kau ingin menulis satu paragraf yang baik kau harus membaca satu buku. Maka jika di dalam tulisan itu ada beratus-ratus paragraf, sebanyak itulah buku yang harus kau baca."

Naaah, karena saya memang bisa dibilang suka menulis, setelah membaca kata-kata itu, saya semakin semangat untuk membaca untuk memperbaiki tulisan-tulisan saya hahaha

Doa dan harapan saya sih satu, semoga saya istiqamah dan bukan hanya kegemaran sesaat hahaha mari berucap Aamiin

Saya tau mungkin saya memang terlambat. Ketika di luar sana banyak orang seusia saya sudah berkutat dengan bacaan yang super-berat dan sudah memiliki ilmu yang luas karena membaca, namun, saya yakin tidak ada kata terlambat untuk merubah diri menjadi lebih baik. Semoga yang saya niatkan ini bisa membuat saya menjadi wanita yang lebih baik. Pinginnya sih wanita cool dan cerdas hahaha Aamiin

-AR-

Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
photo source: theverge.com

The movie is great!

This space sci-fi movie "The Martian," is based on Andy Weir's book of the same name, and tells the story of an astronaut, Mark Watney, who is accidentally left behind on Mars and must struggle to survive. After two weeks from the released date, The Martian topped the box office in the U.S. and Canada as LA Times reported on Oct 11th, 2015. In other side, BBC News also reported the same thing; it flies high in the U.K film chart and became the top film at U.K box office for a second week. 

Besides Watney as the lead character, The Martian also highlights two women of "the female lead." The first is Jessica Chastain as Commander Lewis. She's a hard ass, respected leader of the crew with some big decisions to make and facts to face. And the second is Kristen Wiig as Annie Montrose, Head of Public Relations for NASA, who becomes spokeswoman for NASA to convey any news to media, esp. for this case. Well, they have a big role because their decision can influence other and make a great effect of the storyline itself.

However, I won't write any review here. And now coming to the point I am trying to share my little thoughts and opinion about one thing I could catch; a basic PR knowledge which PR person can learn from. (Maybe it's just me who can realize it, or is there anyone outside who can realize it too? Idk.)

So, here we go!

As a PR student and been being a PR Officer (although I'm just a beginner), whether I realize it or not, my sense of PR is increasing strongly and it makes such an incisive-sight for things related to PR. (Yeah I hope so :P)

At first I watched this movie, I was just excited because this movie tells about space sci-fi which is my interest since I was kid. So, just in a short time, this movie successfully got my attention after Gravity in 2013 and Interstellar in 2014. After minutes enjoying this movie, I just thought that it reveals viewer (who realize it) about PR work, especially its role in a big, influential, and well-reputed organization like NASA.

NASA encounters a crisis when it gets news about Mark Watney who is presumed dead on Mars and is then abandoned by his crew following a violent storm there. The public and media become so critical and curious. Many questions asked, and the news-flow couldn't be well-monitored. It's when a PR person takes their role to be a "vanguard" of the organization, NASA.

In this case, Annie Montrose, NASA's PR representative, plays her roles well, as I thought. She knows how to communicate with media effectively. She knows how to put herself right with confidence character. She also assists with the overwhelming amount of international PR crisis they are facing. Annie is charged to rallying public support for the rescue mission of Watney while everyone's refusing-because it's only for one man-. And yes, shaping public opinion and support is kinda hard, but she succeeded.

Here I can sum up some of her roles and what we can learn from as a PR person, especially in a part of crisis management:

1. Create a proper key-message

Public support takes big part to the rescue mission of Watney, and we can build it with a proper key-message through media, as media is influential channel to create public opinion. It's important to create a proper message when it comes to crisis management. A key message which fitted and met mutual-interest and mutual-benefit between public, media, and organization could control the news flow. NASA should've gotten a bad image after that incident, but, with an openness filled by proper key-message, then they could manage it effectively.

The message delivered also should be in-line at all aspects; press release, press conference, and even BoD's speech like what I will explain in number 3. Maybe this's why Annie always prepared and guided NASA's Director's speech right before they hold press conference.

What we can learn: a key message can control a biased news and build support, so before addressing the media, think about key points we want to convey.

2. Being open to the media

What was happening in NASA is a big news and got a huge public attention. Maybe we can mention it as a crisis. Well, crisis are by definition newsworthy, and members of the media will attempt to generate as much information as possible about the story (Stoldt, 2012). So, I think it can be a big disaster and impair company's image, or it can be a benefit for the company. What we will get after it, both positive or negative impact, is determined from how we manage the crisis itself.

Thing we can catch from Annie Montrose in this film is, being open to media is one of PR's fortes that we should apply. In this film, NASA, together with Annie, holds "hourly press conference" to show up the progress; from the first time Witney was left behind and then they know that Witney is still alive, later a time they can start communicating with Witney, and finally about the rescue until it is successful. NASA, which has already had credibility in the public's eyes, tries not to hide all updated news deserve to be published. And my lecturer ever said, being open is one of things which public wants, especially when crisis comes.

What we can learn: do not hide any updated news about progress in a crisis if we don't want miscommunication happens between company and its public. Because at that time, public tends to be more active and curious.

3. Keep calm when it goes to press conference

Press reporters in this movie still don't get the concept of asking question one by one. They all jump up in mass hysteria and shout. I think it's because NASA is one of an influential enterprise there. So, if we are holding a press conference things can get crazy. But we can handle it with a composure and answer it clearly.

In this case, Annie Montrose had already prepared Teddy Sanders (played by Jeff Daniels), as NASA's Chief Director, to deal with the press reporters. She asked Sanders to maintain his answers and be able to clearly and concisely get across the company's key message without sounding forced or artificial.

What we can learn: be prepared; think about all questions we could be asked and develop an answer for them before the interview. Keep a kindness, straight to the message we've planned, have an understanding of a journalist's role, and know how communicate with them effectively.

4. Create a good PR Writing (good photojournalism)

In one scene, I can see that Annie's taking a concern about press release will be delivered to media and public. NASA asked Witney to take photo in Mars to be published in media. Witney then took a photo of himself with a "funny" style, and Annie complained it right after she got that picture. From that scene above we can learn that a good photojournalism is one of important things in the making of PR news. It can build a news-value itself.

"As PR, we should have ability to capture a moment which can tell public a 'story'," as my lecturer said. Darmastuti (2012) also said, PR function essentially is as a journalist and report objectively any news from organization to the public. So, in this case, we should have ability, not only to create a truthful news, but also choose a proper photo to be published, and still, it should be aligned with a key-message and also journalism ethics applied about photography.

"Because a picture worth a thousand words."

5. Keep your calm and composure

And the last but not least, a cool thing that I can catch from is, keep yourself calm and cool! Well, as I learned before, in a difficult situation, a PR person has to keep their composure and not lose focus. Because the company will painted with a bad reputation if a PR, as spokesperson, responds negatively to any disruption or question. There's a saying:

"Many times crisis results when composure is missing"

(Quoted from Forbes)

And don't forget to keep a good demeanor!

***

And finally, what I can conclude here is, the film is great (Esp. Annie's acting in this movie) and PR person is cool *so proud* :P What happen in NASA can teach us how to put ourselves right. But beyond that, I don't think that this may be takes away from the great work of scientist like Rich Purnell (played by Donald Glover-one of character I like in this movie-) and Mindy Park (played by Mackenzie Davis). I just think that PR person, Annie, deserves her fair share of praise. Her roles is critical. We can see that PR is also influential in supporting the rescue mission of Witney.

And last, welcome back Witney!
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Catatan kecil, 7 Juli 2015.

________________________________

Hidup memang tak pernah lepas dari segala keuinikannya, naik-turun serta berputar, yang membuat hidup itu sendiri menjadi sangat beragam warna.

________________________________

Beberapa bulan terakhir saya seringkali memperhatikan jalanan pulang yang setiap hari saya lalui. Saya menemukan bahwa ada banyak--mungkin lebih dari sepuluh--pemulung, baik seorang diri maupun bersama keluarga, di sepanjang jalan Margonda Raya, Depok. Mereka semua benar-benar terlihat kompak, dengan atribut karung yang saya tidak tahu apa saja isinya, serta tikar beragam jenis dan warna yang sudah tergelar rapih (yang barangkali) untuk menemani mereka tidur. Jarak antara satu pemulung dengan yang lainnya pun tidak berjauhan, kira-kira hanya sekitar 5-10 meter. Depok di malam hari pun berubah menjadi pertunjukan kehidupan yang dramatis.

Dari banyaknya pemulung yang saya temui itu, beragam aktivitas dapat terekam. Ada yang sudah terlelap tidur, ada yang sedang bersenda gurau dengan keluarga, ada yang sedang menyusui anaknya, dan ada pula yang sedang lahap menikmati makan malamnya. Dari yang saya lihat, semua terlihat bahagia, di luar dari keadaan pelik yang setiap hari mereka rasakan.

Masih di lokasi yang sama, perhatian saya tertuju pada dua buah keluarga yang setiap malam selalu mengisi tempat itu, tidak pernah absen. Dua buah keluarga berbeda dengan tempat yang sedikit berjauhan, namun mereka selalu memancarkan keceriaan dan kehangatan yang sama.

Keluarga pertama berada di trotoar setelah perumahan elite Pesona Khayangan. Mereka berjumlah empat orang; satu bapak, satu ibu, dan dua orang anak laki-laki dan perempuan yang masih berusia balita dan anak-anak. Setiap malam ketika saya sedang melewati jalan itu, mereka hampir selalu sedang melakukan aktivitas yang sama, yaitu berbincang hangat dengan senyuman ringan yang selalu menyelimutinya. Mereka terlihat bahagia, seperti tak memimiliki beban yang harus dipikul. Padahal setiap malam mereka harus merasakan ketidaknyamanan tidur di pinggir jalan--Itu pun menurut opini saya yang memang belum pernah merasakannya--.

Tak jauh berbeda dengan keluarga ke dua. Ditemani dengan gerobak mungil dan alas tikar yang seadanya, keluarga itu terlihat santai menikmati malam sambil mengobrol dan bercanda dengan anggota keluarga sambil menyimpulkan senyuman. Terlihat hangat, juga menentramkan hati. Entah apa yang mereka bicarakan. Yang hanya saya tahu, mereka terlihat bahagia dan menikmati setiap detik waktunya :") tak ada kemewahan, apalagi gadget. Sungguh berbeda pemandangannya dengan realitas ibu kota di sudut yang lain.

________________________

Di sepanjang perjalanan saya pulang, memang banyak sekali pemandangan realita kehidupan ibu kota yang dapat ditemui. Rute yang cukup jauh dan menggunakan berbagai moda transportasi, mengharuskan saya untuk memperhatikan itu semua. Sebenarnya bisa banyak sekali pelajaran yang bisa diambil, salah satunya yang ingin saya tekankan di tulisan ini yaitu bersyukur.

Sudahkah saya bersyukur?

Ada yang pernah bercerita kepada saya bahwa sebenarnya hidup yang sedang kita jalani hari ini, adalah hidup yang sedang diidamkan oleh orang lain di dalam do'a-nya. Namun ternyata masih banyak orang yang selalu mengeluh dan merasa kurang dengan apa yang telah mereka dapatkan. Saya memahami memang tingkat kecukupan seseorang bersifat relatif. Akan tetapi, bersediakah kita merenung sejenak untuk mengingat dan mensyukuri setiap detik rizki yang telah Allah berikan kepada kita dan keluarga sampai saat ini?

Let's do self-talk!
Hemm. Saya boleh merasa kurang. Namun ketika orang lain ada di posisi saya saat ini, mungkin mereka bisa jadi merasa sangat-sangat bersyukur, karena memang 'yang begini' cerita hodup yang sedang mereka dambakan. Hem. Jadi sedih sendiri karena masih sering merasa kurang dengan apa yang sudah didapat. Padahal sebenarnya, seharusnya jiwa saya mendorong pikiran dan hati saya untuk selalj merasa cukup dengan apa yang sudah saya miliki saat ini. Masalah hidup yang lebih baik lagi, hanya tinggal perihal usaha yang dilakukan dan do'a yang dipanjatkan. Jika memang bersungguh-sungguh dan Allah mengijabah, hal itu pun akan mengiringinya. Ya, tho?

Yang penting adalah....... "Sudahkan kita  (dan saya) bersyukur?"

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Hidup itu pilihan.
Pilihan itu ada untuk menggiring kita ke arah hidup yang (mungkin) lebih baik.
Dan satu hal yang penting, memilih itu adalah hak asasi setiap manusia.

Jadi,

Apa ada yang salah dari memilih untuk meninggalkan?
Apa ada yang salah dari mencari hal yang lebih baik?

Sudah menjadi hak dan hakikat setiap manusia untuk selalu berusaha menjadikan hidup lebih berkualitas, dengan menemukan hal-hal yang lebih baik di setiap bidang kehidupan.
Jadi, apa ada yang salah dari meninggalkan hal yang baik untuk hal yang lebih baik? Toh manusia adalah makhluk egois, ya tho?

Sepertinya tidak salah. Wong tujuannya baik kan. Hehehe. Memangnya salah ya, meninggalkan pekerjaan lama untuk meniti karier yang lebih baik di pekerjaan yang baru? Kan tidak. Hem. Analoginya mungkin seperti itu.

Entahlah. Terkadang saya merasa amat sangat bingung, mungkin kadang muak, dengan aturan tak tertulis yang diberlakukan di kehidupan manusia.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Hi, I'm Ashila Ramadhani, and welcome to my blog. Most of my previous posts were filled with my random thoughts, poems, and life-stories, but I'm trying to make this blog more meaningful :p from now on, I will fill it with my other (useful) thougts, my life-changing-experiences, my artworks, and my traveling experiences. Enjoy it!

Get Connected

  • LinkedIn
  • Facebook
  • Pinterest
  • Instagram

Categories

  • thoughts

recent posts

INSTAGRAM

@ashilaramadhani

Blog Archive

  • ▼  2025 (2)
    • ▼  July (2)
      • Tak Jadi Hujan
      • Ruang yang Tak Jadi Apa-Apa
  • ►  2024 (1)
    • ►  December (1)
  • ►  2016 (10)
    • ►  October (2)
    • ►  June (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
  • ►  2015 (21)
    • ►  December (2)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (1)
    • ►  June (3)
    • ►  May (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (3)
    • ►  February (2)
  • ►  2014 (3)
    • ►  December (3)
  • ►  2013 (14)
    • ►  November (2)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (2)
    • ►  March (3)
    • ►  February (3)
    • ►  January (2)
  • ►  2012 (5)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  September (2)
    • ►  February (1)
  • ►  2011 (6)
    • ►  December (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (2)

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates